Suhu Panas Picu Kenaikan Kadar Garam, Pembudidaya Tambak di Berau Perketat Pemantauan

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 08:35 WIB
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)

BERAU POST - Fenomena El Nino yang memicu peningkatan suhu udara mulai memberikan dampak terhadap aktivitas budidaya perikanan air payau di Kabupaten Berau.

Kondisi ini membuat pembudidaya harus menghadapi perubahan kualitas lingkungan tambak yang berpotensi menekan produktivitas. 

Salah satu dampak yang mulai dirasakan adalah meningkatnya salinitas atau kadar garam air tambak akibat kenaikan suhu.

Perubahan tersebut membuat kondisi perairan tidak lagi seideal saat cuaca normal, sehingga pertumbuhan komoditas budidaya ikut terdampak.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono mengatakan, peningkatan suhu menjadi salah satu tantangan yang saat ini dihadapi para pembudidaya perikanan yang ada di Kabupaten Berau. 

“Fenomena ini secara umum membuat budidaya air payau agak terkendala dari sisi peningkatan suhu yang memicu naiknya salinitas,” ujarnya kepada awak media ini.

Menurutnya, tekanan terhadap kondisi tambak tersebut mulai terlihat pada hasil produksi. Pembudidaya yang sebelumnya dapat memperoleh hasil sekitar 500 hingga 800 kilogram dalam sekali panen, kini sebagian harus menerima hasil yang lebih rendah. 

Penurunan tersebut tidak terlepas dari kemampuan pembudidaya dalam menyesuaikan pengelolaan tambak dengan kondisi lingkungan yang berubah. 

Lanjutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, jika perubahan kondisi lingkungan berlangsung dalam waktu panjang tanpa penanganan yang tepat, bukan tidak mungkin produktivitas perikanan budidaya di Berau akan semakin tertekan. 

“Yang penting bagaimana pembudidaya bisa menyesuaikan dengan kondisi alam yang ada,” jelasnya.
Budidaya air payau sendiri menjadi salah satu sektor yang cukup penting dalam menopang produksi perikanan di Kabupaten Berau.

Sejumlah komoditas, seperti udang windu dan ikan bandeng, sangat bergantung pada kualitas air dan kondisi lingkungan tambak yang stabil. 

Ketika suhu meningkat dan kadar garam mengalami perubahan, pembudidaya dituntut lebih aktif melakukan pemantauan.

Pengelolaan kualitas air menjadi salah satu kunci agar komoditas tetap dapat bertahan dan tumbuh secara optimal meski berada di tengah tekanan perubahan cuaca. 

Meski produksi mengalami tekanan, Budiono memastikan pembudidaya masih memiliki peluang pasar yang cukup terbuka. Persoalan pemasaran, khususnya untuk komoditas udang, sejauh ini belum menjadi kendala utama.

“Permintaan pasar masih tinggi,” katanya.
Hasil panen pembudidaya di Berau, lanjutnya, masih diserap oleh sejumlah penampung sebelum dikirim ke berbagai daerah.

Beberapa di antaranya Balikpapan, Tarakan hingga Surabaya. Dari sejumlah daerah tersebut, komoditas perikanan asal Berau kemudian kembali dipasarkan ke berbagai wilayah, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. 

“Kami juga mendorong komoditas yang lebih mampu menghadapi perubahan salinitas serta memperkuat pendampingan kepada pembudidaya di sejumlah wilayah,” pungkasnya.(aky/adv/arp) 

 

Editor : Nurismi
budidaya ikan Diskan Berau tambak