BERAU POST – Kondisi inflasi di Kabupaten Berau saat ini dinilai masih terkendali. Komoditas ikan yang sebelumnya kerap menjadi salah satu penyumbang inflasi, kini tidak lagi masuk dalam kategori komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator positif dari upaya pengendalian harga yang dilakukan pemerintah daerah.
Menurutnya, komoditas ikan saat ini tidak masuk dalam hasil perhitungan BPS sebagai penyumbang inflasi.
“Alhamdulillah inflasi kondisi kita terkendali. Komoditas ikan yang biasanya menyumbang inflasi biasanya adalah ikan layang yang disukai ibu-ibu,” katanya.
Ia menyebut, salah satu langkah yang dilakukan pemerintah daerah adalah melalui pelaksanaan gerakan pasar murah, termasuk pasar ikan yang telah dilakukan di 3 kecamatan yakni Tanjung Redeb, Sambaliung dan Gunung Tabur.
“Ke depan kami mungkin akan menyasar di Kecamatan Teluk Bayur,” ucapnya.
Upaya tersebut dinilai turut membantu menjaga ketersediaan dan kestabilan harga komoditas perikanan di tengah masyarakat.
“Bahkan sejak kita launching pasar ikan di Sambaliung, alhamdulillah upaya itu juga bisa menekan inflasi,” katanya.
Lanjutnya, perkembangan inflasi juga menjadi bagian dari evaluasi dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang dilakukan secara berjenjang, baik di tingkat provinsi maupun pemerintah pusat.
Dalam evaluasi tersebut, kondisi inflasi Kabupaten Berau turut menjadi perhatian hingga tingkat nasional yang dipimpin Menteri Dalam Negeri (Mendagri).
“Biasanya dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, hasil evaluasi akan melihat kondisi masing-masing daerah,” ucapnya.
“Alhamdulillah, dengan adanya gerakan pasar ikan, Berau tidak masuk dalam hasil evaluasi tersebut,” sambungnya.
Pun pemantauan terhadap perkembangan harga tetap dilakukan karena inflasi dievaluasi secara berkala. Selain melihat perubahan harga dari bulan ke bulan, pihaknya juga memperhatikan perkembangan inflasi secara tahunan.
“Kan ada inflasi bulanan, nanti ada inflasi year-to-year. Semuanya akan terus dievaluasi,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kabupaten Berau mengalami deflasi bulanan sebesar 0,18 persen pada Juli 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama tomat dan bawang merah, menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi daerah pada periode tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, Yudi Wahyudin menjelaskan, kondisi pasokan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi perubahan harga sejumlah komoditas di pasaran.
“Penurunan harga tomat dipengaruhi meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi serta melimpahnya hasil panen petani lokal,” ucapnya.
“Kondisi tersebut membuat ketersediaan tomat di pasar meningkat sehingga pasokan melebihi permintaan dan mendorong harga turun,” lanjut Yudi.
Selain tomat, bawang merah juga mengalami penurunan harga selama Juli 2026. Hal itu dipengaruhi meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi yang bertepatan dengan musim panen, serta melimpahnya hasil panen petani lokal.
Ketersediaan bawang merah yang mencukupi menyebabkan harga di tingkat konsumen mengalami penurunan.
Lanjutnya, penyumbang utama deflasi bulanan Juli 2026 berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,26 persen. Komoditas utama yang memberikan pengaruh terhadap deflasi pada kelompok tersebut adalah tomat.
Selain tomat dan bawang merah, beberapa komoditas lain yang turut menjadi penahan inflasi bulanan yakni cabai rawit, emas perhiasan, angkutan udara, ikan layang, baju kaos tanpa kerah, telur ayam ras, cabai merah, dan terong.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi bulanan. Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras, bensin, beras, bahan bakar rumah tangga, seragam sekolah anak, sabun detergen bubuk, daun kemangi, mesin cuci, sigaret putih mesin (SPM), dan sampo.
Secara tahunan, inflasi Kabupaten Berau pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 1,27 persen.
Komoditas yang memberikan kontribusi pada kelompok tersebut meliputi emas perhiasan, bensin, ikan layang, sigaret kretek mesin (SKM), beras, ikan tongkol, angkutan udara, minyak goreng, ikan bandeng dan nasi dengan lauk.
Kelompok Transportasi menjadi penyumbang inflasi tahunan berikutnya dengan andil 0,72 persen melalui komoditas bensin dan angkutan udara.
Sementara kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya memberikan andil 0,57 persen, terutama dari komoditas emas perhiasan.
Adapun komoditas yang menahan inflasi tahunan Juli 2026 yakni tomat, sabun detergen bubuk, daging ayam ras, bawang merah, baju kaos tanpa kerah, sabun mandi cair, pengharus cucian, terong, blus wanita, dan cabai merah. (aja/arp)
Editor : Nurismi