BERAU POST – Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional melalui pemanfaatan platform digital.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui kegiatan presentasi platform perdagangan global Alibaba.com yang digelar hasil kolaborasi lintas sektor, Rabu (22/4).
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran narasumber dari praktisi ekspor memberikan wawasan baru sekaligus membuka peluang besar bagi UMKM di Kabupaten Berau.
“Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi yang sangat baik antara Pemkab dengan Universitas Muhammadiyah Berau. Ini bentuk nyata dukungan terhadap pengembangan UMKM,” ujarnya.
Ia menilai peluang ekspor yang ditawarkan melalui platform digital seperti Alibaba.com sangat besar dan realistis untuk dimanfaatkan.
Selama ini, keterbatasan akses pasar menjadi salah satu kendala utama UMKM untuk berkembang.
Namun dengan digitalisasi, pelaku usaha kini memiliki kesempatan lebih luas untuk menjangkau pembeli dari berbagai negara.
“Alibaba.com membuka akses pasar global yang selama ini sulit dijangkau oleh UMKM. Dengan digitalisasi, UMKM Berau tidak lagi hanya bermain di pasar lokal, tetapi dapat langsung terhubung dengan buyer internasional,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Diskoperindag Berau juga tengah menyusun dan menjalankan roadmap pengembangan UMKM berbasis ekspor.
Program yang digulirkan mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan ekspor dan digital marketing, kurasi produk agar sesuai standar internasional, serta fasilitasi legalitas usaha dan sertifikasi.
Selain itu, digitalisasi pemasaran juga menjadi fokus utama, termasuk mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan platform global.
Ke depan, roadmap tersebut akan diperkuat melalui integrasi program lintas sektor serta penguatan kemitraan strategis.
Meski begitu, diakunya ekosistem ekspor di Berau masih dalam tahap penguatan.
Saat ini memang sudah terdapat pelaku usaha yang melakukan ekspor, namun volumenya masih relatif kecil.
Tantangan utama yang dihadapi meliputi standarisasi produk, kontinuitas produksi, serta aspek logistik.
“Fondasi sudah mulai terbentuk, mulai dari pelaku UMKM yang semakin siap, dukungan pemerintah daerah, hingga kemitraan dengan lembaga dan platform global. Namun, tantangan tetap ada dan terus kami benahi secara bertahap,” katanya.
Terkait produk unggulan, Berau dinilai memiliki sejumlah komoditas potensial yang siap bersaing di pasar global.
Di antaranya produk olahan hasil perkebunan, produk perikanan dan olahan laut, kerajinan berbasis kearifan lokal, serta makanan olahan khas daerah.
Untuk mendukung penetrasi pasar ekspor, pendampingan terhadap UMKM juga terus dilakukan.
Bentuknya meliputi pelatihan on boarding ke platform digital, penyusunan katalog produk, pendampingan penentuan harga dan negosiasi, hingga bimbingan terkait logistik dan sistem pembayaran internasional.
Selain itu, kurasi dan evaluasi kesiapan UMKM juga dilakukan sebelum masuk ke pasar global.
Ke depan, Diskoperindag Berau akan mendorong kerja sama lanjutan yang lebih konkret dengan berbagai pihak, termasuk mitra resmi Alibaba.com.
Program yang direncanakan antara lain inkubasi UMKM ekspor berbasis digital, pendampingan berkelanjutan, akses terhadap market intelligence global, serta fasilitasi promosi produk Berau di marketplace internasional.
Eva berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan mitra global dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ekspor daerah.
“Melalui kolaborasi ini, kami optimistis UMKM Berau dapat naik kelas dan menjadi pemain di pasar internasional,” pungkasnya.
Salah seorang peserta, Megawati, menilai kegiatan tersebut sebagai peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan kapasitas, khususnya dalam memahami pasar ekspor.
“Menurut ku ini kesempatan emas banget, belajar langsung dengan pelaku eksportir dan official partner dari Alibaba. Tapi di saat yang sama ini tantangan cukup berat, karena kebanyakan UMKM di Berau masih belum memenuhi syarat dan belum sanggup untuk ekspor ataupun menjadi seller di Alibaba,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kendala utama bukan hanya pada kesiapan produksi, tetapi juga pada persyaratan untuk bisa masuk ke etalase platform serta kemampuan memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih konkret, seperti fasilitasi melalui koperasi atau skema lainnya, guna membantu produk-produk lokal agar layak ekspor. Ke depan tentunya perlu adanya kurasi peserta dalam kegiatan serupa.
“Harapannya ke depan event seperti ini pesertanya dikurasi, jadi UMKM yang memang produknya punya potensi ekspor. Supaya lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Ia juga mencontohkan salah satu pelaku usaha King Madu Borneo, yang meskipun belum masuk ke Alibaba, sudah mampu memasarkan produknya ke pasar ekspor melalui platform lain. Namun menurutnya, tantangan tetap ada, terutama dalam proses transaksi.
“Kalau di platform itu, buyer-nya belum sampai closing atau belum sampai beli,” sambungnya.
Selain itu, ia menyoroti tingginya biaya untuk masuk dan memasarkan produk di platform seperti Alibaba.
Tanpa adanya kepastian pembeli, kondisi tersebut dinilai akan menyulitkan pelaku UMKM untuk bertahan.
“Untuk masuk Alibaba ini high cost untuk pemasaran akun. Kalau tidak ada closing atau buyer yang fix, akan sulit bertahan,” pungkasnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi