Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pembangunan Gedung Rampung, Disbudpar Berau Fokus Lengkapi Isi Museum Batu Bara Teluk Bayur

Nurismi • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:40 WIB
ILUSTRASI: Disbudpar Berau tengah bersiap untuk mengisi koleksi dan materi pameran yang ada di Museum Batu Bara di Kelurahan Teluk Bayur, sebelum dibuka untuk umum. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Disbudpar Berau tengah bersiap untuk mengisi koleksi dan materi pameran yang ada di Museum Batu Bara di Kelurahan Teluk Bayur, sebelum dibuka untuk umum. (IZZA/BP)

BERAU POST – Pembangunan fisik Museum Batu Bara di Kelurahan Teluk Bayur telah rampung. Namun hingga saat ini, museum yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat edukasi sejarah pertambangan di Kabupaten Berau tersebut masih belum difungsikan secara optimal. Sebab, karena keterbatasan koleksi dan materi pameran yang akan ditampilkan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, fokus pemerintah saat ini bukan lagi pada pembangunan gedung, melainkan melengkapi isi museum agar memiliki daya tarik dan nilai edukasi yang layak bagi masyarakat maupun wisatawan.

“Untuk pembangunan museum itu memang sudah selesai. Tapi sekarang yang kami pikirkan adalah isinya,” ujarnya kepada Berau Post, Selasa (9/6).

Disbudpar disebutnya telah melakukan rapat internal untuk membahas langkah lanjutan dalam pemanfaatan Museum Batu Bara tersebut.

Salah satu agenda yang akan segera dilakukan adalah mengumpulkan perusahaan-perusahaan pertambangan yang beroperasi di Berau untuk ikut berkontribusi mengisi ruang-ruang pameran yang tersedia.

“Kami akan mengumpulkan perusahaan pertambangan agar mereka bisa berkontribusi untuk mengisi ruang-ruang yang ada di museum itu,” katanya.

Diakuinya, saat ini memang sudah terdapat sejumlah koleksi yang tersedia. Namun, jumlah dan ragam materi yang ada masih dinilai belum cukup untuk menjadikan museum tersebut sebagai destinasi kunjungan yang representatif.

“Walaupun memang sudah ada sebagian, tapi kami perlu lebih banyak isi. Sehingga museum itu layak untuk dikunjungi,” ungkapnya.

Selain melibatkan perusahaan tambang, pihaknya juga tengah berupaya mengumpulkan berbagai bukti sejarah yang berkaitan dengan perjalanan industri batu bara di Berau sejak masa kolonial hingga perkembangan aktivitas pertambangan saat ini.

Berbagai dokumen, foto, naskah maupun informasi sejarah menjadi target pencarian untuk melengkapi narasi yang akan disajikan kepada pengunjung museum.

“Kami juga ingin mengumpulkan bukti-bukti sejarah, dokumen-dokumen, foto, naskah, atau informasi apa pun yang berkaitan dengan perjalanan steenkolen sejak pertama kali datang hingga beroperasi di Berau,” jelasnya.

Pihaknya bahkan berencana melakukan penelusuran ke berbagai lembaga arsip. Salah satunya dengan mengakses koleksi yang dimiliki Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Tidak menutup kemungkinan terdapat dokumen penting, foto bersejarah maupun rekaman visual yang dapat memperkaya informasi di museum.

“Mungkin di sana ada arsip film, foto, atau dokumen-dokumen sejarah mengenai perjanjiannya dengan pemerintah pada saat itu,” katanya.

Tak hanya itu, Disbudpar juga membuka peluang melakukan penelusuran arsip ke luar negeri apabila diperlukan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Belanda untuk mendapatkan referensi sejarah yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan batu bara pada masa kolonial di Teluk Bayur.

Pihaknya menargetkan pengisian museum dapat dilakukan tahun ini. “Jadi ketika isinya sudah dianggap cukup, walaupun belum terlalu sempurna, museum itu sudah bisa difungsikan,” bebernya.

Terkait pengelolaan ke depan, Disbudpar masih menyiapkan skema yang paling tepat. Beberapa opsi yang dipertimbangkan di antaranya melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) maupun pihak lain yang dinilai mampu mendukung operasional museum.

Museum Batu Bara diketahui menempati bangunan bekas Kantor Camat Teluk Bayur yang direvitalisasi menjadi fasilitas edukasi dan pelestarian sejarah pertambangan di Kabupaten Berau.

Diwartakan sebelumnya, Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir mengungkapkan, Disbudpar telah menuntaskan revitalisasi tahap pertama kawasan Kota Tua Teluk Bayur pada tahun lalu.

Revitalisasi tersebut menyasar tiga bangunan utama peninggalan sejarah dengan total anggaran sebesar Rp 4 miliar, yakni museum yang berlokasi di eks kantor Camat Teluk Bayur, gedung bioskop, serta gapura di pertigaan lampu merah Teluk Bayur

Revitalisasi ini merupakan bagian dari implementasi master plan pengembangan Kota Tua Teluk Bayur yang telah disusun sejak 2020.

Selama ini, kawasan tersebut dikenal sebagai kota tua, namun belum memiliki arah pengembangan yang jelas dan terencana.(aja/arp) 

 

Editor : Nurismi
#Disbudpar Berau #museum