RUMAH yang ditempati keluarga Oetmo Lianto di samping KFC, dulunya rumah panggung milik karyawan Samsat. Rumah panggung itu yang jadi saksi berbagai cerita di sekitar strat bundar.
Cerita soal strat bundar kemarin, jadi topik diskusi teman-teman di Warung Pojok. Ada Pak Lubis, anggota Polres yang sekarang sudah berpangkat perwira. Saya sudah mengenal sejak tahun 1995. Namanya Lubis. Sebenarnya dia bugis totok. Dengarlah kalau dia berbicara.
Saya bisa jadi perwira seperti sekarang adalah sebuah perjuangan berat dan keras, kata Lubis menceritakan bagaimana ia bisa lolos pendidikan perwira polisi. Saya enam kali ikut ujian Daeng, kata Lubis. Harus bersaing dengan 300 peserta setiap angkatan. Barulah yang ketujuh kalinya bisa lolos, ungkap Lubis.
Kemarin itu, dia mampir di Warung Pojok, tidak berpakaian dinas lengkap. Mungkin habis bersih-bersih di kantornya. Dia menikmati segelas teh susu dan telor setengah amsak tiga biji. Kerja keras rupanya, kata saya.
Kenapa ya, tugu di strat bundar itu dibongkar? Dari situlah berkembang berbagai cerita mistis. Tugu strat bundar itu setahu saya ide dari almarhum Pak Tomo. Istrinya asal Jogjakarta. Mungkin terinspirasi dari tugu yang ada di Jogjakarta itu, dibangunlah di tengah jalan antara Jalan SA Maulana-Jalan Pemuda-Jalan Pangeran Antasari, dan Jalan Panglima Sudirman. Disebutlah namanya strat bundar.
Tugu yang berdiri di sumbu jalan itu, di ujung atas ada jam dinding. Jam yang kadang-kadang tidak sesuai penunjukan waktunya. Juga fungsinya sebagai penunjuk arah dan mengatur lalu lintas dari empat arah jalan tersebut.
Ketika ada perbaikan drainase dan pemasangan pipa utama PDAM, persis melewati tugu itu Tak ada plihan lain. Tugu harus dibongkar. Untuk memudahkan pekerjaan pemasangan pipa PDAM. Kenapa harus dibongkar tugu itu? Kata Pak Tomo yang waktu itu sebagai Kepala Bagian Humas.
Diskusi Warung Pojok, mereka sekaligus sebagai saksi mata yang tahu cerita mistis di strat bundar. Strat bundar itu behantu,k ata Agus Minto. Jangan coba-coba melintas di strat bundar menjelang magrib dan disaat hujan gerimis. Pasti ketemu hantu di strat bundar itu.
Antara Gunung Tabur dan Sambaliung, belum terhubung ke Tanjung Redeb. Hanya ada angkutan sungai. Penduduk di Tanjung Redeb masih sangat sedikit. Layanan transportasi juga didominasi becak dengan cat warna putih. Pemilik mobil dan motor belum sebanyak sekarang.
Di strat bundar, suasana tertentu ada muncul buaya kuning. Tak ada warga yang mendekat. Buaya kuning itu hanya menampakkan dirinya. Tidak lama. Setelah menampakkan diri, buaya kuning itu lalu bergerak ke kolong rumah panggung yang ada di ujung jalan. Rumah yang ditempati Oetomo Lianto alias Aliang sekarang.
Sekitar strat bundar, belum ada rumah beton. Semua rumah panggung. Termasuk bangunan SMP 1, sekolah yang banyak alumninya jadi pejabat pemkab. Suasana sekitar strat bundar itu memang auranya beda. Terasa sekali suasana mistisnya. Apalagi menjelang magrib. Lampu penerang jalan masih sangat terbatas.
Ada yang juga yang bercerita kalau setiap malam Jumat, selain buaya kuning yang menampakkan diri, juga sering terlihat kuntilanak. Kadang menyeberang jalan di sekitar strat bundar. Kadang hanya berdiri di tepi jalan, berambut panjang bergaun putih.
Yang menarik, kisah tukang becak yang bercerita membawa seorang penumpang yang naik di sekitar strat bundar. Setelah menyebut tujuan, lalu diantarlah sang penumpang itu. Anehnya, si tukang becak setelah dibayar dan berlalu. Tiba kembali ke arah strat bundar, berniat mengambil uang pemberian penumpangnya di sakunya. Ternyata yang didapatkan hayalah dua lembar daun.
Menariklah cerita mistis yang dibahas di Warung Pojok hingga menjelang siang. Tentu banyak lagi cerita lainnya. Lahirlah usulan untuk mengembalikan dan menempatkan lagi sebuah tugu di tengah perempatan jalan itu.
Untuk mengenang kembali. Sehingga nama strat bundar yang lebih akrab di masyarakat bisa jadi kenangan. Yakinlah, sekarang buaya kuning dan kuntilanak sudah tidak ada. Termasuk cerita tukang becak. Becaknya pun sudah lama dihapus. (sam)
@cds_daengsikra
Editor : Nurismi