BERAU POST – Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Berau sepanjang musim tanam 2026 berdampak terhadap produksi tanaman pangan. Sejumlah lahan pertanian warga mengalami gagal panen atau puso, terutama yang berada jauh dari sumber air.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan, kondisi tersebut terjadi di sejumlah lokasi yang menjadi kawasan pengembangan padi sawah. Selain kekeringan, serangan hama dan penyakit juga menjadi faktor yang memperparah kondisi tanaman.
“Kondisi kemarau tahun 2026 ini di beberapa lokasi potensi pengembangan padi sawah banyak yang mengalami gagal panen. Puso selain kekeringan juga karena hama dan penyakit,” kata Lita.
Dijelaskan, puso merupakan kondisi ketika lahan tanaman mengalami gagal panen total karena rusak berat sehingga tidak mengeluarkan hasil sama sekali.
Menurutnya, kondisi cuaca selama kemarau turut meningkatkan potensi serangan penyakit pada tanaman.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani padi, tetapi juga petani yang mengembangkan komoditas lain seperti jagung, cabai dan sayuran.
Ia menyebut, gagal panen terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Buyung-Buyung, Semurut, Merancang Hulu, Merancang Ilir, Melati Jaya dan Labanan Jaya.
Di Labanan Jaya, dari 118 hektare lahan yang ditanami pada musim gadu, hanya sekitar 75 hektare yang dapat dipanen. Sementara sekitar 11,8 hektare mengalami puso akibat kekeringan.
“Lahan yang kekeringan yang jauh dari sumber air. Jadi gagal 11,8 hektare itu gagal panen di sini, puso,” ujarnya.
Di sisi lain, masih terdapat pula sawah yang masih menghasilkan, namun produktivitasnya menurun. Penurunan hasil tersebut cukup signifikan dibandingkan kondisi normal.
“Mereka (petani) biasanya panen sebanyak tiga ton, paling tahun ini bisa satu ton per hektarenya,” katanya.
Dampak kemarau juga terjadi pada tanaman jagung dan cabai. Produksi kedua komoditas tersebut turut mengalami penurunan. Dari target produksi yang telah ditetapkan, baru sekitar 40 persen yang dapat dipanen.
Meski begitu, tidak seluruh lahan pertanian mengalami gagal panen. Sebagian petani masih dapat mempertahankan tanamannya, terutama lahan yang memiliki akses terhadap sumber air. “Banyak juga yang tidak gagal panen,” ujarnya.
Adapun persoalan utama yang perlu dibenahi untuk mengurangi risiko puso adalah sistem irigasi. Ketersediaan air menjadi sangat menentukan, terutama bagi lahan yang berada jauh dari sumber air.
Selama saluran masih memiliki air, petani sebenarnya masih dapat memanfaatkan pompa untuk mengairi sawah. Namun, ketika saluran atau parit ikut mengering, pompa tidak lagi dapat digunakan.
“Kalau dia masih ada air, masih bisa dipompa. Tapi kalau paritnya juga kering, tidak bisa dipompa,” jelasnya.
Karena itu, saluran pembawa air dari sungai maupun dam perlu ditinjau dan diperbaiki. Menurutnya, terdapat bagian saluran yang mengalami kebocoran, sehingga air tidak dapat mengalir hingga ke petak sawah yang berada paling jauh.
“Itu yang perlu direhab, supaya tidak ada bocor, sehingga bisa sampai ke petak sawah yang terjauh,” tuturnya.
Sambungnya, di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi, Lita mengatakan bantuan pemerintah tetap diarahkan kepada kelompok tani.
Petani yang tergabung dalam kelompok tetap memiliki peluang mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan dan ketersediaan program.
“Seberapa pun kelompok yang dibutuhkan petani, sepanjang dia berkelompok, untuk kelompok pasti di-support,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan Pemkab Berau untuk mendukung sektor pertanian, salah satunya di Kampung Labanan Jaya.
Di antaranya melalui revitalisasi saluran pembuangan di kawasan Labanan Jaya, peningkatan saluran drainase di Jalan Raja Wali dan sekitarnya, serta normalisasi saluran drainase kelompok tani.
Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan penggalian saluran kelompok tani sebagai bagian dari upaya menunjang kelancaran aktivitas pertanian masyarakat.
“Sementara yang bisa kami lakukan, kami akan terus mendorong supaya usaha para petani kita dapat kita support untuk memaksimalkan hasil tani,” ujarnya.
Ia menegaskan, dukungan terhadap sektor pertanian tidak hanya difokuskan di Labanan Jaya. Pemkab Berau juga akan memberikan perhatian kepada kampung-kampung lain yang membutuhkan dukungan untuk pengembangan pertanian.
“Tentunya dukungan akan diberikan kepada kampung lain yang membutuhkan,” pungkasnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi