BERAU POST - Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Berau berhasil menyerap gabah kering petani lebih dari 1.000 ton pada tahun lalu. Jumlah itu bahkan melampaui target awal 700 ton.
Memasuki tahun 2026 ini, realisasi penyerapan gabah tercatat sudah 49 ton. Bahkan dipastikan masih akan bertambah seiring panen yang berlangsung di sejumlah kampung sentra produksi padi.
Kepala Operasional Bulog Berau, Ade Anggoro mengatakan, capaian tahun lalu didominasi pasokan dari Kampung Buyung-Buyung dan Semurut.
Sementara tahun ini, gabah yang sudah masuk ke gudang Bulog berasal dari Kampung Buyung-Buyung, Melati Jaya, Merancang Ilir, dan Semurut.
“Tahun ini targetnya pasti naik, hanya saja untuk angka pastinya kami masih menunggu penetapan,” ujarnya, belum lama ini.
Secara nasional, target penyerapan gabah kering tahun 2026 dipatok mencapai 4 juta ton.
Bulog Berau pun optimistis dapat berkontribusi lebih besar, terlebih pola tanam petani mulai didorong menjadi tiga kali panen dalam setahun. Sebelumnya, mayoritas lahan sawah di Berau hanya menghasilkan dua kali panen.
“Sekarang sedang digalakkan tiga kali panen. Kalau produksi meningkat, tentu serapan juga berpotensi bertambah,” katanya.
Tercatat ada sembilan kampung yang rutin menjual gabah kering ke Bulog Berau, yakni Kampung Bebanir Bangun, Gurimbang, Buyung-Buyung, Tanjung Perangat, Merancang Ilir, Merancang Ulu, Semurut, Labanan Jaya, dan Melati Jaya.
Bulog membuka peluang bagi kampung lain yang ingin bekerja sama, namun ada persyaratan yang harus dipenuhi.
Ia menegaskan, Bulog tidak serta-merta membeli gabah tanpa proses lanjutan. Kampung atau kelompok tani yang ingin bermitra diharapkan memiliki fasilitas penggilingan padi, lantai jemur, serta ayakan yang memadai.
Hal ini penting agar gabah dapat langsung diolah menjadi beras sesuai standar kualitas.
“Kami tidak hanya membeli gabah, tapi harus bisa diolah menjadi beras. Minimal ada penggilingan dan sarana penunjang. Kami juga mendorong adanya lumbung padi untuk meminimalisir kerusakan saat penyimpanan,” jelasnya.
Standar beras medium yang tersimpan di gudang Bulog mengacu pada ketentuan kualitas, di antaranya kadar air maksimal 14 persen, butir patah maksimal 25 persen, derajat sosoh 95–100 persen, serta butir menir maksimal 2 persen.
Setelah diolah, beras disimpan di gudang Bulog dan disalurkan dalam bentuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Sistem distribusi menggunakan prinsip first in first out, yakni beras yang lebih dulu masuk akan lebih dulu disalurkan.
Di tingkat konsumen, beras SPHP dijual dengan harga Rp 11.300 per kilogram (Kg). Sementara harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan Rp 65.500 per 5 kg.
Ia memastikan hingga kini tidak ditemukan agen yang menjual beras SPHP di atas HET. Bahkan, dalam kondisi tertentu, sejumlah agen menjual di bawah harga yang ditetapkan Bulog agar stok cepat terserap pasar.
“Kalau ada pasar murah, kami juga pasti jual di bawah HET,” bebernya. (aja/arp)
Editor : Nurismi