BERAU POST – Upaya memperkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Berau kembali mendapat dukungan dari kalangan akademisi.
Tim peneliti Universitas Mulawarman (Unmul) yang dipimpin Ainun Nimatu Rohmah berhasil memperoleh pendanaan Program Riset Fundamental Reguler BIMA Tahun 2026 dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Penelitian bertajuk Reorientasi Kolaborasi Multipihak: Kerangka Komunikasi Dialogis Berorientasi Kemandirian Komunitas dalam Pariwisata Berkelanjutan tersebut akan dilaksanakan di dua wilayah pesisir Kalimantan Timur, yakni Kabupaten Berau dan Kota Bontang.
Saat ini, tim peneliti tengah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan unsur hexa helix, terdiri dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan lembaga pendamping.
Tujuannya untuk memetakan peran masing-masing peran dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi.
Dijelaskan, riset ini berangkat dari temuan sejumlah penelitian dan program pengembangan masyarakat yang menunjukkan bahwa banyak komunitas belum mampu berdiri secara mandiri setelah pendampingan dari pihak luar berakhir.
Padahal, berbagai program telah berhasil mendorong pembangunan fasilitas maupun aktivitas ekonomi masyarakat.
“Selama ini banyak program berjalan baik ketika dukungan eksternal masih ada. Namun ketika dukungan itu berkurang, keberlanjutan program sering kali ikut melemah. Ini yang ingin kami pelajari lebih dalam,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat karakteristik berbeda antara Berau dan Bontang dalam pengembangan masyarakat. Di Bontang, peran perusahaan cukup dominan, sementara di Berau keterlibatan organisasi nonpemerintah atau NGO lebih menonjol. Perbedaan tersebut menjadi bahan kajian untuk merumuskan pola kolaborasi yang lebih seimbang antaraktor.
Di Berau, penelitian akan difokuskan pada dua desa wisata unggulan, yakni Desa Wisata Tanjung Batu dan Desa Wisata Pulau Derawan.
Hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang tidak hanya relevan bagi Berau dan Bontang, tetapi juga dapat diterapkan di wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa menyambut baik pelaksanaan riset tersebut.
Momentum ini sejalan dengan visi misi pembangunan daerah yang mendorong penguatan sektor pertanian dalam arti luas dan pariwisata sebagai penopang ekonomi daerah.
“Pariwisata tidak bisa hanya dikelola pemerintah. Perlu keterlibatan multipihak agar pengembangannya berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, aspek kemandirian dan keberlanjutan menjadi kata kunci yang ditangkap dalam penelitian tersebut.
Di sisi lain, sejumlah tantangan masih dihadapi, mulai dari persoalan kebersihan, abrasi, ketersediaan air bersih hingga pengelolaan sampah.
“Masukan dari berbagai pihak sangat penting agar pariwisata Berau terus berkembang dan tetap berkelanjutan,” pungkasnya. (aja/adv/arp)
Editor : Nurismi