MEMADUKAN dua sapaan yang beda. Bagi yang baru melihat bisa dibuat senyum-senyum. Bertanya-tanya.
Salah satu sudut jalan, ada tulisan mencolok. Mas Daeng. Begitu tulisan yang terbaca di tiga penjuru.
Destination Flavour saya kemarin di Makassar, mampir di rumah makan yang tak pernah sepi pengunjung. Jualannya ikan bakar dan berbagai macam seafood.
Saya yang disapa sesama pelanggan warung pojok di Berau dengan nama daeng, senyum-senyum saja antara mas dan daeng.
Yang jualan, kata teman-teman, asal daerahnya Gresik, Jawa Timur. Kenapa tidak jualan dengan nama daerah asalnya. Seperti warung tenda.
Di situlah hebatnya pemilik warung. Paham tidak berada di daerahnya sendiri, digabungkan saja sapaan akrab itu. Gabungan mas dan daeng.
Ada juga yang tetap memakai ciri khas daerahnya. Ada warung namanya Mba Atun, Warung Mba Zara, juga ada warung namanya Mas Joko. Warung dengan jualan sama. Masakan khas laut.
Ada belasan meja dan puluhan kursi di Warung Mas Daeng. Ada puluhan karyawannya. Ada yang khusus melayani tamu. Ada yang tugasnya membakar ikan.
Tamu yang datang memanggil pelayan dengan panggilan mas. Ada juga yang memanggil daeng. Walau nama warungnya Mas Daeng, tak ada tamu yang memanggil mas daeng. Mas dan daeng, sama maknanya.
“Minumnya apa mas?” tanya pelayannya. Saya senyum saja. Mungkin dikira saya tamu dari Jakarta. Padahal, Makassar ja juga.
Warung Mas Daeng satu di antara banyak rumah makan yang sukses. Sama suksesnya warung Mas Joko yang sudah buka cabang di banyak tempat. Rasanya? Sama dengan warung tenda Mba Inul, depan Berau Plaza. Hehe.
Sepanjang Pantai Losari pun begitu, para penjual pisang epe alias pisang gapit. Berlomba mengajak tamunya untuk mampir. “Mampir ki Mas! Mampir ki Daeng,” begitu mereka menyapa.
Mas dan daeng. Tak ada lagi dinding pemisah etnis. Sama-sama paham. Si Mas juga paham, di mana mereka berada. Seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. (*/udi) @cds_daengsikra
Editor : Nurismi