Pertahankan Delapan Puluh Persen Mangrove, Diskan Berau Buktikan Hasil Panen Meningkat

Nurismi • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 12:20 WIB
TAMBAK BERKELANJUTAN: Program tambak ramah lingkungan terus dikembangkan Diskan Berau untuk meningkatkan produksi budidaya, sekaligus mempertahankan kondisi mangrove di wilayah pesisir. (IZZA/BP)
TAMBAK BERKELANJUTAN: Program tambak ramah lingkungan terus dikembangkan Diskan Berau untuk meningkatkan produksi budidaya, sekaligus mempertahankan kondisi mangrove di wilayah pesisir. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Perikanan (Diskan) Berau terus mendorong penerapan tambak ramah lingkungan bagi para nelayan tambak di wilayah pesisir.

Upaya ini dilakukan agar aktivitas budidaya perikanan tetap berjalan produktif, tanpa mengabaikan keberadaan ekosistem mangrove yang menjadi penyangga alami kawasan pesisir.

Kepala Diskan Berau, Abdul Majid mengatakan, edukasi kepada masyarakat tambak terus dilakukan, salah satunya melalui konsep tambak berkelanjutan yang telah diterapkan bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Program tersebut mengedepankan keseimbangan antara peningkatan produksi tambak dengan upaya menjaga kondisi lingkungan.

“Kami bekerja sama dengan YKAN selama ini. Artinya membuka luasan tambak itu jangan seluas-luasnya dengan metode yang lama,” ujarnya, belum lama ini. 

Menurutnya, pengembangan tambak tidak harus dilakukan dengan membuka seluruh kawasan yang tersedia.

Keberadaan hutan mangrove tetap harus dipertahankan karena memiliki peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan pesisir, termasuk mendukung keberlanjutan usaha tambak itu sendiri.

Apabila ada penambahan luasan tambak sekitar satu hektare, maka tidak seluruh area tersebut dibuka untuk budidaya.

Dalam konsep yang diterapkan, hanya sekitar 20 persen yang dapat dimanfaatkan, sementara 80 persen lainnya tetap dipertahankan sebagai kawasan mangrove.

“Jadi tetap mempertahankan kondisi eksisting mangrove yang ada. Kalau tambak satu hektare, kita hanya bisa membuka sekitar 20 persen saja, 80 persennya dipertahankan,” jelasnya.

Konsep ramah lingkungan tersebut berbeda dengan sistem budidaya di kawasan perkotaan seperti bioflok.

Untuk wilayah pesisir Berau yang memiliki kawasan mangrove dan tambak, pendekatan yang digunakan adalah menjaga keseimbangan antara produksi dan konservasi.

“Kalau di perkotaan kan bioflok. Yang ramah lingkungan untuk sektor pesisir adalah tambak-tambak yang tetap mempertahankan mangrove,” katanya.

Beberapa wilayah yang menjadi contoh penerapan tambak ramah lingkungan di antaranya Kampung Pegat Betumbuk, Tabalar Muara, dan Teluk Semanting.

Ketiga wilayah tersebut merupakan kawasan pesisir yang selama ini memiliki aktivitas budidaya perikanan masyarakat.

Dari hasil penerapan konsep tersebut, perkembangan produksi menunjukkan hasil yang cukup baik. Tidak hanya udang, tetapi juga komoditas lain seperti bandeng dan kepiting mengalami pertumbuhan yang positif.

“Pertumbuhannya sangat bagus. Entah itu udangnya, bandengnya, ataupun kepitingnya juga,” ungkapnya.

Selain aspek produksi, pemasaran hasil tambak juga menjadi perhatian. Komoditas dari tambak ramah lingkungan tersebut telah memiliki pasar, sehingga masyarakat tidak terlalu khawatir ketika memasuki masa panen.

“Pembelinya sudah ada, jadi sudah ada kepastian. Nantinya begitu produksi, kepastian pasarnya sudah ada,” tuturnya.

Sementara untuk pengembangan ikan air tawar, Diskan Berau masih terus berupaya meningkatkan minat masyarakat.

Salah satu tantangannya adalah kebiasaan konsumsi masyarakat Berau yang selama ini lebih banyak memilih ikan laut dibandingkan ikan air tawar.

Perubahan pola konsumsi menjadi bagian dari upaya pengembangan sektor perikanan air tawar ke depan. Edukasi kepada masyarakat akan terus dilakukan agar produk perikanan lokal semakin beragam dan dapat diterima.

“Selama ini masyarakat Berau memang lebih banyak menyukai ikan laut. Ke depan, bagaimana kami mendorong agar masyarakat juga mulai menyukai dan mengonsumsi ikan air tawar,” pungkasnya. (aja/arp) 

Editor : Nurismi
Dinas Perikanan Berau hutan mangrove tambak