Diduga Ada Aktivitas Perusakan Ekosistem,Bupati Berau Bakal Panggil Pengelola Resor

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 07:20 WIB
Bupati Berau, Sri Juniarsih. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)
Bupati Berau, Sri Juniarsih. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)

BERAU POST - Kelestarian ekosistem laut di Perairan Kabupaten Berau kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

Hal ini menyusul adanya aktivitas sejumlah wisatawan yang diduga melakukan perburuan biota laut yang dilindungi di kawasan perairan Pulau Maratua. 

Persoalan tersebut menjadi perhatian serius lantaran kawasan Maratua selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan Berau dengan kekayaan ekosistem bawah laut yang menjadi daya tarik wisatawan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih menegaskan, pemerintah daerah memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian laut beserta seluruh ekosistem yang ada di dalamnya. 

Menurutnya, aktivitas wisata tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keberlangsungan lingkungan. Setiap tindakan yang berpotensi merusak ekosistem laut, termasuk penggunaan speargun, pengeboman, maupun metode lain yang dilarang oleh peraturan. 

“Saya mengecam keras setiap aktivitas yang merusak laut Maratua, baik menggunakan speargun, mengebom maupun cara-cara lain yang dilarang oleh aturan,” tegasnya.

Sri Juniarsih meminta organisasi perangkat daerah (OPD) maupun instansi terkait segera mengambil langkah sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

Termasuk melakukan pemanggilan terhadap pihak pengelola resor yang berkaitan dengan kejadian tersebut.

Langkah itu diperlukan untuk memperoleh penjelasan secara langsung sekaligus memastikan aktivitas wisata yang berlangsung di kawasan tersebut sesuai dengan ketentuan.

Menurutnya, pengelolaan destinasi wisata bahari harus berjalan seiring dengan upaya perlindungan lingkungan. Jangan sampai aktivitas pariwisata justru memberikan tekanan terhadap ekosistem yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. 

“Maratua sendiri merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang memiliki potensi besar, khususnya dari kekayaan bawah laut. Karena itu, keberadaan terumbu karang, biota laut dan ekosistem lainnya perlu dijaga secara berkelanjutan,” pintanya.

Bupati juga meminta pengawasan terhadap berbagai aktivitas di perairan Maratua diperketat. Pengawasan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak yang beraktivitas di kawasan wisata. 

“Saya minta pengawasan diperketat. Siapa pun yang terbukti melanggar aturan yang berlaku harus ditindak sesuai ketentuan,” ujarnya.

Sri Juniarsih menekankan aturan terkait perlindungan ekosistem laut harus dipatuhi tanpa melihat latar belakang pelakunya.

Hal tersebut penting untuk memberikan kepastian bahwa kawasan konservasi maupun kawasan wisata bahari tetap terlindungi. 

Ia juga mengajak masyarakat, pelaku usaha pariwisata serta komunitas yang beraktivitas di kawasan pesisir dan laut untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.

Apabila menemukan adanya aktivitas yang dilarang atau berpotensi merusak ekosistem, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada instansi berwenang sehingga dapat ditindaklanjuti. 

“Laut Berau adalah kekayaan Berau. Kita jaga, kita lindungi, dan jangan sampai ada yang bisa merusaknya,” tegasnya.

Lanjut Sri Juniarsih, pengembangan pariwisata bahari tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Keindahan laut dan kekayaan bawah air justru menjadi modal utama yang harus dipertahankan, agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. 

“Karena itu, perlunya sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, pengelola wisata, masyarakat dan wisatawan untuk memastikan setiap aktivitas di kawasan perairan Berau tetap berada dalam koridor aturan dan tidak mengancam keberlangsungan ekosistem laut,” tutupnya.(aky/adv/arp) 

Editor : Nurismi
perburuan biota laut pengawasan Pulau maratua