Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bupati Sri Juniarsih Kejar Pengakuan UNESCO: Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Bakal Jadi Magnet Riset Dunia

Nurismi • Senin, 13 April 2026 | 09:40 WIB
Bupati Berau, Sri Juniarsih. (IZZA/BP)
Bupati Berau, Sri Juniarsih. (IZZA/BP)

BERAU POST - Bupati Berau, Sri Juniarsih menegaskan komitmennya untuk memaksimalkan pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Hal itu sebagai upaya mendorong pengakuan UNESCO, sekaligus membuka peluang riset internasional di Kabupaten Berau.

Dijelaskannya, Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai salah satu aset unggulan daerah yang memiliki nilai geologi, keanekaragaman hayati, serta kekayaan budaya yang luar biasa dan berkelas dunia.

Sehingga memerlukan perhatian serius serta sinergi lintas sektor guna mendorong pengelolaan yang lebih optimal dan berkelanjutan di masa mendatang.

Terlebih, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) telah memberikan dorongan kuat agar pengembangan geopark tersebut dapat dipercepat.

Terutama dalam hal pemenuhan regulasi dan standar yang diperlukan hingga mencapai pengakuan dari UNESCO.

Hal itu tentunya menjadi target besar sekaligus peluang strategis bagi Kabupaten Berau untuk semakin dikenal di tingkat internasional. Baik dari sisi pariwisata maupun sebagai pusat penelitian ilmiah yang potensial.

“Ini penting sekali karena arahan dari Pemprov Kaltim untuk memaksimalkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” ucapnya.

Menurutnya, ketika seluruh aspek regulasi telah dimaksimalkan hingga memenuhi kriteria UNESCO, maka hal tersebut tidak hanya akan meningkatkan daya tarik kawasan tersebut.

Tetapi, juga akan membuka peluang besar bagi masuknya para ilmuwan, peneliti, serta akademisi dari berbagai negara yang tertarik melakukan riset terkait kekayaan geologi dan biodiversitas. 

“Ketika kami memaksimalkan regulasinya sampai ke tingkat UNESCO, maka akan banyak sekali ilmuan-ilmuan yang akan melakukan riset ke Kabupaten Berau,” ucapnya.

Lebih lanjut, kehadiran para peneliti dinilai akan membawa dampak positif yang luas, tidak hanya dari sisi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat. 

Ia juga menekankan, upaya besar ini tidak dapat dilakukan secara parsial atau berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. 

“Ini adalah perjuangan bersama yang harus terus kami jaga dan kawal, karena keberhasilan pengembangan geopark ini pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus saling mengingatkan, menjaga komitmen, serta memperkuat kebersamaan dalam setiap proses pembangunan.

Supaya, berbagai potensi daerah yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir menerangkan, pihaknya terus mematangkan pengajuan kawasan Sangkulirang–Mangkalihat sebagai geopark nasional.

Saat ini, fokus utamanya adalah melengkapi berbagai dokumen persyaratan yang masih diperlukan sebelum proses verifikasi oleh tim pusat dilakukan.

“Ada beberapa poin yang masih perlu dilengkapi, seperti kebutuhan surat keputusan (SK) desa budaya, SK cagar budaya, peta deliniasi kawasan dan beberapa dokumen pendukung lainnya,” jelasnya.

Setelah tahap administrasi selesai, proses selanjutnya adalah verifikasi lapangan oleh tim dari pemerintah pusat.

Tahapan ini dijadwalkan berlangsung antara April hingga Juli 2026, dengan waktu kunjungan yang dapat dipilih oleh tim di daerah.

“Nanti kami menentukan kapan ingin dilakukan verifikasi lapangan dan dokumen. Tim dari pusat akan datang langsung melihat kondisi di lapangan, memastikan apakah kawasan ini memang layak diajukan sebagai geopark nasional,” katanya.

Kesempatan yang diberikan tahun ini dinilai sangat strategis bagi kawasan Sangkulirang–Mangkalihat. Pasalnya, dari sejumlah daerah yang mengajukan geopark nasional, tahun ini hanya kawasan tersebut yang memperoleh kesempatan untuk diverifikasi.

“Alhamdulillah, sebenarnya banyak daerah yang juga mengajukan geopark nasional. Tetapi tahun ini yang diberi kesempatan hanya Sangkulirang–Mangkalihat. Ini peluang yang harus kami manfaatkan sebaik mungkin,” ungkapnya.

Kawasan Sangkulirang–Mangkalihat merupakan bentang alam karst yang membentang di dua wilayah, yakni Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur.

Karena itu, pengajuan geopark dilakukan secara bersama dengan koordinasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Dijelaskan, Kabupaten Berau memiliki sedikitnya 15 geosite utama yang tersebar di berbagai lokasi. Bahkan jumlah titik geosite yang teridentifikasi sebenarnya jauh lebih banyak.

“Kalau secara keseluruhan sebenarnya ada sekitar 20 sampai 29 titik. Tetapi yang masuk dalam geosite utama ada 15. Sebagian di antaranya sudah menjadi destinasi wisata,” katanya.

Beberapa lokasi yang masuk dalam geosite tersebut antara lain Danau Kakaban, Labuan Cermin, Goa Bloyot, hingga kawasan Tanjung Sinondo. Masing-masing memiliki karakter geologi dan keunikan yang berbeda.

Perjuangan menuju geopark nasional juga katanya bukanlah proses singkat. Persiapannya sudah berjalan selama beberapa tahun sebelumnya, meskipun pengajuan resmi baru dilakukan pada awal 2025.

“Tahun ini akan menjadi penentuan. Setelah verifikasi akhir nanti, kami akan tahu apakah Sangkulirang–Mangkalihat bisa ditetapkan sebagai geopark nasional,” ujarnya. (aja/arp) 

Editor : Nurismi
#carst #geopark nasional #sangkulirang mangkalihat