BERAU POST – Puluhan ribu wisatawan mengunjungi berbagai destinasi andalan di Kabupaten Berau.
Hal itupun dinilai membuktikan posisi sektor pariwisata dalam mendukung perekonomian daerah.
Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir menyampaikan, peningkatan jumlah kunjungan tersebut melampaui target yang sebelumnya telah ditetapkan.
“Alhamdulillah, apa yang kita harapkan tercapai, bahkan di luar ekspektasi,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan minat wisatawan terhadap destinasi unggulan di Berau terus mengalami pertumbuhan signifikan.
Capaian ini menjadi sinyal positif upaya pengembangan pariwisata selama ini mulai menunjukkan hasil yang nyata.
Menurutnya, tingginya angka kunjungan tidak terlepas dari peran besar promosi digital yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Keberadaan media massa serta para kreator konten atau influencer dinilai efektif dalam memperkenalkan keindahan alam Berau kepada masyarakat luas.
Berdasarkan data yang diolah Disbudpar Berau melalui Sistem Informasi Destinasi Wisata Berau (Sidewi), sebanyak 21.335 kunjungan sejak 20-25 Maret lalu.
Jumlah tersebut berasal dari empat destinasi wisata, yakni Air Panas Asin Pemapak, Tuling Ni Lenggo, Mangrove Tanjung Batu, dan Labuan Cermin.
Berbagai unggahan yang menampilkan panorama destinasi seperti Labuan Cermin dan kawasan Kepulauan Derawan dinilai kerap menarik perhatian publik hingga menjadi viral di media sosial.
“Rekan-rekan media dan influencer sangat membantu promosi. Banyak konten mereka yang viral, terutama saat menampilkan destinasi unggulan kita,” jelasnya.
Fenomena viral tersebut dinilai mampu membangun rasa penasaran sekaligus keinginan wisatawan untuk datang langsung.
Tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga pengunjung dari luar daerah ikut terdorong untuk menjadikan Berau sebagai tujuan perjalanan mereka.
Selain faktor promosi, aspek infrastruktur juga dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung peningkatan kunjungan.
Dibukanya jalur penghubung baru dari Kutai Timur melalui Jembatan Nibung memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi perjalanan.
Waktu tempuh menuju Berau kini menjadi lebih singkat, sehingga aksesibilitas bagi wisatawan semakin terbuka lebar.
“Sekarang akses semakin terbuka dan perjalanan jadi lebih singkat. Ini tentu memudahkan wisatawan untuk datang ke Berau,” ucapnya.
Kemudahan akses tersebut pada akhirnya mendorong lebih banyak orang untuk berkunjung, karena perjalanan yang sebelumnya memakan waktu lama kini dapat ditempuh dengan lebih cepat dan nyaman.
Namun, lonjakan kunjungan wisatawan juga menghadirkan tantangan tersendiri di lapangan.
Salah satu kendala yang sempat muncul adalah keterbatasan fasilitas akomodasi. Tingginya jumlah pengunjung membuat sejumlah penginapan mengalami tingkat hunian penuh.
“Sebagian wisatawan harus mencari alternatif tempat menginap,” ungkapnya.
Di sisi lain, situasi ini justru membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Warga lokal mulai memanfaatkan kondisi tersebut dengan menyediakan homestay maupun berbagai layanan pendukung lainnya.
Keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata ini dinilai dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
Ke depan, pemerintah daerah berharap pertumbuhan jumlah wisatawan ini dapat diimbangi dengan peningkatan kesiapan infrastruktur, fasilitas, serta pengelolaan destinasi yang lebih optimal.
“Dengan begitu, pengalaman wisatawan tetap terjaga, sekaligus memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Berau,” katanya.
Seorang wisatawan yang ditemui di kawasan BidukBiduk, Nizar mengaku, kondisi jalan menuju Bidukbiduk saat ini sudah cukup baik, sehingga perjalanan yang jauh tetap terasa layak untuk ditempuh.
“Jalannya sudah bagus, walaupun jauh tetap rela ditempuh,” ujarnya.
Ia juga menyebut banyaknya konten viral tentang BidukBiduk membuat semakin banyak orang tertarik datang.
“Sekarang sering lihat di media sosial, jadi makin banyak yang datang ke sini,” pungkasnya.(aja/arp)
Editor : Nurismi