Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Diskoperindag Berau Lirik Potensi Pandan Sei Bebanir Bangun untuk Tembus Pasar Kerajinan

Beraupost • Rabu, 31 Desember 2025 | 09:10 WIB
PELATIHAN ANYAMAN: Hasil dari pelatihan anyaman pandan yang dilakukan Diskoperindag Berau bekerja sama dengan pihak ketiga di Kampung Sei Bebanir Bangun. (DISKOPERINDAG BERAU UNTUK BERAU POST)
PELATIHAN ANYAMAN: Hasil dari pelatihan anyaman pandan yang dilakukan Diskoperindag Berau bekerja sama dengan pihak ketiga di Kampung Sei Bebanir Bangun. (DISKOPERINDAG BERAU UNTUK BERAU POST)

BERAU POST – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) memberikan pelatihan kerajinan anyaman pandan kepada masyarakat di Kampung Sei Bebanir Bangun, Kecamatan Sambaliung.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita mengatakan, pengembangan kerajinan berbasis potensi lokal ini melibatkan pihak ketiga sebagai mitra pendukung kegiatan.

Dengan menyasar masyarakat setempat, agar mampu mengolah bahan baku alami yang selama ini ada, namun belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan ekonomi.

Pelatihan tersebut juga dilatarbelakangi oleh potensi bahan baku pandan yang selama ini tumbuh alami di kampung tersebut, dan sudah dimanfaatkan masyarakat, meski masih terbatas pada produk tertentu.

Selama ini, kata dia, pandan lebih banyak diolah menjadi tikar dan belum dikembangkan menjadi produk kerajinan lain yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan peluang pasar yang lebih luas. Salah satu produk yang dikembangkan adalah tas wanita.

“Kami lihat potensi bahan baku yang bisa diolah lebih lanjut dan bisa bernilai ekonomis adalah daun pandan. Selama ini masyarakat Sei Bebanir Bangun baru mengolah untuk produk tertentu saja, seperti tikar,” terangnya.

Pihaknya melihat adanya peluang untuk mengembangkan pandan menjadi berbagai produk anyaman lain yang bernilai ekonomis, sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat kampung.

Karena itu, pelatihan ini diarahkan untuk memperluas keterampilan masyarakat, baik bagi mereka yang sudah terbiasa menganyam maupun bagi warga yang masih pemula, agar memiliki kemampuan dasar yang sama dalam mengolah bahan baku tersebut.

Lanjutnya, pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari tersebut merupakan langkah awal untuk memperkenalkan teknik dan variasi produk anyaman pandan.

Namun, pelatihan singkat saja belum cukup untuk menghasilkan produk yang benar-benar layak dipasarkan dan mampu bersaing.

“Diharapkan kemampuan perajin lokal dapat terus berkembang, baik dari sisi teknik, kualitas produk, maupun pemahaman terhadap kebutuhan pasar,” jelasnya.

Diakui Eva, saat ini bahan baku pandan yang digunakan masih sepenuhnya berasal dari tanaman yang tumbuh alami di Kampung Sri Bebanir Bangun.

“Kalau produk sudah bagus dan pasarnya terbuka, tentu bahan baku harus dipikirkan agar produksinya bisa berkelanjutan,” katanya.(aja/arp)

 

 

Editor : Nurismi
#Diskoperindag Berau #anyaman pandan #dekranasda