UNTUNG ada Warung Pojok. Setidaknya, bisa kumpul setelah salat tarawih. Para pelanggannya pun bisa bertemu. Bisa bercerita lagi. Cerita yang di siang harinya tidak sempat.
Apping, pemilik warung sejak hari pertama puasa sudah menyiapkan pisang goreng. Disimpan di meja, pelanggan yang berminat tinggal menjumput.
Tapi tidak gratis wal. Satu biji sanggar harganya Rp 5 ribu.
Kemarin malam itu ada Awi, anak muda Berau pemandu tamu luar negeri untuk mencari spot memancing.
Saya sudah kenal sejak dulu. Sudah ratusan wisatawan yang hobi memancing sungai maupun di laut. Minggu ini aku ada tamu lima orang, mancing di laut, kata Awi.
Lima tahun lalu, kami sudah sering berbincang tentang spot memancing di Sungai Segah dan Kelay.
Spot mancing di Kampung Siduung dan di anak Sungai Kelay, paling disukai para pemancing asal Thailand dan Malaysia. Mereka memancing ramah lingkungan Daeng, ungkapnya waktu itu.
Semalam di Warung Pojok, dia hanya bicara sekilas soal urusan menemani tamunya memancing. Termasuk membahas sekilas soal sertifikasi para guide.
Sertifikasi itu penting, tapi harus juga ada aturan yang jelas. Soalnya Daeng, ngurus sertifikasi itu keluar ongkos juga, tambahnya.
Dari Awi inilah, memberikan kabar salah seorang tokoh Tionghoa Berau meninggal dunia di Balikpapan. Pak Ayit meninggal di Balikpapan Daeng, kata Awi.
Dia tahu saya dengan almarhum Ayit itu sahabat sejak lama. Seperti dekatnya kami dengan Pak Zuliansyah, pensiunan Kabag Hukum Pemkab.
Ayit itu yang punya tempat pencucian kendaraan di depan SD 007 di Jalan APT Pranoto. Saya sering kunjungi tempatnya.
Ada yang khas dari Ayit sejak dulu. Tak pernah ketinggalan minyak angin cap kapak botol kecil di tangannya. Daeng, kekayaan kita hanya satu yakni sehat, begitu selalu pesan Ayit saat bertemu.
Ayit dan tiga orang saudaranya, termasuk tokoh warga Tionghoa yang sudah lama berdomisili di Berau. Rumahnya di tepian Sungai Segah, dekat Warung Aceh, sudah lama tertutup tidak dihuni.
Bukan hanya sebagai tokoh yang sudah ada sejak lama. Barang-barang yang ada di tokonya tetap dipertahankan, walau barang-barang itu sudah ditinggal konsumennya. Di rumah Ayit masih bisa kita dapat petromax, lengkap dengan sumbu, kata Awi.
Saya tahu soal jenis barang dagangan yang termasuk jadul. Seperti baju kaos kutang merek angsa alias swan, dan beberapa pakaian dengan merek yang tidak diproduksi lagi.
Bagi saya, ada kenangan dengan Ayit. Di meja di tokonya dulu, tersimpan rapi foto-foto Tanjung Redeb tempo dulu. Terutama foto-foto sekitar tepian dan aktivitas pasar batu. Pasar batu itu dalam kawasan Jalan Niaga.
Selain Ayit, kata Awi di Berau ini ada beberapa toko yang masih setia menyimpan barang-barang lamanya dan masih terpajang di lemari.
Ada toko yang berdekatan dengan Tianfekong. Itu juga termasuk tokoh dan toko yang lama berdiri.
Di tepian ada dua tempat. Satu di ujung yang jualan kaca, toko milik almarhum Akai saudara Ayit yang meninggal beberapa bulan lalu.
Serta satu lagi toko yang masih setia menjual asesori langka, yakni toko milik ketok di Jalan Ahmad Yani, tepian.
Mereka ini tokoh yang perlu diberi penghargaan sebagai warga Berau yang setia. Seperti ketokohan Oetomo Lianto dan sejumlah nama warga Tionghoa. Mereka tetap setia, walau sebetulnya nyaris hengkang dari Indonesia.
Beruntung tidak datang kapal penjemput, kata Oetomo alias Aliang. Ada tiga kelompok pendahulunya, kini bermukim di Hongkong dan di Tiongkok.
Ada juga yang pindah ke Amerika. Mereka sebelumnya adalah warga Berau. Nda tahu lagi, andai saja kapal datang menjemput, kata Aliang sambil ketawa lebar. (sam)
@daengsikra.id