Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Akibat Awan Cumulonimbus, Puting Beliung Muncul di Perairan Pulau Derawan

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Senin, 24 Juni 2024 | 19:55 WIB

 

BARU PERTAMA KALI: Kemunculan angin puting beliung atau waterspout di langit Kampung Pulau Derawan sempat menggegerkan masyarakat pada Minggu (23/6) siang.
BARU PERTAMA KALI: Kemunculan angin puting beliung atau waterspout di langit Kampung Pulau Derawan sempat menggegerkan masyarakat pada Minggu (23/6) siang.

PULAU DERAWAN – Masyarakat Pulau Derawan digegerkan dengan kemunculan angin puting beliung di langit Pulau Derawan, kemarin.

Dalam beberapa rekaman yang beredar di media sosial, terlihat pusara angin berbentuk piramida terbalik, dengan warna abu-abu seperti awan mendung terus berputar selama beberapa saat.

Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika menuturkan, kemunculan angin puting beliung itu kali pertama dirasakannya selama ini. “Memang baru ini ada fenomena itu,” ujarnya singkat pada Minggu (23/6).

Menurutnya, belum ada laporan adanya kerusakan bangunan maupun korban terluka ataupun korban jiwa terkait fenomena tersebut. “Sejauh ini, kondisi di Pulau Derawan dalam kondisi aman,” paparnya.

Salah satu wisatawan yang sedang berkunjung, Jefri membenarkan adanya angin puting beliung di wilayah Kampung Pulau Derawan. Namun itu terjadi hanya di atas perairan dan tidak mengarah ke permukiman.

Kejadian itu berlangsung sekitar jam 11.00 Wita. Usai angin puting beliung, Kampung Pulau Derawan mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat hingga pukul 12.00 Wita.

“Tidak lama usai kemunculannya, hujan deras sekali di sini (Derawan, red) kata Jefri.

Terpisah, Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau, Ade Heryadi melalui Kepala Kelompok Observasi BMKG Berau, Reygik Riskianera Himawan membenarkan adanya kemunculan fenomena angin puting beliung. Namun, fenomena ini bernama Waterspout, atau fenomena angin puting beliung yang terjadi di atas permukaan air yang luas.

Fenomena waterspout terbentuk dari sistem awan cumulonimbus (CB). Namun demikian, tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena tersebut, tergantung pada kondisi labilitas atmosfer.

“Karakteristik fenomena waterspout adalah kejadiannya bersifat lokal dan berlangsung tidak lebih dari 10 menit,” jelasnya.

Selain itu, kejadian lebih sering terjadi pada siang hingga sore hari dan terkadang menjelang malam hari. Hanya muncul dari sistem awan Cumulonimbus (CB), tetapi tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena waterspout.

Dirinya menjelaskan, kejadian ini memiliki peluang kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama dan waktu berdekatan. “Kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali,” terangnya.

Berdasarkan citra satelit Himawari kanal EH pada tanggal 23 Juni 2024 jam 11.00 Wita, teridentifikasi adanya awan CB di Perairan Berau yang terus membesar dan bergerak menuju daratan.

“Berau dalam beberapa hari ini berpotensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang bahkan potensi kejadian puting beliung atau watersprout masih perlu diwaspadai hingga beberapa hari mendatang,” ujarnya.

Ketika ada kejadian fenomena cuaca ekstrem (Waterspout) tersebut, masyarakat diimbau untuk berhati-hati dengan tidak mendekati area kejadian fenomena tersebut, dan mencari tempat untuk berlindung guna menghindari risiko yang lebih buruk.

“Kami imbau untuk lebih berhati-hati, dan tidak mendekat pada lokasi kejadian jika terjadi lagi,” pungkasnya. (sen/arp)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#puting beliung #derawan #cuaca