INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau yang tersebar di seluruh wilayah NKRI yang membentang hingga 1.910.931 km2 luasan wilayahnya.
Berbicara tentang kekayaan dan mega-keanekaragaman hayati, Indonesia adalah yang terbesar spesies tanamantingkat tinggi, buah-buahan tropis eksotis, vertebrata dan invertebrata termasuk di dalamnya serangga.
Contoh sederhana adalah keanekaragam bunga di Indonesia yang ternyata telah mewakili 10 persen keragaman tanaman berbunga dunia, diperkirakan dari 25.000 spesies dunia, sekitar 55persen adalah asli Indonesia.
Untuk keanekaragaman fauna Indonesia memiliki 12 persen mamalia dunia (sekitar 515 spesies), 16 persenreptile dunia (781 spesies) dan 35 spesies primata.
Selanjutnya 17persen burung dunia (sekitar 1.592 spesies) dan 270 spesies amphibi hidup ada di temukan di Indonesia. Keanekaragaman spesies yang tinggi ini merupakan hasil dari sejarah geologi dan evolusi yang unik yang dikombinasikan dengan berbagai habitat yang terkait dengan lebih dari 17.000 pulau besar kecil.
Pada awal Pebruari 2025 yaitu dimulai dari tanggal 3 Pebruari 2025 sampai 13 Pebruari 2025 bersama tim peneliti dari Universitas Bengkulu, Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Berau telah melaksanakaan eksplorasi Kutu Putih di kawasan pesisir Kabupaten Berau.
Mulai dari Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Maratua untuk wilayah pesisir utara hingga Budukbiduk, Batuputih, Talisayan, Tabalar untuk wilayah pesisir selatan.
Selama 10 hari di lapangan, cukup banyak dan beragam spesies kutu putih yang di temukan. Beberapa pulau-pulau terluar yang menjadi obyek eksplorasi yaitu Pulau Rabu-Rabu, Pulau Panjang, Pulau Derawan, Pulau Semama, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban dan Pulau Maratua.
Di pesisir Selatan mulai dari Bidukbiduk, Batu Putih, Talisayan, Biatan, Tabalar dan sebagian wilayah tepi sungai Sambaliung. Walaupun belum selesai laporan akhir hasil eksplorasi namun tidak menutup kemungkinan akan ada jenis dan spesies baru endemic asli pesisir Kabupaten Berau.
Tim eksplorasi di pimpin oleh Prof. Agustin Zarkani, S.P.,M.Si.,Ph.D (Pakar Proteksi Tanaman Univ Bengkulu) dengan anggota Yahumri, S.P.,M.Ling (Peneliti Tanaman Pangan BRIN); Rosfiansyah, S.P.,M.P.,Ph.D (Peneliti Pertanian Universitas Mulawarman) dan Dr. Ir. La Ode Ilyas, M.Si (Peneliti Agroteknologi Stiper Berau); dibantu tenaga teknis lapangan Habib Al Ayubi (Universitas Bengkulu), Noval Riza Muzaki (Universitas Mulawarman), Rudi dan Novalia (Stiper Berau).
Sebagai obyek penelitian, kutu putih atau di dalam dunia pendidikan masyarakat entomologist di kenal dengan sebutan mealybug (Hemiptera : Coccomorpha : Pseudococcidae) yaitu salah satu kelompok dari keluarga kutu sisik (scale insect) yang keberadaannya sangat penting di dalam ekosistem pertanian dengan peran dominannya sebagai hama tanaman berkayu maupun herba di seluruh dunia.
Keluarga atau family kutu putih adalah Pseudococcidae dan ini merupakan family dari sub ordo Coccoidea yang jumlah spesiesnya terbanyak kedua setelah Diasoididae.
Family ini mencakup banyak spesies polifag yang merupakan serangga penyerang tanaman di banyak wilayah geografis baru dan berpotensi menjadi hama penting di berbagai sistem petanaman.
