Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

72 Tahun

Beraupost • Selasa, 17 Desember 2024 - 11:10 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra


BELUM tuha bujur. Masih gesit. Masih bisa mengemudi mobil ke Mantaritip, Kampung Pilanjau. Masih kuat kelapangan memeriksa proyek. Suaranya masih sangat lantang. Apalagi kalau lagi marah. Hehe.
Warga tahunya Aliang. Tak banyak yang mengenal nama Oetomo Lianto. Itu nama yang tertulis di KTP. Saya dan teman-teman wartawan juga memanggilnya bos Aliang. Tempat bertemunya dengan wartawan dan pejabat di warung Hokky di Jalan Niaga.

Kemarin itu, jumpa tidak di Jalan Niaga. Kami ketemu di rumahnya. Di pojok jalan, bersebelahan dengan KFC. Sebelum ada tempat makan siap saji itu, Aliang disebut dengan nama lain. Apa itu? Bos simpang empat. Sekarang berganti, Bos KFC. Memang KFC menggunakan lahan milik Aliang.

Diundang bos Aliang Beh? Begitu pesan WA Yudi wartawan Berau Post. Di BNB atau di KFC? Kata saya. BNB itu Berau Nuansa Beton tempat usaha di sekitar Jalan Dermaga. Di KFC beh, kata Yudi. Padahal lagi asyik-asyiknya di warung pojok.
Maman yang pensiunan kantor pelabuhan itu, bercerita bagaimana pelayanan rumah sakit di Berau dan Samarinda dengan pelayanan di Island Hospital Penang, Malaysia. Dia pernah menjalani perawatan selama dua bulan di sana. Kalau saya membandingkan sangat jauh, baik layanan maupun biayanya, kata Maman.

Dibahaslah pembangunan rumah sakit yang sedang berjalan. Bangunan bertingkat. Yang dibayangkan, kelak ketika rumah sakit dinyatakan beroperasi, layanan akan jauh lebih baik dari sekarang. Kan masyarakat hanya memerlukan layanan yang baik dari petugas yang ramah penuh senyum, ungkapnya.

Saya pun meninggalkan warung pojok disaat hangat-hangatnya pembahasan soal layanan rumah sakit. Menuju simpang KFC. Rumah Aliang. Baru tahu kalau di rumahnya sedang ada pesta kecil perayaan ulang tahunnya. Tidak dilaksanakan di hotel. Acaranya sangat sederhana.
Rumah dua lantai yang dulu dipakai jualan kain (Toko Tolaram), di lantai satu disulap menjadi kantor. Ada belasan karyawan yang mengurusi banyak usahanya. Di ruang rapat berukuran kecil itulah tempat merayakan ulang tahun.

Ini ulang tahun yang ke berapa? Aliang pun menyebut sambil bergurau, yang ke 27. Dia tertawa. Tawanya masih segar di usia 72 tahun. Di ruang kecil ada sejumlah relasinya. Dari karyawan bank, para wartawan dan kontraktor dan keluarga dekatnya.

Di meja, ada berjejer tiga nasi tumpeng berukuran besar kiriman dari relasi kerjanya. Saya menikmati nasi uduk dengan tahu dan tempe goreng. Harusnya makan banyak. Pas jadwal makan siang. Hadir tiga putra almarhum HM Sulaiman, mantan Sekda Berau.

Sambil menikmati nasi uduk, saya menghitung-hitung usia pertemanan saya dengan Aliang. Sudah cukup lama. Saat usianya baru kepala empat. Dia punya andil besar dengan masyarakat Berau. Ketika dipercaya sebagai operator pesawat Bali Air yang melayani penerbangan ke Samarinda dan Balikpapan hingga ke Tarakan.

Ada rumah kayu di Jalan Niaga. Berhadapan dengan Warung Hokky. Di rumah itulah sekaligus dijadikan kantor layanan Bouraq dengan armada Bali Air. Kadang ikut jualan di Toko Tolaram, toko konveksi yang sudah ada sejak lama. Sekarang Toko Tolaram pindah ke Jalan Pulau Derawan.

Saya dan Aliang ketika bercerita masa lalu, akan muncul lagi cerita jualan kain di tepi jalan. Di depan Toko Tolaram. Saat itu, PT Kiani Kertas dalam proses pembangunan konstruksi. Ribuan karyawan yang menyerbu ke Tanjung Redeb setiap akhir pekan.

Lapak di tepian Jalan Ahmad Yani (Tepian Sungai Segah), dimanfaatkan ketika memasuki bulan puasa hingga beberapa hari jelang lebaran. Jauh sebelumnya, Aliang sudah belanja pakaian di Jakarta atau di Surabaya.

Tugas saya dan Aliang mengajak orang berbelanja. Teriak dengan nada rendah. Tidak dengan suara seperti kalau dia marah-marah. Ada almarhum Gufran yang tukang bungkus merangkap kasir. Saya dapat honor? Honor belum dikenal watu itu. Jatahnya, satu baju baru buat lebaran. Hehe.

Sekarang usia 72 tahun. Masih tetap lincah. Masih kuat mengayun stik golf. Pekerjaan usaha diserahkan keempat anak-anak yang yang lulusan Singapura dan Australia. Anak-anaknya inilah yang mengelola pengolahan beton, menangani SPBU dan usaha ayam di kebunnya di kampung Bangun, Sambaliung.

Dia mengaku bahagia. Diusianya seperti sekarang, keempat anak-anaknya sudah bisa melanjutkan pekerjaan. Dia hanya betugas sebagai mentor. Sehat terus Pak Aliang. Selamat ulang tahun. (sam)
@cds_daengsikra

Editor : Nurismi