DI belakang rumah jabatan di Jalan Sungai Lariang, menjadi jalur jalan yang dikenal sepi.
Ada bangunan rumah yang belum berubah. Masih wajah lama. Mungkin seusia rumah jabatan yang berarsitektur Belanda.
Di halaman rumah itu, dimanfaatkan sedikit lahannya. Bertenda biru tampak luar. Warna oranye bagian dalamnya.
Itu bukan yang jualan es putar. Destination Flavour saya, menikmati bakso Kak Boy. Bukan Daeng Boy. Penikmatnya antre duduk di meja panjang.
Belasan mobil parkir. Semua pelanggan bakso Kak Boy. Saya duduk di meja dekat pintu masuk. Bagian dalam sudah terisi penuh. Kuahnya bening. Di meja ada minyak wijen dan sambal kuning. Bila ingin rasa yang sesuai selera. Datang bersama teman, ngobrolnya di saat makan itulah.
Tak ada waktu buat ngobrol setelah makan. Antrean pengunjung lainnya menanti di muara pintu. Menunggu giliran menempati kursi.
Kemarin itu, ada destination flavour yang baru. Namanya Pallubasa Baruga. Dari Berau, Hendra yang alumni Akademi Maritim Makassar, mengirim pesat WA. “Wajib dikunjungi itu Daeng,” kata Hendra.
Sayang sudah lebih dulu janjian. Jumpa di salah satu kafe. Namanya Andi Rimba Alam Pangerang. Sahabat saya sejak SMP hingga lulus di SMA 2, di Jalan Haji Bau. Ketemulah di kafe, menikmati teh susu dan pisang goreng. Dan berceritalah kami.
Dia itu pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gowa selama 11 tahun. Dua periode masa jabatan bupati Ikhsan Yasin Limpo, dan satu tahun bupati Adnan yang tidak lain putra Ikhsan Yasin Limpo almarhum.
Dia bercerita banyak sekitar kerajaan Gowa. Begitupun dengan perjalanannya ke Museum Leiden di Belanda. “Kami waktu itu mau menelusuri berbagai peninggalan yang tersimpan di Museum Leiden,” kata dia.
Sebetulnya, kata Rimba, bisa saja kami membawa pulang beberapa dokumen sejarah bertuliskan aksara lontara. Namun, pihak museum mempertanyakan, apakah di Gowa bisa menyimpan dokumen seaman yang dilakukan di Leiden.
Akhirnya beberapa foto dokumentasi yang dianggap penting, hanya bisa didapatkan lewat reproduksi dari jurnal yang dibuat museum. Tidak satupun yang dibawa pulang ke Indonesia.
Ada kisah lain yang dia ceritakan. Pernah dikunjungi oleh mantan Duta Besar (Dubes) Portugal untuk Indonesia. Secara khusus datang ke Gowa, karena sang mantan Dubes yakin ada keturunan dari tanah Gowa.
Dalam pertemuan mantan Dubes dengan Rimba di rumahnya, disajikanlah kue cucur bayao. Begitu terlihat oleh mantan Dubes, dia lalu menyebut kalau kue cucur bayao itu peninggalan dari bangsa Portugis yang pernah berkuasa di zamannya.
Katanya, kue cucur bayao itu, putih telurnya digunakan agar baju atau dasi kaku seperti lanji sekarang. Lalu kuning telur itu diolahlah dengan memberi cacahan buah kenari. Pemanisnya, waktu belum ada gula, dibuatlah dengan memberi madu. “Jadi kue cucur bayao itu sudah ada sejak zaman Portugis,” kata mantan Kadis Pariwisata Gowa itu. (*/udi) @daengsikra.id
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi