Lestarikan Warisan Dua Kesultanan, Disbudpar Berau Kembangkan Potensi Adat Istiadat Jadi Daya Tarik

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 08:35 WIB
JAGA BUDAYA: Disbudpar Berau mendorong penggalian dan pelestarian berbagai tradisi masyarakat, sebagai bagian dari penguatan budaya daerah. (IZZA/BP)
JAGA BUDAYA: Disbudpar Berau mendorong penggalian dan pelestarian berbagai tradisi masyarakat, sebagai bagian dari penguatan budaya daerah. (IZZA/BP)

BERAU POST — Sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau terus mendorong pengembangan berbagai tradisi masyarakat. 

Selain menjadi warisan yang perlu dilestarikan, tradisi dan kegiatan adat dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata berbasis budaya dan masyarakat.

Kepala Disbudpar Berau, Yuda Budi Santosa mengatakan, pengembangan budaya harus tetap berjalan dengan memperhatikan pakem adat, kelestarian lingkungan, keselamatan, serta norma yang berlaku di tengah masyarakat. 

Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk kepentingan pariwisata, tetapi juga memastikan budaya tetap hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Namun, pengembangan tersebut tetap harus memperhatikan pakem adat, kelestarian lingkungan, keselamatan, serta norma yang berlaku di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menilai, kekayaan budaya Berau masih sangat luas untuk digali, termasuk sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Berau hingga berkembang menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

Warisan seni, adat istiadat, serta berbagai tradisi yang berkembang dari kedua kesultanan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dan ditampilkan secara lebih terintegrasi.

Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar pengembangan budaya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pemerintah daerah bersama masyarakat, tokoh adat, pihak kesultanan, dan pemangku kepentingan lainnya dapat duduk bersama merumuskan agenda kebudayaan.

Supaya mampu menghubungkan berbagai tradisi yang selama ini masih berlangsung di sejumlah wilayah dan kampung.

“Kami ingin menggali, melestarikan dan mempersatukan budaya-budaya yang ada ini,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pentingnya regulasi daerah yang dapat memperkuat keberadaan dan pelestarian warisan Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

Regulasi tersebut diharapkan dapat menjadi landasan agar program pemerintah daerah maupun kegiatan kesultanan dapat berjalan lebih terarah dan saling mendukung.

Terlebih, berbagai tradisi yang masih dikenal di tengah masyarakat juga perlu kembali digali. Di antaranya tradisi yang berkaitan dengan upacara adat perkawinan, kelahiran, hingga pengobatan tradisional.

Pengetahuan dan praktik yang diwariskan dari generasi sebelumnya menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu didokumentasikan dan dipelihara keberlangsungannya.

“Bagaimana orang-orang tua dan para leluhur kita dulu menjalankan tradisi dan upacaranya, itu kita gali kembali menjadi suatu kesatuan di Kabupaten Berau,” tuturnya.(aja/adv/arp) 
 
 
 

Editor : Nurismi
Disbudpar Berau wisata budaya kesultanan