TANJUNG REDEB – Peristiwa tragis terjadi di Kampung Tubaan, Kecamatan Tabalar, Minggu (11/5) sore.
Seorang pria berinisial AL (27) tewas mengenaskan setelah ditebas rekan kerjanya sendiri berinisial M (50), saat keduanya tengah bekerja memasang tenda pernikahan.
Dari informasi yang dihimpun, peristiwa bermula saat korban dan pelaku sedang beristirahat di sela pekerjaan.
Di saat itu, korban diduga sempat melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaan pelaku.
Perkataan tersebut diduga memicu emosi pelaku yang sejak lama telah menyimpan dendam kepada korban.
Kapolsek Tabalar, AKP Suradi, melalui Kasi Humas Polres Berau, AKP Ngatijan, menjelaskan, ketegangan antara keduanya ternyata bukan baru pertama kali terjadi.
Menurut keterangan yang dihimpun dari penyelidikan awal, pelaku M merasa telah lama menyimpan sakit hati kepada korban karena beberapa insiden sebelumnya.
“Sempat ada ancaman pengeroyokan dari korban. Bahkan, menurut keterangannya motor milik pelaku M ini pun sempat ditabrak dengan korban, sehingga ada dendam di antara pelaku dan korban ini,” ujarnya kepada Berau Post, Selasa (13/5).
Merasa harga dirinya diinjak dan tidak bisa lagi menahan amarah, pelaku pun meninggalkan lokasi kerja dan pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari tempat kejadian.
Alih-alih menenangkan diri, ia justru mengambil sebilah parang. Sekitar pukul 16.30 Wita, pelaku kembali ke lokasi kejadian dan langsung berpapasan dengan korban.
Tanpa banyak kata, pelaku langsung menebaskan parangnya ke dada dan tangan korban secara brutal.
“Korban langsung bersimbah darah saat dilerai, ternyata korban pun telah meninggal di tempat,” tuturnya.
Usai melakukan aksi sadis tersebut, M tidak berusaha melarikan diri. Ia malah berjalan santai menuju Mapolsek Tabalar dan menyerahkan diri tanpa melakukan perlawanan.
“Pelaku datang sendiri dan langsung mengakui perbuatannya. Saat ini kami telah menahannya dan proses hukum sedang berjalan,” tegasnya.
Dalam penyelidikan awal, aparat kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti berupa parang yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban serta kendaraan yang dipakai oleh pelaku.
“Personel juga telah meminta keterangan dari saksi mata, Ruben (63) yang merupakan pemilik rumah tempat korban dan pelaku bekerja memasang tenda,” sebutnya.
Menurut keterangan saksi, keduanya memang terlihat tidak terlalu akrab sejak awal.
“Waktu kerja juga mereka jarang ngobrol, kadang saling pandang sinis. Tapi saya tidak menyangka akan seburuk ini. Apalagi sampai ada yang meninggal,” kata Suradi saat memintai keterangan saksi.
Dengan adanya kejadian ini, itu prihatin dengan kejadian ini. Ia menegaskan bahwa emosi sesaat yang tidak terkendali kerap berujung fatal, seperti kasus yang baru saja terjadi.
Ia juga mengingatkan warga agar tidak mudah terpancing, terlebih dalam kondisi yang tidak stabil.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak menyelesaikan persoalan pribadi dengan cara kekerasan. Amarah sesaat bisa menghilangkan nyawa orang lain, dan tentu saja masa depan sendiri. Kami akan mendalami kasus ini hingga tuntas, termasuk motif pelaku dan latar belakang hubungan antara korban dan pelaku,” tutupnya. (aky/sam)
Editor : Nurismi