Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Solusi Pendidikan Pelosok, Disdik Berau Genjot Model Sekolah Satu Atap di Wilayah Pedalaman

Nurismi • Jumat, 1 Mei 2026 | 13:11 WIB
ILUSTRASI: Disdik Berau menyiapkan program Satu Atap agar anak-anak di Kabupaten Berau bisa mendapatkan hak pendidikan yang sama. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Disdik Berau menyiapkan program Satu Atap agar anak-anak di Kabupaten Berau bisa mendapatkan hak pendidikan yang sama. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Pendidikan (Disdik) Berau terus mendorong pemerataan akses pendidikan, khususnya bagi wilayah pedalaman dan pesisir yang memiliki keterbatasan sarana pendidikan jenjang lanjutan.

Salah satu upaya yang kini menjadi perhatian adalah pengembangan model sekolah satu atap, yang menggabungkan jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam satu lokasi satuan pendidikan.

Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah menjelaskan, konsep sekolah satu atap merupakan solusi untuk menjangkau wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, serta memiliki jumlah peserta didik yang relatif sedikit.

Dengan begitu, peserta didik dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus berpindah jauh ke kampung atau kecamatan lain.

“Sekolah satu atap itu bisa SD dan SMP dalam satu lokasi. Jadi gurunya ada di sana, gedungnya juga satu. Ini untuk mengakomodir kampung-kampung yang jauh,” ujarnya, Rabu (29/4). 

Ia mencontohkan, beberapa wilayah yang sebelumnya telah menerapkan sistem tersebut, seperti di Kampung Teluk Alulu.

Sementara di Kampung Teluk Sumbang, akses pendidikan kini sudah lebih terbuka seiring dengan peningkatan infrastruktur jalan, sehingga model pembelajaran mulai menyesuaikan kondisi setempat.

Dengan sekolah satu atap, pembelajaran akan memanfaatkan ruang kelas yang kosong atau dengan jadwal pembelajaran yang bergantian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh anak tetap mendapatkan layanan pendidikan meskipun fasilitas terbatas.

“Bisa saja sekolahnya shift-shift an, atau menggunakan ruang kelas lain. Ini inovasi terbaru Disdik dalam rangka memberikan akses pendidikan kepada seluruh anak di Berau,” jelasnya.

Apalagi, bupati Berau ditegaskannya telah mendorong percepatan pembangunan pendidikan, khususnya di Kecamatan Kelay. Di mana Kelay masih menjadi salah satu fokus utama pengembangan layanan pendidikan.

Sejumlah perencanaan pembangunan pendidikan di sana masih terus dibahas dan dimatangkan.

“Seperti di Long Sului yang belum ada SMP, itu sedang kami diskusikan apakah menggunakan model satu atap atau seperti apa,” katanya.

Sementara itu, Kabid Pembinaan SMP, Disdik Berau, Lani Herniawati menjelaskan, strategi pendidikan di Berau pada tahun 2026 akan mengarah pada dua pendekatan utama, yakni pemusatan kapasitas di wilayah perkotaan dan pemerataan akses di wilayah terpencil.

Pendekatan pertama atau “macro hubs” akan difokuskan pada pembangunan sekolah berkapasitas besar di wilayah dengan jumlah penduduk padat seperti Tanjung Redeb, Teluk Bayur, dan Segah. Sekolah-sekolah ini dirancang untuk menampung jumlah siswa yang besar seiring pertumbuhan demografi.

Sementara itu, pendekatan kedua yaitu “micro dan satu atap” ditujukan untuk wilayah terpencil seperti Kelay, Batu Putih, hingga Maratua. 

“Model ini mengutamakan sekolah berkapasitas kecil hingga satu rombongan belajar (rombel) serta sistem sekolah satu atap agar akses pendidikan tetap terjangkau,” tuturnya. 

Dibeberkannya juga, di Kelay saat ini telah berjalan enam SMP negeri yang tersebar untuk mengatasi kendala jarak. Beberapa di antaranya dirancang dengan kapasitas kecil, sekitar 32 kursi per rombel, untuk menyesuaikan kondisi geografis dan jumlah siswa.

“Keberadaan SMP 6 Satu Atap Kelay di Merapun dengan kapasitas sekitar 64 kursi menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan pendidikan yang lebih dekat dengan masyarakat di wilayah terpencil,” ungkapnya.(aja/arp) 

 

Editor : Nurismi
#lanjutan pendidikan #Disdik Berau #pedalaman #solusi