BERAU POST – Dinas Perikanan (Diskan) Berau mulai mendorong percepatan hilirisasi sektor perikanan melalui Program Hilir Berau.
Program yang merupakan proyek perubahan Kepala Diskan Berau, Abdul Majid itu disosialisasikan sebagai langkah membuka ruang pengembangan industri pengolahan hasil laut, khususnya produk ikan kaleng untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan secara berkelanjutan.
Program tersebut lahir dari besarnya potensi sumber daya perikanan Berau yang selama ini masih didominasi penjualan ikan dalam kondisi segar. Akibatnya, peluang ekonomi dari pengolahan hasil laut belum tergarap secara maksimal.
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid mengatakan, inovasi tersebut menjadi upaya mengubah pola pemanfaatan hasil tangkapan agar tidak lagi berhenti pada penjualan bahan baku. “Dengan potensi yang ada, kami melakukan langkah inovasi,” ujarnya, Rabu (29/7).
Menurutnya, selama ini produk perikanan Berau masih didominasi ikan segar. Ke depan, pemerintah daerah ingin memperkuat sektor pengolahan agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.
“Selama ini hanya produk ikan segar. Kini kami mengembangkan produk olahan,” katanya.
Data Dinas Perikanan menunjukkan potensi perikanan Berau mencapai 104.915 ton per tahun. Namun, produksi hasil olahan baru sekitar 3.779 ton per tahun atau hanya sekitar 3,6 persen dari total potensi tersebut.
Kondisi itu dinilai menjadi kesenjangan strategis yang harus segera diatasi. Sebagian besar hasil laut masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai ekonomi yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat justru belum optimal.
“Hilirisasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan,” tegas Abdul Majid.
Melalui Program Hilir Berau, Dinas Perikanan menyiapkan strategi terintegrasi untuk mempercepat hilirisasi hasil laut menjadi produk pengalengan perikanan premium.
Program tersebut juga menjadi implementasi mandat Asta Cita pemerintah, khususnya pada penguatan ekonomi biru (Blue Economy) dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal.
Selain memperkuat rantai industri, program tersebut juga diarahkan untuk memperbesar kontribusi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pengolahan hasil perikanan.
Berdasarkan proyeksi yang disusun dalam proyek perubahan tersebut, hilirisasi mampu menciptakan lompatan nilai ekonomi hingga 3,62 kali lipat atau meningkat sekitar 262 persen dibanding penjualan produk mentah.
Dampak lainnya, pendapatan UMKM pengolahan ikan diperkirakan dapat meningkat dari rata-rata Rp 8 juta menjadi sekitar Rp 29 juta per bulan.
Abdul Majid menilai peningkatan nilai tambah tersebut akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah.
Tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat daya saing produk perikanan Berau di pasar regional maupun nasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy memberikan apresiasi terhadap fokus perubahan yang diambil Dinas Perikanan Berau. Menurutnya, hilirisasi merupakan fondasi penting sebelum memasuki tahap industrialisasi yang lebih besar.
“Kami mengapresiasi pemilihan hilirisasi ini,” ujarnya.
Ia berharap Program Hilir Berau tidak berhenti sebagai bagian dari proyek perubahan semata, tetapi benar-benar diwujudkan menjadi program berkelanjutan yang terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.
“Jangan hanya menjadi parade proyek perubahan,” katanya.(sen/arp)
Editor : Nurismi