Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Roti Canai

Beraupost • Senin, 30 Desember 2024 | 08:30 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra


ACARA sunatan di rumah Agus Tantomo. Mantan wakil bupati dan juga mantan bupati sisa waktu. Menghitan anaknya Raffan.
Setiap acara yang digelar mantan petinggi itu, sekalian jadi ajang reuni. Bisa jumpa dengan banyak teman. Banyak sahabat. Walau Berau ini kata orang wilayahnya tidak luas, percayalah ada saja yang jarang saling jumpa. Walau sama-sama tidak kemana-mana.
Makanya hari Sabtu (28/12), saat Agus Tantomo mengirimkan undangan lewat pesan WA, sudah membayangkan akan dipertemukan banyak teman.
Dan betul saja. Baru parkir kendaraan, sudah jumpa dengan empat wartawan muda. Masuk ke pintu utama, jumpa dengan Haji Nurung anggota DPRD dari Partai NasDem yang baru dilantik menggantikan Madri Pani. Beberapa langkah melewati pintu utama, jumpa dengan pimpinan Bankaltimtara dan crew.
Langsung ngambil makanan Daeng, begitu ibu-ibu yang saya tahu dia itu isti Joko. Suaminya pernah sama-sama sekantor di humas. Kayanya, penataan acara khitanan anak Agus Tantomo ditata beda dengan hajatan yang pernah dilaksanakan di rumah pribadinya.
Makanan diletakkan di pintu masuk. Tamu yang datang langsung mengambil makanan. Hebatnya, istri Joko sudah siap dengan menyebutkan masakannya. Ini daging kambing dan ini daging sapi masakan lada hitam, kata dia.
Perjalanan ke rumah Agus Tantomo, yang terbayang itu sop tulangnya. Sop tulang yang kombinasi bumbunya ditanganinya langsung. Membayangkan, akan betunjul-tunjulan dengan Seno wartawan Berau Post yang doyan sop tulang ala Chep Agus Tantomo. Berebutan tulang yang sum-sumnya masih utuh.
Akhirnya saya pilih buras dengan kelapa gorengnya. Karena posisinya bersebelahan, ada roti canai. Saya pun menjumput satu. Roti canai yang biasanya bulat, yang terlihat bentuknya segi empat. Seperti martabak. Ditambah daging sapi bumbu lada hitam. Pas disantap dengan buras dan roti canai.
Jumpa Fajar yang nampak sibuk-sibuk. Dia memang dipercayakan jadi design interior yang ada di ruang tengah rumah keluarga Agus Tantomo. Lawasnya kada bedapat, kata saya. Fajar hanya ketawa. Ketawa yang khas. Sekarang tugas di Tanah Tidung Daeng, kata Fajar. Maksudnya, tugas di Bankaltimtara Tanah Tidung, Kaltara.
Kami berbincanglah dengan wartawan yang usianya masih sangat muda. Berbincang soal kesibukannya. Berbincang soal ketatnya kejar-kejaran pemberitaan antara media cetak dan online. Mereka nampak rukun-rukun. Baik cerita keseharian, maupun lika-liku ketika berkerja.
Tuan rumah Agus Tantomo yang waktunya lebih banyak di Jakarta, mendekati meja para wartawan. Di dalam ada sop tulang, kata dia. Dalam hati, infonya terlambat. Sudah menyantap buras dan roti canai. Bagi Seno, tak ada kata terlambat.
Akhirnya saya masuk juga ke ruang tengah. Bukan mencari sop tulang. Menemui Makmur, HAPK yang sudah duduk di meja makan saat dia datang bersama istrinya, Seri Marawiyah.
Asyik bernostaligia dengan warga Tionghoa yang jumlahnya belasan. Ada yang seusia dengan Makmur. Ada yang seusia dengan Seri Marawiyah. Mereka memang sudah akrab sejak lama. Makanya, acara khitanan sekalian jadi ajang reunian. Ini Daeng yang banyak tahu soal kisah lawas, kata Asuk, pemilik salah satu toko besar di Jalan Mangga dua.
Saya hanya diam sambil mendengar mereka kilas balik kisah lama. Sambil menyebut beberapa nama tokoh Tionghoa yang telah tiada pun yang masih merantau di Hongkong dan Taiwan. Fika istri Agus Tantomo menawarkan kue babongko. Kue khas bugis. Fika memang punya darah bugis.
Makmur bercerita mulai mengakhiri masa diet ketatnya. Makanya badanku ini naik sedikit, kata Makmur. Diet tipis-tipis sajalah, kata saya bergurau. Di meja makan menu yang ada sama dengan di pintu masuk rumah.
Ada nasi Mandhi dan Biryani khas Timur Tengah dengan topping daging kambing dan ayam. Ada juga roti canai. Lumayan sudah makan banyak. Melihat roti canai, saya ingat teman saya Agus, tinggal di Gunung Tabur, pensiunan Bappeda yang jualan roti canai di Lapangan Pemuda. Roti canai dan kare ayam. (sam)
@cds_daengsikra

Editor : Nurismi