Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Gong Xi Fa Cai

Beraupost • Kamis, 30 Januari 2025 - 13:30 WIB

Daeng Sikra
Daeng Sikra


FESTIVAL
Jappa Jokka. Sebuah festival budaya yang mewarnai tahun baru Imlek di Makassar. Saya membayangkan ini pasti ramai.

Acara tidak di lapangan terbuka, tapi menyusuri jalan utama yang bermula dari kampung pacinan.

Ramai nanti itu Daeng, kata Iwan, teman saya yang pernah tugas di Berau yang sekarang tugas di Makassar.

Dia tidak merincikan detail acaranya. Dia menjelaskan kemasannya akan beda dengan pesta budaya sebelum-sebelumnya.

Sebetulnya, Pesta Jappa Jokka dikaitkan dengan perayaan Cap Go Meh. Cap Go Meh sendiri maknanya adalah malam ke-15.

Perayaan yang digelar 15 hari setelah tahun baru imlek. Mengapa judulnya Jappa Jokka. Dua kata yang sebetulnya artinya sama.

Jappa dalam bahasa Makassar. Jokka ucapan bahasa Bugis yang artinya jalan.

Ketika saya bertanya pada Meta AI, disebutkan bahwa festival Jappa Jokka dimaknai secara harfiah sebagai sebuah festival makan bersama.

Ini untuk mempererat hubungan antarmasyarakat maupun dalam rangka melestarikan budaya dan tradisi.

Acaranya berlangsung pekan kedua Februari. Jangan sampai terlewatkan acara ini Daeng, kata Iwan.

Bagaimana berbaurnya budaya yang ada dan tumbuh di Makassar dengan budaya yang dikembangkan warga Tionghoa. Moga-moga saya bisa ikut menyaksikan, kata saya.

Sepanjang Jalan Sulawesi maupun Jalan Nusantara di Makassar, dikenal sebagai Kampung Pecinaan.

Banyak klenteng yang usianya ratusan tahun berada di wilayah ini. Di kawasan inilah, ketika masih usia SMP sering menyaksikan atraksi barongsai disertai dengan bunyi petasan.

Selang puluhan tahun berikutnya, barulah bisa menyaksikan lagi barongsai saat atraksi di Lapangan Pemuda, di Tanjung Redeb.

Begitupun ketika dua barongsai mengunjungi kediaman warga Tionghoa untuk mengusir roh jahat. Pemilik rumah yang dikunjungi menyerahkan bantuan alias angpao.

Pemandangan itu berlangsung sehari setelah Cap Go Meh.
Walau sempat jumpa dengan Oetomo Lianto, tokoh masyarakat Tionghoa, beberapa hari lalu.

Tak ada informasi terkait perayaan imlek maupun Cap Go Meh. Apa karena pertimbangan musim hujan yang berlangsung belakangan. Atau diam-diam mau memberikan kejutan.

Hiasan menjelang perayaan Imlek semakin terasa. Sepanjang Jalan Tendean dan Jalan Ahmad Yani di tepian Sungai Segah, sudah terpasang puluhan lampion.

Ini menjadi pemandangan, sekaligus mengingatkan perayaan Imlek yang dilaksanakan warga Tionghoa.

Warung Pojok tidak memberikan isyarat apakah warung dibuka saat Imlek, sekaligus sebagai pernyataan open house. Kami tutup dulu selama sehari saat Imlek, kata Apping, pemiliik Warung Pojok.

Padahal, para pelanggan berharap-harap ada open house.

Di kediaman keluarga besar Oetomo Lianto juga begitu. Belum ada pengumuman resmi akan menyelenggarakan open house di tahun baru imlek, atau hanya berlaku untuk kerabat dan keluarga dekat saja.

Ada juga yang berpendapat lain. Bahwa di minggu ke empat Januari, menjadi bulan penuh duka oleh warga.

Betapa tidak, ada tiga peristiwa kebakaran yang berlangsung dalam kurun waktu hanya 48 jam saja.


Kejadian pertama di Jalan Milono. Lalu kebakaran rumah warga yang ada di Teluk Bayur.

Dan malam hari Senin (27/1) lalu, terjadi lagi kebakaran di ujung Jalan HARM Ayoeb. Jalan menuju Pasar Sanggam Adji Dilayas.


Bangunan milik warga yang musnah dilalap si jago merah itu, selain rumah tangga biasa, juga memusnahkan rumah dagangan UMKM milik warga.

Begitupun warung kopi yang jadi langganan warga sekitar kawasan itu.

Kita semua ikut prihatin, kata Agus Uriansyah anggota DPRD Berau dari Partai Perindo yang tercatat selaku pelanggan Warung Pojok.

Banyak hal yang perlu dibenahi, terutama dalam mendukung tim pemadam, agar armada dan personel bisa diperbanyak.

Termasuk menempatkan armada di setiap kecamatan, ungkapnya. Cong Xi Fa Coy. (sam) @cds_daengsikra

Editor : Nurismi
#Berau Post #opini