Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tepiah Buah Jadi Tuan Rumah Mubes Dayak Kenyah

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Rabu, 6 Maret 2024 | 11:30 WIB
LOKASI UTAMA: Balai adat yang berada di Kampung Tepian Buah akan digunakan untuk kegiatan Mubes Dayak Kenyah pada Juni mendatang.
LOKASI UTAMA: Balai adat yang berada di Kampung Tepian Buah akan digunakan untuk kegiatan Mubes Dayak Kenyah pada Juni mendatang.

SAMBALIUNG – Kampung Tepian Buah, Kecamatan Sambaliung menjadi tuan rumah musyawarah besar (Mubes) Dayak Kenyah se-Kaltim Kaltara tahun ini pada Juni mendatang. Sayangnya, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan dasar Tepian Buah dalam menyiapkan perayaan akbar tersebut.

Kepala Kampung Tepian Buah, Surya Emi Susianthi, menuturkan, kesiapan yang paling krusial menurutnya yakni air bersih. Pasalnya, jumlah peserta mubes nantinya diperkirakan mencapai 5.000 orang. Berasal dari berbagai kabupaten/kota se-Kaltim dan Kaltara hingga Malaysia turut hadir.

“Ini pekerjaan rumah besar bagi kami sebagai tuan rumah. Bagaimana tamu yang datang bisa terlayani dengan air bersih lancar,” katanya.

Dalam pemenuhan air bersih tersebut, pihaknya telah membawa pipa ke sumber mata air pegunungan sepanjang 5 kilometer (Km). Sayangnya karena anggaran yang terbatas, lokasi pipa hanya sampai ujung kampung saja. Tidak bisa mengalir hingga ke rumah warga.

Selama ini pihaknya menganggarkan pipa tersebut dari anggaran dana kampung (ADK) Tepian Buah. “Apakah Pemkab Berau bisa membantu kami melanjutkan air bersih di Tepian Buah ini? Karena ditakutkan juga ada regulasi yang tidak sesuai,” ucapnya.

Sementara itu, untuk lanjutan pembangunan balai adat sendiri telah mendapat bantuan hibah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau. Jika kebutuhan air ini dapat terpenuhi, tentunya kebutuhan yang lain akan dapat disesuaikan dengan kondisi. 

“Kalau balai adat untuk digunakan sebagai kegiatan inti kami sudah bisa digunakan,” ungkapnya.

Disebutkannya, adapun anggaran yang dibutuhkan dalam kegiatan Mubes Dayak Kenyah tersebut sekitar Rp 600 juta. Baik itu konsumsi, air, listrik dan biaya operasional lain yang dibutuhkan.

Dirinya berharap Mubes ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di Kecamatan Segah terutama Kampung Tepian Buah yang menjadi tuan rumah tahun ini.

Pihaknya juga akan menyiapkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) andalan khas Segah, mulai dari kerajinan tangan hingga kulinernya. Konsepnya akan disusun badan usaha milik kampung (BUMK). Mereka akan menyiapkan tempat dan menyewakan kepada pelaku usaha yang ingin menjual produknya.

“Jadi siapa saja yang memiliki produk mereka bisa berpartisipasi dalam mubes. Karena kami telah menyiapkan tempat khusus bagi mereka,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Berau, Gamalis menyampaikan Pemkab Berau siap mendukung kegiatan Mubes Dayak Kenyah tersebut. Dalam mubes tersebut, selain membawa nama Tepian Buah sebagai tuan rumah, ini juga membawa nama baik Kabupaten Berau.

“Tentu kami akan mendukung apa yang menjadi kebutuhan mereka. Kami akan diskusikan bersama kepala kampung apa yang perlu dibantu sebagai bentuk dari kerja sama ini,” ucap Gamalis.

Pihaknya belum dapat membeberkan apakah ada batasan tertentu. Yang jelas, dirinya akan melihat kembali usulan proposal yang diserahkan pihak kampung kepada Pemkab Berau. Terkait kebutuhan air bersih, dirinya bersama Perumda Air Minum Batiwakkal telah meninjau langsung keadaan sumber air bersih yang ada di ujung Kampung Tepian Buah tersebut.

Sebelumnya, pada tinjauan itu, selain melihat kondisi di lapangan juga untuk mengambil sampel air untuk di tes oleh Perumda Air Minum Batiwakkal. Pihaknya masih akan mendiskusikan apakah sumber air tersebut nantinya bisa difungsikan untuk mengaliri rumah masyarakat. Meskipun saat ini sudah ada jaringan dari Perumda Air Minum Batiwakkal kepada sebagian rumah warga.

“Nah ini kan dilihat dulu, apakah airnya aman, nanti di tes. Kemudian bagaimana regulasi nantinya,” ungkapnya.  

Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman menjelaskan timnya telah membawa sampel air sebanyak hampir 380 ml untuk dilihat apakah terdapat kandungan berbahaya. Namun, dari pengecekan di lapangan diketahui air yang keluar berwarna bening, tidak memiliki aroma dan tidak memiliki rasa.

“Untuk kepastiannya, kita lakukan uji laboratorium dahulu, dan akan diperiksa lebih lanjut,” jelasnya.

Usai pemeriksaan, nantinya baru dilakukan pembahasan untuk pemanfaatannya. Sebab, mengomersialkan mata air dari alam tidak bisa serta merta dilakukan. Ada beberapa regulasi yang harus dipenuhi, satu di antaranya adalah pemenuhan pembayaran pajak air permukaan.

“Nanti kalau memang hasilnya baik, kita akan rumuskan regulasinya,” tutupnya. (*/aja/arp) 

Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #Dayak #MUBES