Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tertinggi se-Kaltim! Inflasi Berau Desember 2025 Tembus 2,82 Persen, Ini Penyebabnya

Beraupost • Rabu, 7 Januari 2026 | 09:40 WIB
ILUSTRASI: Tingginya curah hujan yang terjadi sejak Oktober 2025 berdampak signifikan terhadap aktivitas penangkapan ikan di laut. Sehingga turut mendorong inflasi pada Desember 2025 lalu. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Tingginya curah hujan yang terjadi sejak Oktober 2025 berdampak signifikan terhadap aktivitas penangkapan ikan di laut. Sehingga turut mendorong inflasi pada Desember 2025 lalu. (IZZA/BP)

BERAU POST – Cuaca yang tidak menentu dan kenaikan harga bahan pangan menjadi pemicu meningkatnya inflasi di Kabupaten Berau pada Desember 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) sebesar 2,82 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian November 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, Yudi Wahyudin mengatakan, secara umum inflasi di Berau masih berada dalam rentang yang terkendali.

Namun, sejumlah faktor utama memengaruhi pergerakan harga selama Desember 2025.

Terutama kondisi cuaca yang tidak menentu serta kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis.

BPS mencatat, inflasi bulan ke bulan atau month to month (MtM) pada Desember 2025 sebesar 0,23 persen.

Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year to date tercatat sama dengan inflasi tahunan, yakni 2,82 persen.

“Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Provinsi Kalimantan Timur, inflasi year on year tertinggi pada Desember 2025 justru terjadi di Kabupaten Berau sebesar 2,82 persen,” ungkapnya.

Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara dengan angka 2,08 persen.

Untuk inflasi bulan ke bulan, tingkat inflasi tertinggi terjadi di Kota Samarinda sebesar 0,87 persen, sedangkan Kabupaten Berau menjadi daerah dengan inflasi MtM terendah sebesar 0,23 persen.

Dijelaskan juga, Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu data strategis yang digunakan sebagai dasar dalam penentuan kebijakan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat.

“Penghitungan IHK sendiri disusun berdasarkan Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan secara berkala. Pada IHK dengan tahun dasar 2022, BPS telah menyempurnakan metode penghitungan dengan mengakomodasi bobot jenis pasar dalam rata-rata harga setiap komoditas,” katanya.

Adapun kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga di Berau selama Desember 2025.

Tingginya curah hujan yang terjadi sejak Oktober 2025 berdampak signifikan terhadap aktivitas penangkapan ikan di laut, khususnya ikan layang.

“Cuaca yang tidak menentu menyulitkan nelayan untuk melaut sehingga menekan pasokan komoditas perikanan dan berdampak pada kenaikan harga,” terangnya.

Selain sektor perikanan, kondisi cuaca yang tidak stabil juga berpengaruh terhadap produksi sektor pertanian.

Salah satu komoditas yang terdampak adalah bawang merah. Terbatasnya pasokan bawang merah dari luar daerah menjadi faktor pendorong kenaikan harga komoditas tersebut di tingkat konsumen.

Kemudian, komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi bulan ke bulan pada Desember 2025 didominasi oleh bahan pangan. Bawang merah menjadi komoditas dengan andil terbesar sebesar 0,13 persen.

“Komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang putih, bensin, tomat, cabai merah, dan jagung manis,” sebutnya.

Sementara itu, terdapat pula sejumlah komoditas yang berperan sebagai penahan inflasi.

Komoditas ikan bandeng memberikan andil penahan inflasi sebesar 0,09 persen, diikuti oleh bayam, beras, kangkung, pengharum cucian atau pelembut, ketimun, sabun deterjen, sepeda motor, sabun mandi cair, serta makanan ringan.

Jika dilihat secara tahunan, inflasi year on year Desember 2025 didorong oleh peningkatan indeks harga dibandingkan dengan Desember 2024. Tiga kelompok pengeluaran menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan tersebut.

“Untuk komoditas pendorong inflasi year on year terbesar, ikan layang atau benggol memberikan andil sebesar 0,79 persen,” ujarnya.

Komoditas lain yang turut mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, ikan tongkol, udang basah, ikan kembung, sigaret kretek mesin, bawang merah, nasi dengan lauk, ikan bandeng, serta minyak goreng.

Di sisi lain, beberapa komoditas menjadi penahan inflasi tahunan, di antaranya angkutan udara dengan andil sebesar 0,32 persen, disusul bayam, tomat, kangkung, sawi hijau, laptop atau notebook, terong, pengharum cucian atau pelembut, makanan hewan peliharaan, serta kacang panjang.

“Kami menilai dinamika harga di Kabupaten Berau masih dipengaruhi faktor musiman, khususnya kondisi cuaca dan pasokan komoditas pangan,” tutupnya.(aja/arp)

Editor : Nurismi
#inflasi #ikan #Kabupaten Berau