HARI minggu (19/1) kemarin itu, warung pojok padat pengunjung. Ada yang usai olahraga di tepian. Ada yang memang tujuannya ke warung. Ada yang mampir karena kehujanan.
Pembahasan tidak melibatkan semua pengunjung. Masing-masing meja, ada tema diskusinya sendiri-sendiri. Beda dengan hari-hari sebelumnya. Di meja Agus Uriansyah yang dikelilingi wartawan, membahas masih soal tarif air Perumdam Batiwakkal.
Sebetulnya, soal kenaikan tarif tidak disoal para pelanggan, kata Agus Uriansyah, anggota dewan dari Partai Perindo. Masalahnya, angka tagihannya bekajutan, ungkapnya sambil tertawa. Bayangkan, ada yang biasa membayar tidak lebih Rp 300 ribu, tiba-tiba ditagih jadi Rp 700 ribu. Ini yang membuat pelanggan panik berataan, kata dia.
Harusnya dilakukan dengan lebih soft. Dipastikan kalau sosialisasi yang dilakukan sudah sampai ke pelanggan. Termasuk bagaimana hitung-hitungannya dalam setiap pemakaian. Kalau pesan itu sampai ke pelanggan, mereka pasti siap-siap. Termasuk siap-siap melakukan penghematan penggunaan air, ungkapnya.
Iwan, ASN yang bulan September nanti memasuki masa pensiun, melihat dari sisi lain. Ok soal angka tagihan yang mengajuti itu. Masalahnya, bujurkah catatan yang dibuat petugas yang mencatat meter air di rumah pelanggan, kata dia. Persoalannya pada kejujuran petugas di lapangan. Kalau jua ada petugas yang turun, kalau kadada, bisa secatat-catatnya, kata dia.
Kemarin sudah memasuki tanggal 19, artinya tanggal hari ini (20/1) batas akhir pembayaran. Tinggal memeriksa saja, apakah tetap naik atau tidak. Kalau masih sekitar pembayaran bulan sebelumnya, berarti pembatalan SK itu dijalankan. Kalau tidak, artinya SK pembatalan itu diabaikan. Kita cek aja isuk, kalau bebayar, ungkap Iwan.
Di meja Zuliansyah, pensiunan Bagian Hukum Pemkab, berkumpul enam personel. Bersebelahan dengan meja Agus Uriansyah. Ada Lamijan, Abu Bakar yang bos gas melon, Edy, Usman petani yang baru selesai menanam padi gunung.
Yang dibahas bukan persoalan berat. Tapi persoalan kuliner. Mereka membahas warung gado-gado yang jualan di Sambaliung. Lokasi paling ujung Tepian Sambaliung, kata Zuliansyah. Saya sudah dua kali bergabung merasakan gado-gado Sambaliung itu. Ditambah lagi dengan minuman sarabba jahe merah.
Memang beda rasanya, kata Zuliansyah. Bumbu kacangnya halus, porsinya jumbo, dan ada udang goreng yang masih segar sebagai penambah selera. Satu lagi,kata Zuliansyah, walaupun ada kenaikan sejumlah bahan pembuat gado-gado, harga jualnya tidak mahal. Terus terang, aku rekomendasikan gado-gado di Sambaliung itu, ungkap Zuliansyah.
Sepanjang tepian di Sambaliung itu, masuk salah satu wilayah wisata kuliner. Ada gerobak yang dibantu perusahaan. Ada juga kafe swadaya masyarakat. Buka sore hingga tengah malam, menjadi kesibukan para istri. Mereka berjualan tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Gado-gado, menjadi salah satu makanan yang banyak penggemarnya. Kita tahu, ada gado-gado Teluk Bayur, gado-gado Jalan Niaga, gado-gado Jalan Murjani, kita tinggal memilih saja mau menikmati yang mana. Sesuai selera.
Penggemar makan di malam hari, memang cocok berkunjung ke Sambaliung. Yansen biasanya bertugas sebagai sponsor. Dia selalu hadir duluan. Penjualnya sudah hafal. Kalau rombongan Yansen datang, penjualnya tidak ada waktu istirahat mengulek bumbu. Gaya mengulek bumbu sering dicontohkan Zuliansyah. Hehe.
Sudah ada di lokasi baru dipesankan, kata Zuliansyah. Kalau masih status WA-nya otw, belum dipesankan. Kalau sudah hadir, barulah pemiliik warung meracik bumbunya. Makan bersama, selain menyatukan keakraban, juga membantu pengusaha kuliner yang ada di Sambaliung dan tempat lainnya.
Gado-gado Sambaliung layak dikunjungi. Harganya murah. Ingin menikmati di rumah? Pelanggan bia take away. Apalagi cuaca gerimis seperti tiga hari terakhir, gado-gado jadi semakin nikmat rasanya. (sam)
@cds_daengsikra