MENGGUNAKAN kata pojok, agaknya punya keberuntungan sendiri. Kalau warung kopi di pojok Jalan Niaga dan Jalan Kapt. Tendean sudah hadir sejak lama. Di tahun yang baru hadir warung yang baru.
Namanya Pojok Rasa. Lokasinya di pojok Jalan Panglima Batur dan Jalan Niaga. Posisinya berhadapan dengan toko buku Varia. Bangunan tua yang sudah belasan tahun tak dihuni, kini disulap menjadi warung makan.
Ketika proses pengerjaan. Saya sempat bertanya-tanya. Akan dijadikan toko seperti fungsinya belasan tahun lalu. Atau akan disulap jadi kafe menyusul deretan kafe yang muncul dibanyak tempat.
Bangunan tua itu pun jadi kinclong. Dicat dengan warna serba putih. Ada dua lantai. Tidak meninggalkan kesan bangunan lamanya. Dulu, deretan bangunan sepanjang menuju tepian Sungai Segah, adalah bangunan awal toko Sinar Fajar. Juga berdekatan dengan kantor BRI cabang Sungai Segah.
Bertepatan di awal tahun, sudah terlihat tulisan besar. Namanya Pojok Rasa. Sudah bisa dibayangkan usaha apa yang akan hadir di tempat itu. Terkait dengan rasa. Kalau di Warung Pojok, hanya ada aroma kopi dan mi kuah. Pojok rasa, lebih banyak rasa yang bisa dinikmati.
Kemarin siang, kunjungan perdana ke tempat itu. Awalnya sendirian. Dari warung pojok, saya mengajak Tamrin, pensiunan kantor pajak, sudah beri isyarat makan siang dimana. Perlu kita coba menu di Pojok Rasa.
Kesanalah. Ada meja panjang setinggi dada. Tempat menata berbagai menu siap santap. Disiapkan piring warna putih ukuran sedang. Ada termos warna biru berisi nasi.
Sebelum memulai, saya bertanya dulu dengan pemilik warungnya. Harganya seperti apa, kata saya. Bapak ambil saja dulu, nanti dihitung harganya, kata dia. Saya ambillah satu ekor ikan masak kuning. Satu udang goreng tepung. Ada gulai tahu, dan telor dimasak santan. Ada sayur kangkung.
Kalau seperti ini porsinya, berapa? Tanya saya. Setelah dicermati, penjualnya menyebut angka Rp 25 ribu. Tidak terlalu mahal untuk ukuran porsi seperti itu. Memang akan lebih mahal dibanding dengan program makan gratis bergizi yang nilainya Rp 10 ribu. Hehe.
Lebih bagus makan siang di sini saja Daeng, kata Tamrin. Bagi mereka yang memilih tidak makan siang di rumah, Pojok Rasa bisa jadi satu pilihan. Termasuk mereka yang ingin menikmati masakan rumahan.
Besok-besok menunya ditambah udang basinggang ya, kata saya. Penjualnya ketawa. Saya sebut menu khas itu, karena saya tahu penjualnya orang Berau asli. Akan banyak menu-menu yang enak. Salah satunya udang rebus itu.
Pojok rasa sepertinya memang menawarkan konsumennya yang ingin santap siang. Makanya, jam bukanya sekitar jam 11.00 wita. Karyawan kantoran juga siap-siap santap siang memasuki jam istirahat.
Kami buka hingga jam 23.00 wita, kata penjualnya. Pada jam santap siang dan yang akan lanjut santap malam, menu yang disajikan prasmanan masih siap. Di lantai dua konsumen yang ingin melanjutkan ngopi, sudah siap baristanya. Jadi malam hari, disulap jadi kafe, ungkapnya.
Konsep prasmanan, sepertinya cukup menjanjikan. Di Jalan Pulau Derawan, juga ada warung yang menyiapkan masakan dengan swalayan. Harganya tak jauh beda dengan yang di pojok rasa.
Akan lebih menarik bila semua rumah makan diberikan sertifikat halal. Pun menarik bila ada keterangan dinas kesehatan yang menyebutkan yang ditawarkan sehat untuk dikonsumsi. Sehat dan higienis. Bagi food hunters, boleh dicoba. (sam)
@cds_daengsikra