Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Harga Cabai di Berau Tembus Rp100 Ribu, Tim Pangan Kaltim Pastikan Stok Ramadan Aman

Beraupost • Rabu, 18 Februari 2026 | 12:05 WIB
PANTAU HARGA PANGAN: Tim Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Kaltim saat melakukan pemantauan harga dan uji cepat keamanan bahan pangan di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD), Selasa (17/2). (IZZA/BP)
PANTAU HARGA PANGAN: Tim Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Kaltim saat melakukan pemantauan harga dan uji cepat keamanan bahan pangan di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD), Selasa (17/2). (IZZA/BP)

BERAU POST – Tim Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Kalimantan Timur kembali melanjutkan pemantauan harga bahan pokok di Kabupaten Berau, Selasa (17/2).

Kegiatan diawali dengan pengecekan di tingkat distributor, kemudian dilanjutkan ke Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD).

Pemantauan dipimpin Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Kaltim, Maino Dwi Hartono bersama jajaran terkait.

Selain memantau harga dan ketersediaan, tim juga melakukan uji cepat atau rapid test terhadap sejumlah komoditas, di antaranya beras, cabai, wortel, dan bawang untuk memastikan keamanan pangan yang beredar di pasaran.

Maino menyampaikan, secara umum ketersediaan bahan pangan di Berau dalam kondisi cukup, aman, dan harga relatif stabil.

Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, sementara sebagian lainnya justru mengalami penurunan harga.

“Bahan pangan tersedia cukup, aman, dan harganya stabil. Memang ada beberapa yang mengalami kenaikan, tapi ada juga yang mengalami penurunan, seperti bawang merah dan bawang putih yang mengalami sedikit penurunan,” ujarnya.

Ia menegaskan, hasil uji keamanan pangan menunjukkan seluruh sampel yang diperiksa dalam kondisi aman.

Langkah ini, kata dia, dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat saat berbelanja kebutuhan pokok di pasar.

“Setelah kami uji keamanan pangan dari beras, cabai, wortel hingga bawang, semuanya aman. Ini untuk memberi keamanan kepada masyarakat untuk membeli bahan pangan di pasar,” katanya.

Menjelang Ramadan dan Idulfitri, pemerintah memastikan tiga hal utama, yakni ketersediaan bahan pokok yang cukup, distribusi yang merata, serta harga yang stabil. Ketiga aspek tersebut menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Hasil pemantauan selama dua hari terakhir, 16–17 Februari, akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah. Penelusuran tidak hanya dilakukan di tingkat hilir atau pasar, melainkan juga hingga ke distributor, agen, bahkan produsen.

“Tentu akan menjadi feedback buat pemerintah untuk menelusuri kembali. Kami tidak semata-mata melihat di hilir saja, tapi juga di distributor, agen, mungkin sampai ke pabriknya, misalnya penggilingan dan lainnya. Tentunya perlu proses dan waktu,” jelasnya.

Ia juga menyinggung adanya dua komoditas yang memiliki Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni beras dan minyak goreng merek Minyakita. Sementara minyak goreng premium tidak diatur dengan HET.

“HET itu harga tertinggi bagi konsumen yang sudah dihitung dari biaya produksi hingga distribusi. Kalau melihat beras, itu diproses dari gabah,” tuturnya.

“Kalau harga gabah tinggi, harga beras juga tinggi. Jadi tidak semata-mata dilihat di hilir, harus kita lihat dari tengah sampai hulunya,” tambahnya.

Menurutnya, persoalan harga gabah dan beras menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah pusat dan daerah.

Pengawasan dan penelusuran akan dilakukan secara menyeluruh untuk menjaga stabilitas harga.

Ia juga mengimbau seluruh pelaku usaha pangan, mulai dari produsen, petani, peternak, distributor hingga pedagang pasar, agar bersama-sama menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan.

“Jangan menaikkan atau mencari keuntungan berlebihan dalam momen seperti ini. Kita ingin berbagi. Masyarakat sedang menyambut puasa dan lebaran, bagaimana harganya tetap terjangkau,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan mengimbau masyarakat tetap tenang dan bijak dalam berbelanja selama Ramadan.

Dibeberkannya, setiap memasuki bulan puasa biasanya terjadi lonjakan inflasi akibat peningkatan konsumsi.

“Kita ketahui biasanya selama puasa terjadi lonjakan inflasi. Kebiasaan kita selama puasa harusnya konsumsi lebih sedikit, tapi malah sebaliknya. Itulah dinamika di masyarakat,” ujarnya.

Pihaknya akan terus menggencarkan gerakan pangan murah yang menyasar masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, Dinas Pangan juga akan menghadirkan Minyakita dari Bulog Berau untuk membantu menjaga keterjangkauan harga.

Di Pasar SAD, sejumlah pedagang mengakui adanya kenaikan harga pada komoditas tertentu. Salah satu pedagang, Sadariah menyebut harga cabai mengalami kenaikan signifikan.

Namun, harga bawang merah justru turun dari Rp 60 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram. Sedangkan, bawang putih berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogram.

“Yang naik cabai saja. Dari Rp 40-50 ribu, sekarang Rp 100 ribu per kilogram. Jahe juga naik, dari Rp 30 ribu jadi Rp 60 ribu per kilogram,” ungkapnya. (aja/arp)

 

 

Editor : Nurismi