Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Belajar Jadi ‘Juleha’ di Masjid Jami Nurul Falah, Pahami Kondisi Hewan hingga Proses Sembelih yang Benar

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Senin, 27 Mei 2024 | 18:00 WIB
IKUTI PELATIHAN: Belasan Juru Sembelih Halal (Juleha) dari berbagai masjid di Berau, mengikuti pelatihan sembelih halal di Masjid Jami Nurul Falah, Minggu (26/5).
IKUTI PELATIHAN: Belasan Juru Sembelih Halal (Juleha) dari berbagai masjid di Berau, mengikuti pelatihan sembelih halal di Masjid Jami Nurul Falah, Minggu (26/5).

TANJUNG REDEB - Jelang Hari Raya Iduladha, pengurus Masjid Jami Nurul Falah, di Jalan Marsma Iswahyudi, menggelar Pelatihan Sembelih Halal yang digelar bersama dengan Baznas Berau.

Dalam melaksanakan sembelih hewan kurban, jauh sebelum masuk pada proses penyembelihan terdapat beberapa hal yang harus dipahami dan dimengerti para Juleha, sebutan bagi Juru Sembelih Halal.

Hal itu diutarakan Muhammad Rofi Prasetya, yang merupakan pegawai di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau. Ia menjelaskan beberapa hal penting, mulai dari pengamatan pada hewan kurban sebelum proses penyembelihan, hingga setelahnya.

“Pastikan semua perlengkapan dan petugas sudah siap sebelum hewan dibawa ke tempat penyembelihan,” ujarnya.

Sebab, para hewan juga memiliki bak kesejahteraan hewan (Kesrawan), dimana salah satunya adalah menjaga hewan tidak stres sebelum dilakukan penyembelihan. Di antara kiatnya ialah dengan kesiapan petugas dan peralatannya, serta tidak membiarkan hewan melihat proses penyembelihan hewan lainnya.

“Kebersihan dan kesiapan petugas perlu diperhatikan, pisau yang digunakan juga harus benar-benar tajam,” ujarnya.

Selain itu, hewan juga harus sehat dan telah diperiksa kesehatannya sebelum disembelih. Dirinya juga menerangkan, pengamatan sebelum disembelih atau pengamatan ante mortem. Dimana petugas sembelih memperhatikan setiap ciri khusus hewan sebelum dilakukan penyembelihan.

“Misalnya terlihat tanda-tanda Antraks, maka tidak diperbolehkan dilakukan penyembelihan,” terangnya.

Selain Antraks, terdapat bebedapa infeksi dan penyakit hewan kurban yang bisa dilihat. Misalnya penyakit tubuh benjol, atau Lumpy Skin Disease (LSD). Dimana terdapat kategori-kategori sehingga hewan kurban terinfeksi masih bisa disembelih atau tidak.

“Misalnya sebarannya sedikit, dan benjolan tidak menjadi koreng, maka masih diperbolehkan,” terangnya.

Pelatihan kemudian dilanjut dengan pemateri berikutnya, Ustaz Sofyan, yang membeberkan beberapa trik dan larangan bagi juleha-juleha yang akan beraksi pada lebaran haji mendatang.

Dirinya menyebut, faktor keselamatan adalah hal penting yang perlu menjadi perhatian para juleha. Sebab, keselamatan itu kerap menjadi hal yang disepelekan, meski punya faktor membahayakan bagi juleha itu sendiri.

“Faktor keselamatan itu penting, misalnya menggunakan sepatu yang aman, serta menggunakan sarung tangan anti sayatan,” ujarnya.

Selain itu, yang terpenting ialah ketajaman alat potong untuk menyembelih hewan kurban nanti. Dikatakan, panjang pendek pisau masih bisa ditoleransi, akan tetapi ketajaman pisau menjadi hal yang utama. Sehingga proses penyembelihan bisa berjalan dengan lancar hanya dengan sekali sayatan.

“Kita ini menyembelih, menyayat. Sehingga memang harus tajam, standardisasinya adalah bisa digunakan menggores kertas dengan mudah, InshaAllah itu bisa digunakan,” ujarnya.

Selain itu, cara menyembelih juga turut diajarkannya. Sebagaimana caranya adalah dengan teknik dorong, tarik atau dorong, dan tarik. Teknik ini dilakukan sebanyak-banyaknya hanya tiga kali tanpa mengangkat bilah pisau dari leher hewan kurban.

“Kalau pisau tajam, umumnya sekali tarik atau dorong maka akan tersembelih, tinggal dicek apakah empat saluran yang harus terputus sudah terputus atau belum. Jika sudah, maka selesai,” ujarnya.

Dirinya juga menegaskan, kepada juleha yang mengikuti pelatihan bisa benar-benar memperhatikan hal-hal tersebut, serta yang paling penting adalah menjaga hewan kurban benar-benar mati sebelum tim lainnya melaksanakan tugasnya.

“Ini penting usai sembelih, jangan pergi. Tunggu sampai benar-benar mati, karena kalau ada yang menguliti dan belum mati sempurna, bisa merubah hukum daging itu nanti,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami Nurul Falah, Masrunsyah, menuturkan, ini kali pertama dilaksanakannya pelatihan sembelih halal di masjid tersebut. Dirinya menyambut baik, sebab semakin dekatnya pelaksanaan lebaran haji, maka diperlukan juleha yang mengerti dan paham bagaimana proses penyembelihan dengan baik dan benar, serta sesuai dengan syariat agama.

"Dengan pelatihan ini, kami dan belasan petugas juleha dari masjid lain juga menjadi paham dan mengerti bagaimana proses penyembelihan yang baik benar, serta sesuai dengan tuntunan agama,” ungkapnya.

Dirinya berharap, dengan pelatihan ini bisa benar-benar menjadi penambah wawasan para juru sembelih dalam menjalankan tugasnya nanti. Sehingga, apa yang didapat bisa diterapkan ke depan.

“Kami kan terkadang juga taunya hanya sembelih, tapi dengan pelatihan ini kami jadi tahu bagaimana mengasah pisau, bagaimana proses penyembelihan yang baik dan benar sehingga menjadi mudah,” pungkasnya. (sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#juleha #kurban #iduladha