Kebutuhan Seribu Batang Per Hektare, DTPHP Berau Distribusikan 200 Ribu Bibit Kakao untuk Petani

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:30 WIB
DUKUNG KAKAO: Sebanyak 200 ribu bibit kakao dari Kementerian Pertanian disiapkan untuk mendukung perluasan areal tanam hingga 200 hektare. (SENO/BP)
DUKUNG KAKAO: Sebanyak 200 ribu bibit kakao dari Kementerian Pertanian disiapkan untuk mendukung perluasan areal tanam hingga 200 hektare. (SENO/BP)

BERAU POST - Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong pengembangan komoditas kakao sebagai salah satu sektor pertanian yang berpotensi meningkatkan perekonomian petani.

Melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), sebanyak 200 ribu bibit kakao disiapkan untuk mendukung perluasan areal tanam hingga 200 hektare.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, kebutuhan bibit disesuaikan dengan luasan lahan yang akan dikembangkan. Dalam perhitungannya, setiap hektare lahan membutuhkan sekitar 1.000 bibit kakao.

“Sekitar 1.000 bibit untuk setiap hektare. Jadi 200 hektare membutuhkan 200 ribu bibit,” jelasnya.

Penyaluran bibit tersebut dilakukan secara bertahap kepada delapan kelompok tani yang tersebar di enam kampung yang menjadi sentra pengembangan kakao di Kabupaten Berau.

Lita menjelaskan, pemberian bibit baru menjadi langkah awal dalam rangkaian pengembangan perkebunan kakao.

Setelah bibit diterima, petani tetap membutuhkan pendampingan agar proses penanaman hingga pemeliharaan tanaman dapat dilakukan sesuai dengan standar teknis budidaya.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan kakao tidak hanya bergantung pada kualitas bibit yang diberikan.

Perawatan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga pengelolaan kebun turut menentukan produktivitas tanaman ketika memasuki masa panen.

Karena itu, DTPHP Berau akan terus melakukan pendampingan kepada kelompok tani yang menerima bantuan. Upaya tersebut diperlukan agar bantuan bibit yang diberikan dapat tumbuh optimal dan menghasilkan tanaman produktif dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Lita menilai kakao memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan bagi masyarakat. Salah satu indikatornya terlihat dari harga kakao kering yang saat ini dapat mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram.

“Harga jual kakao kering saat ini bisa tembus Rp180 ribu per kilogram,” katanya.

Meski begitu, harga yang diterima petani tetap bergantung pada kualitas hasil produksi serta kondisi pasar. Karena itu, peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga mutu hasil panen dan memperbaiki penanganan pascapanen.

Pemerintah daerah juga berupaya memberikan dukungan lanjutan melalui bantuan sarana produksi pertanian. Selain pupuk, tambahan bibit juga diupayakan untuk memperluas kawasan pengembangan kakao di Berau.

“Dukungan pupuk dan tambahan bibit akan terus kami upayakan,” pungkas Lita. (sen/adv/arp) 

Editor : Nurismi
pertanian kakao pemkab berau