SEKALI di udara, tetap di udara. Tulisan itu terlihat jelas di sisi kanan mobil siaran luar RRI Nusantara IV Makassar.
Mobil bercat biru itu, punya jasa besar. Dalam melakukan siaran langsung. Mobil merk Peugeot itu, kini terparkir di halaman gedung RRI di Jalan Riburane, Makassar.
Sengaja di tempatkan di halaman gedung, jadi museum terbuka. Agar mengingatkan banyak orang bagaimana peran mobil siaran luar. Salah satu peran yang ditugaskan, ketika meliput jalannya pertandingan sepak bola di zaman Ramang yang bermain di bawah panji PSM.
Kemarin (6/2), di halaman kantor RRI, saya menikmati kopi di kafe Azzahrah. Manajemen RRI sengaja membuka pintu, menempatkan warung kopi yang terkenal ini agar RRI tidak sepi pengunjung.
Iwan, mantan pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau yang kini bertugas di kantor Kelurahan Baru, Makassar, yang menemani minum kopi. Dia bercerita saat kecil dulu pernah menyanyi di studio RRI. “Waktu itu saya masih sekolah di TK,” kata Iwan.
Perkembangan teknologi sekarang ini, peran RRI dalam menyampaikan pesan pembangunan tak pernah surut. Puluhan karyawannya yang istirahat di kafe Azzahrah, terlihat penuh semangat.
Saya mengenal beberapa penyiar RRI yang terkenal. Sebutlah nama Mustakim Tinulu.
Di awal awal tahun 70-an, ada ditempatkan radio umum. Di situlah warga dan para tukang becak parkir mendengarkan suara radio. Termasuk mereka yang tak sempat menyaksikan pertandinghan sepakbola di Stadion Mattoanging, Makassar, ikut mendengarkan siaran langsung jalannya pertandingan melalui radio. Seru.
Yang tak bisa saya lupakan, setiap pekan orangtua saya aktif mengisi acara kesenian daerah. Sinrilik. Seni bertutur ini sangat menghibur dan kadang melahirkan heroik para tukang becak.
Apalagi, cerita sinrilik mengisahkan perjalanan sejarah Datu Museng dan Maipa Deapati. Karena dibuat berseri, pendengar setia RRI selalu menanti. Berkumpul di radio umum itu.
Dalam proses perekaman, saya dapat tugas membuka lembaran demi lembaran buku bertuliskan aksara Lontara. Buku yang ditulis oleh Mattes, asal Belanda itu menulis cerita sejarah perjuangan di Makassar. Buku sejarah itu yang dibaca ayah saya sambil memainkan alat musik tradisional sinrilik.
Waktu terus berjalan. Gedung RRI yang dulu itu tak banyak perubahan. Hanya ada bangunan masjid di halaman kantor. Dan di samping gedung juga ada rumah makan Mba Atun yang ramai pengunjung. Ini salah satu upaya manajemen, agar kawasan itu tetap ramai pengunjung. Memang di sekitar gedung RRI, ada gedung kesenian.
Gedung peninggalan Belanda. Namanya Societet de Harmony. Warung kopi Phoe Nam di Jalan Jampea, juga menempati bangunan peninggalan Belanda.
Pembaca yang lahir, dibesarkan dan pernah menetap lama di Makassar tahu persis tempat yang penuh kenangan ini. RRI dengan motto sekali di udara tetap di udara, takkan pernah surut. Mobil tua bisa saja terparkir di halaman kantor. Semangat para karyawan RRI adalah pejuang dalam menyampaikan informasi.
Seperti kenangan saya ketika masih usia SMP, sudah sering ke ruang siaran RRI walau sekadar menemani orangtua saya bermain sinrilik. (*/udi) @cds_daengsikra
Editor : Nurismi