LEBIH populer sapaan Daeng Iccang ketimbang nama aslinya Ichsan Rapi. Bisa jadi karena warung kopi yang dihadirkan sekitar rumahnya diberi nama warkop Daeng Iccang. Beda-beda tipis dengan Daeng Sikra. Haha.
Di Warung Hokky kemarin, dia hadir bersama sang ‘kaisar’ Oetomo Lianto alias Aliang. Bukan kali itu saja dia bergabung. Karena kesibukannya, frekuensi kehadirannya lebih sedikit. Harus konsentrasi sebagai wakil rakyat di DPRD dari Partai Gerindra.
Meng-update kegiatan terakhirnya di luar kota. Kami dari Makassar bersama Sekkab, Pak Said, Daeng, kata Daeng Iccang. Membicarakan banyak hal dengan petinggi Universitas Hasanuddin.
Salah satu hasilnya, kampus memberikan slot penerimaan mahasiswa asal Berau. Ini peluang yang harus ditindaklanjuti, kata saya.
Karena bicara Makassar, Aliang langsung ‘menyambar’. Maklum, masa kecilnya juga dihabiskan di Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Ayo rame-rame kita ke Makassar, kata Aliang. Sepertinya dia rindu kuliner Makassar.
Beberapa bulan lalu dia ke kota dengan tagline kota dengan makanan enak-enak. Yang pertama dilakukan, berkeliling ke tempat-tempat kuliner yang terkenal.
Mulai dari Mi Titi, Coto Makassar, hingga Sop Lidah. Kita cari waktu saat saya tidak sibuk kita ke Makassar, ungkapnya. Kita berburu kuliner.
Karena bicara soal penerimaan mahasiswa di Universitas Hasanuddin, merembetlah ke fasilitas asrama pelajar dan mahasiswanya.
Yang ada sekarang, lingkungannya sudah tidak mendukung, kata Daeng Iccang. Perlu asrama yang baru. Tak jauh dari kampus.
Kalau di Surabaya perlu juga kah? Kata Aliang. Untuk Surabaya, Jawa Timur, berdasarkan survei jumlah mahasiswanya masih sedikit. Kalau di Malang, mungkin lebih tepat menghadirkan asrama khusus dan tidak menyewa, ungkap Iccang.
Soal warung kopi, kata Aliang, memang dari luar seperti tidak ada yang luar biasa. Tapi, di Warung Hokky banyak keputusan yang diambil dari hasil diskusi di Warung Hokky.
Saya ingat mantan Kajari Hari Wibowo, kata Aliang. Di warung kopi inilah kami membahas rencana carter pesawat tujuan Pulau Maratua. Sayangnya tidak bisa terealisasi.
Saya mencoba memancing dengan cerita politik. Suksesi tahun 2029 mendatang. Masih jauh Daeng, kata Iccang. Tapi bolehlah dibahas gambaran peta politik ke depan, kata saya. Aliang yang saya gelari sang maestro, jadi tertarik juga.
Kita sudah bisa melihat para kandidatnya. Termasuk Daeng Iccang, peluangnya cukup besar untuk tampil.
Alasannya, dia bernaung di partai penguasa. Dia sudah tiga periode di DPRD. Sudah ada jaminan. Kalau ditambah lagi mendapat mandat sebagai Ketua KKSS, makin kuatlah posisinya.
Aliang memang sudah menggadang-gadang jagonya. Bahkan sudah lengkap siapa pasangannya. Masih dirahasiakan, ungkapnya. Masalahnya, kata Aliang, yang tampil di 2029 nanti kandidatnya hebat-hebat semuanya. Anak-anak muda.
Beralih ke cerita lain. Lagi-lagi saya memancing suasana. Harusnya Pak Aliang ini menerima penghargaan khusus pada perayaan hari jadi kabupaten. Aliang masuk sebagai pelopor pembangunan. Layak dapat bintang.
Bukan karena dedikasinya sebagai warga Berau membangun Hotel Mercure yang sekaligus mengangkat nama daerah.
Di banyak hal, banyak yang tidak tahu kalau andilnya cukup besar. Termasuk dalam membangun Bandara Kalimarau.
Itu perjuangan kami bersama Masdar Jhon (mantan bupati) merintis mulai dari landasan pacu konstruksi tanah hingga lapangan lapis baja hingga berhasil memasukkan pesawat baling-baling.
Saya kasihan, bupati kalau ada pertemuan di Samarinda, harus naik kapal dulu ke Tarakan, katanya.
Saya mengusulkan, agar Aliang dibuatkan autobiografi. Buku yang bercerita soal perjalanan hidupnya, tentang keberhasilannya, pun tentang hidup susahnya di awal-awal memulai usahanya.
Nanti di-launching bersamaan dengan grand opening Hotel Mercure miliknya di bulan Desember. (sam)
@daengsikra.id