Tak Lagi Masuk APBD, DTPHP Berau Perjuangkan Bantuan Alsintan dan Saprodi Petani

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 10:35 WIB
TERUS DIUSULKAN: DTPHP Berau terus berupaya memperjuangkan kebutuhan sarana produksi pertanian dan alat mesin pertanian bagi petani. (BERAU POST)
TERUS DIUSULKAN: DTPHP Berau terus berupaya memperjuangkan kebutuhan sarana produksi pertanian dan alat mesin pertanian bagi petani. (BERAU POST)

BERAU POST— Pemenuhan sarana produksi pertanian (saprodi) dan alat mesin pertanian (alsintan) bagi petani di Bumi Batiwakkal terus diperjuangkan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP). 

Berbagai kebutuhan tersebut kini secara intensif diusulkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan). Menyusul perubahan kewenangan dalam pengadaan sejumlah kebutuhan pertanian. 

Diketahui pada 2026, pengadaan alsintan dan saprodi tidak lagi dapat direalisasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Berau.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, perubahan kewenangan tersebut membuat anggaran yang sebelumnya telah dialokasikan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) 2026 tidak dapat direalisasikan untuk pengadaan alsintan dan saprodi. 

“Sebenarnya DPA 2026 ada alokasinya. Hanya saja karena ada perubahan kewenangan maka tidak bisa dilaksanakan,” ungkap Lita.

Saat ini penyediaan sejumlah sarana produksi pertanian dan alsintan menjadi kewenangan pemerintah pusat. Karena itu, Pemkab Berau menyesuaikan mekanisme pengadaan dengan mengusulkan kebutuhan petani kepada Kementan. 

Pengusulan tersebut juga dilakukan sesuai arahan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). “Semua kebutuhan kami ajukan ke pusat. Benih, pupuk, alsintan dan yang lainnya. Kewenangan daerah hanya prasarana saja seperti penyiapan lahan dan bangunan saja,” jelasnya.

Lita menyebut, sepanjang 2026, DTPHP Berau telah menyampaikan berbagai usulan kepada Kementan. Sejumlah bantuan pun mulai direalisasikan dan disalurkan untuk mendukung aktivitas pertanian di daerah. 

Bantuan yang telah diterima di antaranya benih padi sawah, bibit cabai, dua unit combine harvester atau mesin panen padi, program cetak sawah, rehabilitasi sawah, hingga perbaikan saluran irigasi.

“Kami sudah dapat bibit padi sawah, bibit cabai, combine harvester atau mesin panen padi dua unit, cetak sawah, rehab sawah dan perbaikan saluran irigasi,” terangnya.

Meski sejumlah bantuan telah mengalir, Lita mengakui jumlah tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan petani Berau.

Apalagi, kebutuhan pertanian di lapangan cukup besar dan harus disesuaikan dengan luasan lahan serta jumlah petani yang membutuhkan dukungan.

“Dibilang cukup, ya pasti belum cukup. Tapi mendapatkan yang ada itu sudah sangat bagus. Karena kita harus bersaing dengan daerah lain,” ujarnya.

Menurut Lita, dukungan alsintan dan saprodi sangat penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas pertanian. Keberadaan mesin pertanian, misalnya, dapat membantu mempercepat proses pengolahan hingga panen.

Sementara ketersediaan benih dan sarana produksi lainnya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi. 

Lita pun meminta bantuan yang telah diterima dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani dan kelompok tani.

“Kami terus sampaikan ke pusat usulan kebutuhan petani sebanyak mungkin sesuai kebutuhan di lapangan,” tandasnya.(aky/adv/arp) 

Editor : Nurismi
DTPHP Berau pertanian kementerian pertanian