Waspada Bahaya Malware Password Stealer, Diskominfo Berau Ingatkan Ancaman Pencurian Rekening-Data

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 07:33 WIB
 Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi.(BERAU POST)
Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi.(BERAU POST)

BERAU POST - Ancaman keamanan digital semakin beragam. Salah satu yang perlu diwaspadai pengguna perangkat digital adalah password stealer atau infostealer, yakni malware yang bekerja secara diam-diam untuk mencuri data rahasia dari perangkat tanpa memicu peringatan sistem.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Berau, Didi Rahmadi mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat maupun mengakses berbagai layanan digital.

Pasalnya, data yang dicuri malware tersebut dapat berkaitan dengan akun pribadi hingga informasi yang berhubungan dengan keuangan.

Diketahui password stealer dapat menyasar berbagai data yang tersimpan atau digunakan pada perangkat. Salah satu target utamanya adalah browser, termasuk password yang tersimpan melalui fitur autofill, cookies, hingga session tokens.

Selain itu, akun media sosial seperti Instagram, TikTok, dan email juga menjadi sasaran. Data finansial seperti akses m-banking dan e-wallet turut berisiko dicuri. Bagi pengguna aset kripto, malware jenis ini juga dapat mengincar wallet keys.

“Ancaman tersebut menjadi lebih berbahaya, karena proses pencurian dapat berlangsung tanpa diketahui pengguna,” katanya.

Perangkat tetap terlihat bekerja seperti biasa, sementara data penting dapat diambil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Adapun salah satu jalur masuk malware adalah melalui phishing dan spam. Pengguna dapat menerima lampiran email maupun tautan palsu yang dibuat menyerupai tagihan, dokumen, atau informasi penting. Ketika tautan atau file tersebut dibuka, perangkat berpotensi terinfeksi.

“Risiko serupa juga muncul dari penggunaan perangkat lunak ilegal. File crack, keygen, maupun installer modifikasi yang diperoleh dari sumber tidak resmi dapat telah disusupi kode berbahaya,” terangnya. 

Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai malvertising atau iklan berbahaya. Iklan semacam ini dapat muncul pada situs tidak resmi dan berpotensi mengarahkan pengguna ke unduhan yang mengandung malware.

Jika perangkat telah terinfeksi, dampaknya tidak sebatas kehilangan data. Salah satu risiko terbesar adalah pengambilalihan akun. Peretas dapat memperoleh akses ke email, media sosial, maupun portal kerja yang digunakan korban.

“Kerugian juga dapat terjadi pada sektor finansial. Data yang dicuri dapat dimanfaatkan untuk melakukan transaksi tanpa izin, mengakses e-wallet, menguras saldo rekening, hingga mengambil aset kripto,” jelasnya.

Ancaman lainnya adalah pencurian identitas. Data pribadi yang berhasil diperoleh dapat disalahgunakan atau diperjualbelikan, termasuk untuk kepentingan pinjaman online ilegal.

Karena itu, Diskominfo Berau mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga keamanan akun dan perangkat.

Pengguna disarankan menggunakan dedicated password manager untuk membantu mengelola kata sandi secara lebih aman serta mengaktifkan autentikator sebagai lapisan pengamanan tambahan.

Masyarakat juga diminta menghindari penggunaan perangkat lunak bajakan maupun modifikasi ilegal. Sistem operasi dan antivirus perlu diperbarui secara berkala agar perlindungan perangkat tetap berjalan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah membiasakan diri memeriksa setiap tautan maupun lampiran sebelum membukanya.

“Jangan mudah mengklik tautan yang berasal dari sumber tidak dikenal, terlebih jika pesan tersebut meminta pengguna memasukkan data pribadi atau informasi akun,” pesannya.

Kewaspadaan pengguna menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah pencurian data. Dengan memahami cara malware masuk dan mengenali risikonya, masyarakat diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam beraktivitas di ruang digital. (aja/adv/arp) 

 

 

Editor : Nurismi
infostealer pencurian data Diskominfo Berau