BERAU POST – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mendorong pelestarian kuliner tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Upaya tersebut dilakukan dengan mengenalkan kembali makanan khas yang memiliki nilai sejarah dan makna budaya kepada masyarakat.
Salah satunya melalui Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, dan Festival Jajanan Tradisional yang digelar di Halaman GOR Pemuda Tanjung Redeb, Rabu (23/9).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan Hari Ulang Tahun ke-216 Kota Tanjung Redeb.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya pihaknya mencari cara untuk menjaga keberadaan budaya daerah, khususnya dalam hal kuliner.
“Kami selama ini berupaya mencari cara melestarikan budaya kita, dalam hal ini kuliner. Oleh karenanya, kami berharap masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif setiap ada kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Dijelaskannya, ancur paddas merupakan salah satu kuliner yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Berau. Bahan serta cara pengolahannya disebut sebagai warisan dari masa kesultanan atau kerajaan terdahulu.
Secara makna, ancur berarti hancur hingga menjadi bubur. Sementara paddas berarti pedas. Namun, rasa pedas pada makanan tersebut tidak berasal dari cabai, melainkan dari penggunaan berbagai rempah yang tersedia di Berau.
Selain ancur paddas, Disbudpar juga mengenalkan puncak rasul yang memiliki makna tersendiri. Kuliner tersebut disajikan masyarakat Banua di lingkungan kerabat kedua kesultanan dan biasanya hadir dalam acara tertentu, seperti syukuran hari besar Islam maupun kegiatan sakral lainnya.
Puncak rasul ditumpuk menyerupai kerucut namun tumpul dan memiliki tiga tingkatan warna, yakni kuning, merah, dan putih. Warna kuning menggambarkan keagungan dan kehormatan kerajaan.
Sementara warna merah menggambarkan para pengabdi kerajaan, termasuk menteri dan pengawal yang memiliki peran mengayomi serta melindungi masyarakat.
Adapun warna putih dimaknai sebagai kerukunan masyarakat Berau. Bahan utama puncak rasul berasal dari ketan. Sifat ketan yang lengket menjadi simbol kerukunan masyarakat.
“Puncak rasul ini memiliki makna dari setiap warnanya. Bahan utamanya ketan, yang sifatnya lengket dan menjadi simbol kerukunan masyarakat di Berau,” jelasnya.
Selain lomba kuliner khas, festival tersebut juga menghadirkan berbagai jajanan tradisional. Kegiatan itu mendapat partisipasi dari sejumlah pihak, mulai dari instansi, hotel, hingga organisasi kemasyarakatan.
Dirinya berharap keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengenalkan kuliner tradisional dapat terus tumbuh.
Dengan begitu, makanan khas Berau tidak hanya dikenal sebagai sajian, tetapi juga tetap menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya daerah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Keberagaman jajanan yang ditampilkan turut mencerminkan Berau sebagai daerah terbuka yang memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam,” pungkasnya.(aja/adv/arp)
Editor : Nurismi