BERAU POST - Dinas Perikanan (Diskan) Berau mulai menyiapkan berbagai langkah untuk menarik minat investor masuk ke kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Batu.
Upaya itu dilakukan untuk mendukung aktivitas nelayan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir.
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid mengatakan, selama ini hasil tangkapan nelayan masih banyak dijual secara langsung di pinggir jalan.
Kondisi tersebut yang mendorong pemerintah daerah dalam membangun TPI yang ada di Tanjung Batu. Dengan sistem yang terpusat, tentunya akan lebih mudah dalam memantau jenis ikan yang mendarat hingga jumlah produksi harian nelayan.
“Sekarang kami pusatkan di TPI Tanjung Batu supaya lebih mudah mendata produksi ikan hasil tangkapan. Jadi ikan apa saja yang mendarat bisa terdata,” ujarnya, belum lama ini.
Keberadaan TPI juga disebutnya akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Warga nantinya dapat membeli ikan langsung di lokasi dengan harga yang lebih terkontrol melalui penerapan harga harian di dalam kawasan TPI.
Untuk menarik minat nelayan memanfaatkan fasilitas tersebut, Diskan Berau bahkan memberikan kebijakan penggunaan tempat secara gratis selama dua bulan pertama. Kemudian, retribusi akan diterapkan secara bertahap sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD).
“Selama dua bulan kami gratiskan dulu. Nanti perlahan baru diterapkan retribusi. Karena PAD itu kan juga kembali lagi untuk masyarakat,” katanya.
Selain menyiapkan sistem distribusi, Diskan Berau juga berencana meningkatkan akses menuju kawasan TPI. Salah satunya melalui pembangunan jembatan setapak yang memudahkan nelayan membawa hasil tangkapan langsung ke lokasi.
Diakui panjang akses jembatan menuju TPI menjadi tantangan tersendiri. Pihaknya juga mempertimbangkan bantuan kendaraan roda tiga untuk mendukung mobilitas nelayan.
Tak hanya itu, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta untuk pengembangan fasilitas penunjang di kawasan TPI Tanjung Batu.
Pasalnya, hingga saat ini kawasan tersebut masih belum memiliki fasilitas penting seperti pabrik es maupun cold storage.
Keterbatasan kemampuan fiskal daerah menjadi alasan pemerintah belum bisa membangun seluruh fasilitas pendukung secara mandiri. Oleh sebab itu, kolaborasi dengan investor dinilai menjadi solusi agar pengembangan kawasan tetap berjalan.
“Di sana memang belum ada pabrik es karena kemampuan fiskal daerah kita belum memungkinkan. Tapi nanti bisa berkolaborasi dengan pihak ketiga untuk memakai aset yang ada,” ucapnya.
Pihaknya akan membuka peluang investasi bagi pihak swasta yang ingin mengembangkan fasilitas penunjang di sekitar kawasan TPI.
Beberapa fasilitas yang ditawarkan antara lain pembangunan pabrik es, cold storage, SPBU hingga fasilitas lain yang dinilai mendukung aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir.
Menurutnya, keberadaan SPBU di sekitar kawasan TPI juga menjadi kebutuhan penting bagi nelayan. Sebab, ketersediaan bahan bakar sangat menentukan kelancaran operasional melaut.
“Kuncinya kalau nelayan sudah ada minyak untuk beroperasi, aktivitas mereka pasti lebih lancar. Makanya peluang-peluang seperti ini yang kami tawarkan kepada investor,” pungkasnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi