Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Hidroponik: Menjaga Ketahanan Pangan di Bantaran Sungai Kelay dan Segah

Beraupost • Sabtu, 21 Februari 2026 | 15:35 WIB

 BERADAPTASI DENGAN ALAM: Metode tanam dengan teknologi hidroponik menjadi salah satu cara menjaga bahan pangan masyarakat di tengah banjir musiman yang melanda.
BERADAPTASI DENGAN ALAM: Metode tanam dengan teknologi hidroponik menjadi salah satu cara menjaga bahan pangan masyarakat di tengah banjir musiman yang melanda.

KEBERADAAN Sungai Kelay dan Sungai Segah merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat Kabupaten Berau.

Namun, di balik pesonanya, kedua sungai besar ini menyimpan tantangan tahunan yang klasik, banjir luapan.

Setiap kali intensitas hujan meningkat di hulu, warga yang bermukim di bantaran sungai, mulai dari Kecamatan Sambaliung, Kecamatan Gunung Tabur, hingga Kecamatan Teluk Bayur, harus bersiap menghadapi genangan air yang tidak hanya merendam hunian, tetapi juga melumpuhkan sektor pertanian lokal.

Bagi masyarakat Kabupaten Berau, luapan Sungai Kelay dan Sungai Segah bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan sudah menjadi tantangan hidup yang nyata.

Sebagaimana diberitakan oleh portal daring Berau Terkini pada 2025 lalu, luapan air telah merendam pemukiman di 17 Kampung yang tersebar di Kecamatan Sambaliung, Segah, Kelay, dan Teluk Bayur dengan ketinggian air yang cukup memprihatinkan.

Dampaknya pun sistemik; mulai dari akses transportasi yang terputus hingga rusaknya belasan hektar lahan pertanian warga sehingga terancam gagal panen.

Anoksia: Ancaman Fatal bagi Pertanian Konvensional

Masyarakat kita umumnya masih terpaku pada sistem pertanian berbasis tanah, yaitu metode tanam konvensional yang mengandalkan kesuburan lahan yang rentan terhadap gangguan iklim seperti banjir.

Padahal, ketergantungan ini sangat berisiko terutama ketika bencana banjir datang, tanaman pangan yang menjadi komoditas pangan harian masyarakat.

Seperti sawi, kangkung, dan pakcoy serta tanaman lainnya yang ditanam di lahan tanah akan mengalami kerusakan fisiologis permanen, atau mati.

Skibat pembusukan akar atau anoksia yaitu suatu kondisi di mana tanah kehilangan oksigen karena terendam air sehingga menyebabkan akar tanaman gagal bernapas.

Pada akhirnya, dampak ekonomi yang merugikan warga pun tak bisa lagi dihindari dan pasokan sayuran segar di pasar Tanjung Redeb pun menjadi terganggu.

Hidroponik sebagai Teknologi Adaptif

Di tengah pola banjir yang sulit diprediksi, kita memerlukan pergeseran paradigma dari "melawan alam" menjadi "beradaptasi dengan alam".

Salah satu strategi yang paling rasional adalah teknologi hidroponik. Kelebihan utamanya adalah kemampuannya memisahkan tanaman dari media tanah yang rentan terkontaminasi luapan air sungai.

Strategi yang paling rasional dan ekonomis adalah penerapan sistem Deep Water Culture (DWC) atau rakit apung sederhana dengan memanfaatkan barang bekas, seperti kotak styrofoam bekas buah anggur.

Metode ini sangat kompatibel dengan arsitektur lokal rumah panggung atau hunian bertiang tinggi yang umum di bantaran sungai.

Prinsip kerjanya mengandalkan daya apung alami; kotak styrofoam yang diletakkan di teras rumah berfungsi layaknya sekoci penyelamat.

Ketika banjir melanda, modul tanaman ini secara otomatis akan terangkat mengikuti permukaan air (self-leveling).

Selama wadah tersebut ditambatkan pada tiang penyangga rumah agar tidak hanyut, tanaman sayuran dipastikan tetap aman, kering, dan tidak rusak, meskipun air bah sedang mengepung hunian warga.

Selain mengandalkan daya apung tersebut, strategi adaptasi banjir juga dapat dilakukan melalui rekayasa ketinggian instalasi. Pengaplikasian sistem NFT (Nutrient Film Technique) dengan kaki meja yang ditinggikan (panggung) setinggi 120-150 cm dapat menjadi solusi yang efektif.

