TANJUNG REDEB – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Berau, mengusulkan tiga kampung untuk dijadikan sentra penangkaran benih jagung.
Ketiga kampung tersebut adalah Kampung Tunggal Bumi, Purna Sari Jaya, dan Dumaring, Kecamatan Talisayan.
Petugas Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) DTPHP Berau, Bambang Sujatmiko, menyampaikan hal itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Berau.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengusulkan kampung sebagai sentra penangkaran benih jagung.
Dijelaskannya, proses pendataan calon petani dan calon lokasi (CPCL) telah dilakukan bersama para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
“Kami telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Ketiga kampung ini dipilih karena memiliki lahan yang terisolasi serta dukungan penuh dari pemerintah kampung dan masyarakat setempat,” ujarnya.
Dukungan ini menjadi faktor yang cukup krusial dalam keberhasilan program penangkaran benih.
Nantinya, DTPHP akan mendaftarkan para kelompok petani penangkar tersebut melalui Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH (BPSBTPH), yang akan memberikan pengawasan intensif selama dua hingga tiga kali musim tanam.
Pengawasan ketat ini bertujuan untuk memastikan benih jagung yang dihasilkan memenuhi standar kualitas tinggi sebelum didaftarkan dan diuji di laboratorium.
Dengan memenuhi standar tersebut, benih jagung dapat dijual dengan harga lebih tinggi.
“Kalau jagung biasa dihargai Rp 5.000 per kilogram (kg), jagung benih bisa mencapai Rp 15.000 per kg," sebutnya.
Ini tentu menjadi kabar baik bagi petani karena bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar.
Selain itu, jika pemerintah daerah melakukan pengadaan benih, ada kemungkinan benih lokal ini yang diprioritaskan.
Salah satu kampung yang sudah mulai berproduksi adalah Kampung Purna Sari Jaya, Talisayan. Pada Januari lalu, kampung ini berhasil memproduksi 1,7 ton benih jagung berlabel kuning dengan menggunakan dana kampung.
Hasil produksi ini dimanfaatkan untuk program penanaman jagung serentak di lahan eks perusahaan sawit di Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur, yang digarap oleh beberapa pihak secara kolaboratif.
Namun, meski sudah memiliki pengalaman produksi, Kampung Purna Sari Jaya masih dalam tahap persiapan untuk menjadi sentra penangkaran benih jagung.
Pum dibebernya, pemerintah kampung sedang menyiapkan lahan khusus seluas 20-25 hektare sebagai lokasi penangkaran.
Salah satu syarat utamanya adalah jarak tanam minimal 200 meter dari jagung biasa, atau memastikan perbedaan usia tanaman jagung di lahan lain.
Yakni, sekitar tiga minggu untuk menghindari pencampuran saat proses pembungaan.
Terlebih alokasi dana kampung mewajibkan 20 persen anggaran digunakan untuk ketahanan pangan.
Pihaknya sangat menyambut baik apabila ada inisiatif pemerintah kampung yang serius mengalikasikan dana kampung untuk peningkatan produksi dan ketahanan pangan.
“Termasuk melalui pelatihan, pengadaan benih, pupuk, dan berbagai kegiatan bimtek untuk meningkatkan sumber daya manusia,” sambungnya.
“Kemandirian pangan adalah kunci. Jika kita bisa memproduksi benih sendiri dengan kualitas yang baik, ini akan menjadi langkah besar dalam mewujudkan ketahanan pangan yang lebih kuat di Berau,” pungkasnya. (*/aja/hmd)
Editor : Nurismi