“Pesawatnya terbang langsungkah dari Makassar daeng,” itu kata emak-emak di belakang rumah yang jualan sayur siap santap.
Asalnya dari Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sudah lama di Berau. Kebunnya luas di Limunjan.
Saya hanya bisa tersenyum mendengar ucapan emak-emak itu. Dalam benak, bisa saja dia salah seorang dari sekian banyak warga Berau asal Sulawesi Selatan yang mendambakan adanya penerbangan langsung dari Kalimarau ke bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
“Kalau ada terbang langsung dan murah tiketnya, bisa sebulan sekali pulang kampung,” katanya lagi.
Apa yang diucapkannya itu sama dengan yang ada dalam pemikiran saya. Entah pertimbangan apa, hingga saat ini belum dibuka jalur itu. Sementara jalur ke Jogjakarta pun mengalami penghentian sementara.
Mungkin karena sepekan tidak ke tempat jualannya, tetangga saya itu bertanya-tanya. Saya lupa menitip pesan.
Ada aturan yang tidak tertulis, warga di RT sekitar rumah bila akan bepergian, bisa saling menitipkan pesan untuk menjaga rumah. Aturan bertetangga.
Mau pulang, saya harus menghubungi Agus Derita lagi. Pesan tiket kembali ke Berau. “Mau transit Surabaya atau via Balikpapan,” begitu kata Agus Derita.
Kalau lewat Surabaya, menunggu penerbangan ke Berau lumayan lama. “Bisa sampai lima jam Pak Daeng,” kata Agus.
Saya memilih dari Bandara Hasanuddin ke Berau lewat Bandara Juanda Surabaya. Menumpang pesawat Super Air Jet.
Terbang dari Bandara Hasanuddin sekitar pukul 09.00 Wita. Sebelum jam 12.00 WIB sudah di Bandara Juanda.
Melihat pengumuman keberangkatan, pesawat yang tujuan Berau baru terbang sekitar pukul 18.15 WIB. Hehehe.
Lumayanlah menunggu setengah hari. Saya mencari tempat makan di luar gedung bandara. Tempat yang sering saya singgahi, saat ke Surabaya. Saat ikut pendidikan di Balongsari.
Tidak jauh-jauh. Masih dalam kawasan bandara. Namanya warung Bangkalan. Pelayannya bukan itu lagi. Mungkin sudah tiga kali berganti. Tapi rasa Soto Maduranya, tak berubah. Masih seperti dulu.
Saat menikmati, saya masih terbayang Coto Makassar dan Pallubasa. Beda komposisi bumbunya.
Beda irisan dagingnya. Dan yang pasti beda juga harganya. Maklum, jualannya dalam kawasan bandara.
Wajar Bandara Juanda menjadi terbaik. Setelah dilakukan penyempurnaan, semuanya terlihat rapi.
Tidak terlihat warga atau pengunjung bandara merokok sembarang tempat. Ada tempat khusus.
Menikmati Soto Madura lebih rileks. Tidak buru-buru. Kan terbang lanjutannya nanti setelah jam 18.15 WIB. Terdengar alunan musik keroncong. Ada kelompok pengamen jalanan yang menghibur pengunjung bandara.
Di ruang tengah yang luas. Ada enam personelnya. Dengan masing-masing alat musik. Enak didengar dan Soto Madura juga enak dinikmati.
Selepas itu, bergeser ke ruang tunggu. Melewati pemeriksaan yang super ketat. Waktu masih panjang. Duduk di ruang tunggu pintu delapan.
Berhadapan dengan jejeran tempat makan yang menggoda. Jejeran tempat berbelanja khas Jawa Timur.
Di ruang tunggu itu penuh. Apa iya semua penumpang itu tujuan Berau. Tak satupun wajah yang saya kenal.
Teman saya Dedy menginformasikan kalau istrinya juga pulang lewat Bandara Juanda dari perjalanan dinas di Bali.
Saat boarding, hanya numpang lewat garbarata. Pesawat parkirnya jauh. Penumpang diangkut lagi dengan bus. Surabaya diguyur hujan. Sudah terbayang bagaimana sepanjang perjalanan nanti.
Agus Derita memilihkan kursi deretan nomor dua dari belakang. Saat melewati lorong itu, jumpa Taupan Madjid. Ketua KKSS yang selama ini memperjuangkan agar dibuka rute Kalimarau-Makassar.
Tentu atas desakan warga KKSS yang jumlahnya banyak. Sudah berkali-kali dilakukan survei, entah bagaimana hasilnya.
Terbang malam sebetulnya mengasyikkan. Kalau dalam kondisi cuaca yang tidak hujan dan berpetir. Dinikmati saja. Saat terbang, semua penumpang hening.
Termasuk bu dokter Khalijah, isteri Dedy, teman saya, yang duduk persis di depan. Dekat jendela. Saya tidak tahu, apa yang dipirkirkan dalam penerbangan kembali ke Berau.
Bu dokter juga pasti tidak bisa menebak, apa yang bergejolak dalam benak saya. Yang penting tiba dengan selamat, walau badai mengadang. Hehe. (*/udi) @daengsikra.id
Editor : Nurismi