Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Sekadar Taman, Wajah Baru Tepian Museum Gunung Tabur Jadi Media Sejarah!

Beraupost • Senin, 5 Januari 2026 | 10:45 WIB
EDUKASI SEJARAH: Revitalisasi kawasan tepian Gunung Tabur tak hanya sekadar peremajaan kawasan, melainkan juga jadi wisata edukasi bagi masyarakat. (SENO/BP)
EDUKASI SEJARAH: Revitalisasi kawasan tepian Gunung Tabur tak hanya sekadar peremajaan kawasan, melainkan juga jadi wisata edukasi bagi masyarakat. (SENO/BP)

BERAU POST – Penataan kawasan tepian sungai di depan Museum Gunung Tabur tidak lagi dipandang sebatas pembangunan infrastruktur fisik.

Pemerintah Kabupaten Berau justru menghadirkan pendekatan berbeda dengan memasukkan unsur budaya dan sejarah dalam desain kawasan tersebut.

Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau, penataan kawasan diarahkan agar berfungsi ganda sebagai ruang publik sekaligus media edukasi bagi masyarakat.

Konsep ini diterapkan untuk memperkuat nilai historis kawasan yang lekat dengan perjalanan Kesultanan Gunung Tabur.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA), DPUPR Berau, Hendra Paranata menjelaskan, pekerjaan penataan tepian sungai tersebut telah dimulai sejak awal tahun anggaran 2025 dan merupakan bagian dari rangkaian penanganan kawasan sungai di wilayah Gunung Tabur.

Namun, penataan di titik depan museum memiliki konsep tersendiri dibandingkan segmen lainnya.

Hal itu dilakukan karena kawasan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah dan identitas daerah.

“Di lokasi depan museum, konsepnya memang kami bedakan karena nilai sejarahnya sangat kuat,” jelasnya belum lama ini.

Hendra menyebutkan, desain kawasan dibuat bertema agar pengunjung tidak hanya menikmati ruang terbuka, tetapi juga dapat mengenal kembali perjalanan sejarah Gunung Tabur.

Pendekatan ini diharapkan mampu memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Ini bukan sekadar penataan kawasan, tetapi upaya menghadirkan kembali nilai sejarah dan budaya,” ujarnya.

Pada sejumlah pilar yang dibangun di kawasan tersebut, tercantum nama tokoh-tokoh penting beserta tahun perjalanan sejarah Kesultanan Gunung Tabur.

Elemen ini dirancang sebagai sarana pembelajaran terbuka bagi pengunjung, terutama kalangan muda yang selama ini lebih akrab dengan informasi digital.

“Anak-anak muda bisa membaca, lalu tertarik mencari tahu lebih jauh tentang tokoh dan peristiwa masa lalu,” katanya.

Selain itu, kawasan juga dilengkapi dengan replika meriam serta ornamen bambu yang merepresentasikan simbol perjuangan dan kearifan lokal masyarakat Gunung Tabur.

Setiap elemen yang dihadirkan memiliki makna dan tidak ditempatkan secara sembarangan.

“Kami ingin pembangunan tetap terhubung dengan sejarah yang dimiliki daerah ini,” ungkapnya.

Untuk nilai pekerjaan, Hendra mengungkapkan anggaran penataan di zona depan keraton berada pada kisaran Rp 10 hingga Rp 11 miliar dalam satu paket kegiatan.

Jika dukungan anggaran memungkinkan, konsep penataan bernuansa budaya tersebut dapat diperluas ke segmen lain di kawasan tepian sungai.

“Harapannya kawasan ini tidak hanya tertata secara fisik, tapi juga menjadi ruang publik yang menghidupkan kembali identitas budaya Gunung Tabur,” tandasnya. (sen/arp)

Editor : Nurismi
#Penataan Kawasan #Kabupaten Berau #Gunung Tabur #pemkab berau #kesultanan