Dengan begitu, sayuran tetap bersih dari kontaminasi lumpur dan bakteri yang biasanya dibawa oleh air banjir, sehingga kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat tetap terjamin higienitasnya.

Sinergi Pengabdian dan Penelitian: Transformasi di Kampung Maluang

Langkah konkret transisi teknologi ini telah penulis sosialisasikan melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang terpublikasi di JAUS: Jurnal Abdimas Untag Samarinda.

Pada 30–31 Mei 2023 lalu, kami melaksanakan sosialisasi dan pelatihan Teknologi Tepat Guna (TTG) hidroponik yang disambut antusias oleh anggota Koperasi warga Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur.

Respons warga yang menjadi peserta pada pelatihan tersebut sangat luar biasa. Kesadaran bahwa wilayah mereka merupakan daerah rawan banjir mendorong keinginan kuat untuk mengadopsi teknologi ini.

Antusiasme tersebut tidak berhenti pada seremoni pelatihan semata, namun berlanjut pada implementasi nyata di lapangan.

Ketahanan Pangan dari Teras Rumah atau Pekarangan Rumah

Bukti keberlanjutan program ini terekam kuat dalam hasil penelitian Skripsi Mahasiswa Agribisnis STIPER Berau atas nama Rudi.

Berdasarkan data penelitian tersebut, sejak pelaksanaan pelatihan TTG hidroponik pada tahun 2023, kini telah tercatat 12 warga di Kampung Maluang yang secara aktif menjalankan usahatani sayuran hidroponik secara mandiri di pekarangan mereka.

Lebih jauh lagi, penelitian Rudi menyimpulkan bahwa usaha tani sayuran hidroponik ini bukan sekadar hobi, melainkan memiliki nilai ekonomi yang signifikan.

Data menunjukkan bahwa usaha tani sayuran yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik memberikan kontribusi sebesar 24,74 persen terhadap total pendapatan rumah tangga warga.

Angka ini membuktikan bahwa ketahanan pangan kini benar-benar bisa dimulai dari pekarangan rumah.

Tanpa perlu lahan yang luas yang berisiko terendam banjir, warga mampu mengamankan ketersediaan pangan sekaligus memperkuat stabilitas finansial keluarga melalui pemanfaatan lahan sempit di sekitar hunian mereka.

Tantangan dan Sinergi Jangka Panjang

Tantangan utama yang mungkin saja dihadapi oleh warga dari transisi pertanian konvensional menuju pertanian modern ini bukan tanpa kendala.

Tantangan utama di lapangan seringkali berkaitan dengan ketersediaan instalasi listrik untuk digunakan dalam operasional sistem NFT agar sistem ini aktif.

Tantangan lainnya adalah ketersediaan dan pengetahuan teknis mengenai peracikan nutrisi (AB Mix), pengendalian hama penyakit tanaman, pengelolaan derajat keasaman larutan nutrisi (AB Mix). Di sinilah peran akademisi dan pemerintah daerah menjadi sangat penting.

Pihak perguruan tinggi melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) wajib mengabil peran melakukan edukasi yang berkelanjutan.

Tidak hanya sekadar memberikan bantuan alat, tetapi juga mendampingi masyarakat hingga mereka menjadi cakap dan terampil dimulai dari penyiapan Instalasi perangkat teknologi tepat guna.

Baik menggunakan sistem rakit apung (Deep Water Culture) maupun sistem NFT, penyemaian benih sayuran, penanaman bibit, pemberian nutrisi, monitoring kondisi intalasi sistem hidroponik, pengendalian hama penyakit tanaman, pemanenan hingga pascapanen.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas terkait diharapkan mengintegrasikan hidroponik ke dalam strategi mitigasi bencana daerah.

Penyediaan stimulus, seperti bantuan benih dan nutrisi, menjadi instrumen signifikan untuk mendorong inisiatif masyarakat di tahap awal.

Penutup

Keberhasilan usaha tani hidroponik warga di Kampung Maluang menjadi salah satu bukti bahwa keterbatasan lahan dan tantangan banjir bisa diatasi dengan inovasi.

Dengan semangat "Sayur Terapung", kita sedang membangun masa depan pertanian Berau yang lebih tangguh, adaptif, dan berdaulat dari halaman rumah sendiri. (sam)

*) Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Berau /Agribisnis

Editor : Nurismi
#sungai kelay #Sungai Segah #hidroponik #banjir #ketahanan pangan