BERAU POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau menggelar pelatihan standar gizi dan keamanan pangan bagi penjamah makanan, tenaga gizi, akuntansi, kepala SPPG serta mitra SPPG Program Makan Bergizi Gratis (MBG), 17–18 Februari lalu.
Kegiatan itu diikuti oleh 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG di Berau.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat, Dinkes Berau, Suhartini menyampaikan, pemenuhan dan perbaikan gizi masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ketidakmerataan akses terhadap makanan bergizi, terutama di wilayah terpencil dan kurang berkembang, berdampak pada masih ditemukannya kasus gizi kurang, gizi buruk hingga stunting pada balita.
Kekurangan asupan gizi disebutnya tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan daya tahan tubuh.
Kondisi tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian, khususnya pada periode 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi masa emas tumbuh kembang anak.
“Pada usia sekolah, asupan gizi yang tidak memadai juga berpengaruh terhadap konsentrasi belajar dan perkembangan kemampuan berpikir siswa,” ungkapnya.
Ia menegaskan, perhatian terhadap kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak usia sekolah dan remaja harus terus diperkuat.
Ibu hamil membutuhkan asupan gizi lebih besar untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.
Kekurangan gizi saat hamil berisiko menyebabkan berat badan lahir rendah serta komplikasi kesehatan lainnya.
Setelah melahirkan, kebutuhan gizi tetap harus terpenuhi agar kualitas dan kuantitas Air Susu Ibu tetap terjaga.
“Upaya peningkatan gizi melalui layanan gizi terpadu dan edukasi gizi yang tepat harus terus diperkuat. Dengan begitu, kita bisa menyiapkan generasi yang lebih sehat dan produktif,” ujarnya.
Program MBG menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperbaiki status gizi masyarakat melalui peningkatan akses terhadap makanan bergizi seimbang.
Program ini menyasar kelompok masyarakat, termasuk anak sekolah, dengan harapan mampu memperbaiki asupan energi dan zat gizi penting, meningkatkan ketahanan fisik, serta mendorong kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Pelatihan ini juga mengacu pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/A/4954/2025 tentang pencegahan, kesiapsiagaan dan respons potensi kejadian keracunan pangan pada Program Makan Bergizi Gratis.
Dalam surat edaran tersebut, dinas kesehatan kabupaten/kota ditugaskan memberikan pelatihan keamanan pangan dan Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan (MSPM) bagi nutrisionis dan penjamah SPPG sebelum bertugas.
Di Kabupaten Berau, terdapat sembilan SPPG yang telah beroperasi, yakni di Karang Ambun, Gunung Panjang, Sei Bedungun Ketapang, Rinding, Gunung Tabur (Tipalayo), Sambaliung Jalan Mangkubumi, Gunung Tabur Sirajuddin, Polres dan Gayam.
Seluruhnya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai salah satu persyaratan wajib sebelum operasional.
Melalui pelatihan ini, Dinkes Berau menargetkan peningkatan pengetahuan peserta terkait aspek gizi dan keamanan pangan yang menjadi faktor krusial dalam setiap tahapan penyelenggaraan MBG.
“Ini juga bertujuan meningkatkan mutu dan keamanan pangan dalam program serta memberikan sertifikat pelatihan kepada peserta sebagai bentuk pengakuan kompetensi,” pungkasnya.(aja/arp)
Editor : Nurismi