Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ramadan Anti-Mubazir! Dinas Pangan Berau Ajak Warga Setop Kebiasaan 'Lapar Mata' Saat Buka Puasa

Beraupost • Selasa, 24 Februari 2026 | 09:39 WIB

ILUSTRASI: Dinas Pangan Berau mengajak masyarakat mengonsumsi makanan secukupnya selama Bulan Ramadan. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Dinas Pangan Berau mengajak masyarakat mengonsumsi makanan secukupnya selama Bulan Ramadan. (IZZA/BP)

BERAU POST  – Dinas Pangan Berau mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan saat momentum Ramadan 1447 hijriah atau tahun 2026 ini, khususnya pada saat berbuka puasa dan sahur.

Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan mengajak masyarakat untuk menghentikan kebiasaan boros pangan dan tidak berlebihan, dalam mengambil maupun menyajikan makanan.

Menurutnya, budaya konsumsi berlebihan kerap terjadi, terutama saat momen tertentu ketika masyarakat cenderung menyiapkan makanan dalam jumlah banyak.

Padahal, tidak sedikit yang akhirnya terbuang karena tidak habis dikonsumsi.

Ia menekankan pentingnya menghargai makanan dengan mengambil secukupnya serta menghindari perilaku mubazir. “Jangan berlebihan saat berbuka dan sahur.

Makan secukupnya dan hindari membuang-buang makanan. Kalau ada lebih, bisa disimpan atau dibagikan,” ujarnya kepada Berau, Senin (23/2).

Menurutnya, persoalan pemborosan pangan bukan hanya isu lokal, melainkan juga menjadi perhatian dunia.

Berdasarkan data Badan Pangan Dunia Food Agriculture Organization (FAO), sepertiga makanan yang diproduksi di dunia setiap tahun atau sekitar 1,3 miliar ton terbuang.

Sementara itu, sekitar 925 juta orang di dunia masih menderita kelaparan. Ia juga menyinggung bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat pemborosan pangan yang tinggi.

Kondisi tersebut, lanjutnya, harus menjadi perhatian bersama. Apalagi berdasarkan penelitian Profesor Bernaulus Saragih, pakar pangan dari Universitas Mulawarman pada 2023, jumlah food loss atau makanan yang terbuang sebelum diproduksi, serta food waste atau makanan yang terbuang di meja makan di Kalimantan Timur nilainya setara dengan jumlah produksi beras di Kalimantan Timur.

“Artinya, potensi pangan yang terbuang itu sangat besar. Kalau ini bisa ditekan, tentu dampaknya luar biasa bagi ketahanan pangan kita,” katanya.

Sebagai langkah konkret, Dinas Pangan Berau mengimbau masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan sehari-hari.

Dengan menyarankan agar masyarakat menjadi pembeli cerdas dengan merencanakan kebutuhan makanan sebelum berbelanja.

Membeli bahan pangan sesuai kebutuhan dinilai dapat mengurangi risiko makanan terbuang.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat realistis dalam memilih makanan serta memahami cara penyimpanan bahan pangan yang benar, termasuk mengetahui masa kedaluwarsa produk.

“Dengan penyimpanan yang tepat, kualitas makanan dapat terjaga lebih lama sehingga tidak cepat rusak,” tuturnya.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk lebih peka terhadap kebutuhan tubuh. Mengambil porsi secukupnya dan berhenti makan sebelum kenyang menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi limbah makanan.

Saat makan di luar, ia menyarankan untuk berbagi hidangan agar tidak ada makanan yang terbuang.

“Kalau ada bahan makanan yang tidak digunakan, bisa didonasikan ke teman atau tetangga. Edukasi juga penting agar tidak menyisakan makanan di piring,” ujarnya.

Ia berharap kesadaran untuk menghentikan pemborosan pangan dapat tumbuh dari lingkungan keluarga.

Dengan perubahan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, upaya menjaga ketahanan pangan dan menghargai hasil produksi petani dapat terwujud.

“Menghargai makanan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama. Jangan berlebihan, hargai makanan kita,” tutupnya. (aja/arp)

Editor : Nurismi
#boros #Konsumsi Berlebihan #dinas pangan #pangan