Hingga saat ini dua sub family yang tersebar dalam 256 genera dan 2.032 spesies telah di deskripsikan dalam family Pseudococcidae. Di antara genera tersebut terdapat Pseudococcidae Westwood, Paraputo Laing, dan banyak spesies lainnya.
Cara kerja merusak dari kutu putih adalah menghisap cairan sel yang menyerang semua bagian tanaman yang lunak maupun keras dan menyebabkan klorosis, stagnasi pertumbuhan, pengeringan polong, ranting dan cabang dan bahkan seluruh tanaman saat kondisi serangan yang berat.
Namun sebagian kutu putih dapat menghasilkan embun madu (honeydew) yang merupakan substrat tempat pengembangan jamur jelaga, di mana dapat mempengaruhi fotosintesis, dan menyebabkan kerusakan tanaman lebih cepat. Spesies kutu putih juga berpotensi menularkan beberapa virus tanaman.
Banyak spesies kutu putih bersifat polifag dan dapat menyerang lebih dari seratus jenis tanaman inang yang berbeda, tetapi ada juga beberapa diantaranya bersifat oligofagus dan bahkan monofagus.
Sampai saat ini kutu putih di Indonesia tercatat di akhir tahun 2022 sebanyak 109 spesies yang tersebar dalam 31 genera. Juga terdapat 35 spesies dari kutu putih yang merupakan spesies endemik atau hanya terdapat di Indonesia.
Tidak menutup kemungkinan jumlah spesies yang di temukan akan terus bertambah dengan adanya eksplorasi yang intens seperti yang kini lagi dilaksanakan di pesisir utara dan pesisir selatan kabupaten Berau.
Dalam perjalanan eksplorasi, ada beberapa hal menarik diluar tema kutu putih terkait dengan fenomena yang ditemukan di lapangan. Bukan hanya pesona keindahan alam serta kekayaan budaya Berau, tapi juga beberapa keunikan yang di temui saat berada di Kabupaten Berau.
Beberapa realita tersebut mengundang keingin tahuan dari tim peneliti baik dari Ketua Tim sendiri maupun dari peneliti BRIN.
Ke depannya berencana akan melakukan riset kembali tentunya dengan topik yang berbeda.
Beberapa hal yang akan menjadi catatan untuk riset selanjutnya adalah Peta penyebaran beserta kearifan lokal suku Bajau yang berdiam di pesisir pantai kabupaten Berau (Riset Budaya), Insting dan feeling TUKIK (bayi penyu) yang selalu bergerak /berjalan mengarah ke pantai (riset Iptek), Danau 2 rasa Labuan Cermin - Biduk Biduk (Riset Iptek), Danau ubur ubur tidak beracun di Pulau Kakaban (riset Iptek)dan Permandian Air Panas air asin PEMAPAK Biatan (Riset Iptek).
Perjalanan riset dan eksplorasi diakhiri dengan kuliah umum “STADIUM GENERAL” di kampus biru Stiper Berau dengan tema “Interaksi Tritropik hubungan spesial tanaman, hama, dan musuh alami serta peluang dan kolaborasi riset pada BRIN".
Stadium General dihadiri Unsur Pengurus Stiper Berau, dosen dan tenaga Kependidikan serta lembaga kemahasiswaan di antaranya BEM, HIMAGRO, HIMAGRI, BPM, MAPALA, Ikatan Alumni Stiper Berau dan perwakilan mahasiswa lintas angkatan. Dr. Ir. La Ode Ilyas, M.Si.
Wakil Ketua 1 Stiper Berau dalam sambutannya mengharapkan adanya pelibatan Stiper untuk riset riset selanjutnya jika dilakukan kembali di Kabupaten Berau. Juga pendampingan dan riset bersama guna membiasakan unsur akademisi Stiper dalam menyambut serta memikul tanggungjawab dalam memajukan dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan Berau pada khususnya.(arp)
Editor : Nurismi