BERAU POST – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau membangun pos jaga di kawasan Tepian Ahmad Yani dengan nilai anggaran sebesar Rp 249 juta.
Pembangunan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan fasilitas pendukung di salah satu kawasan wisata kuliner andalan di Kota Tanjung Redeb.
Staf Bidang Pengembangan Pariwisata, Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Disbudpar Berau, Andi Nursyamsi menjelaskan, pembangunan pos jaga tersebut didasari oleh kebutuhan akan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung maupun pedagang yang beraktivitas di kawasan tepian.
“Pos jaga itu dibangun di area Tepian Ahmad Yani. Karena ini kawasan wisata, tentu harus ada fasilitas yang bisa membuat pengunjung merasa aman dan nyaman. Salah satunya dengan adanya pos jaga,” ujarnya, katanya kepada Berau Post, Selasa (16/12).
Selama ini, kata dia, keluhan kerap disampaikan pedagang maupun pengunjung terkait aktivitas parkir kendaraan besar, terutama truk-truk yang antre bongkar muat di kawasan pelabuhan.
Kondisi tersebut paling sering terjadi pada pagi hingga siang hari dan dinilai mengganggu kenyamanan kawasan tepian.
Di sisi lain, aktivitas wisata di Tepian Ahmad Yani justru berlangsung pada sore hingga malam hari. Pada jam-jam tersebut, kawasan dinilai cukup rawan karena minim pengawasan.
Dengan adanya pos jaga, diharapkan petugas seperti Satpol PP maupun Dinas Perhubungan yang berjaga dapat terbantu dalam menjalankan tugas pengamanan.
“Wisata tepian ini buka dari sore sampai malam. Malam hari rawan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau ada petugas berjaga di pos, tentu bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung,” jelasnya.
Penentuan lokasi pos jaga tersebut merupakan hasil rapat bersama para pedagang kaki lima atau sari laut yang berjualan di kawasan tersebut.
Pos jaga ditempatkan tidak jauh dari landmark Berau agar mudah terlihat dan strategis untuk pengawasan.
Awalnya, ukuran bangunan direncanakan lebih besar tapi kemudian disesuaikan lagi, karena mengambil sedikit ruang trotoar.
Namun tetap dipastikan tidak menghilangkan fungsi trotoar bagi pejalan kaki dan disabilitas.
Disbudpar juga menekankan pos jaga ini tidak dibangun dengan konsep seadanya.
Desain bangunan disesuaikan dengan konsep kawasan tepian yang sudah ada agar terlihat serasi dan estetik.
“Kami tidak ingin pos jaga ini seperti pos jaga biasa. Konsepnya mengikuti konsep tepian. Desainnya diperindah, ada variasi, sudah termasuk interior di dalamnya. Supaya petugas yang berjaga juga merasa nyaman,” katanya.
Karena itu, anggaran pembangunan tidak hanya digunakan untuk bangunan fisik. Pos jaga tersebut dilengkapi interior, toilet ramah lingkungan, serta fasilitas pendukung lainnya.
Selain itu, anggaran juga mencakup pengadaan dan pemasangan CCTV di delapan titik yang tersebar di sepanjang Tepian Ahmad Yani sepanjang 450 meter. Sistem pengeras suara dan instalasi pendukung lainnya juga turut disiapkan.
Dengan penambahan fasilitas tersebut, Disbudpar berharap kawasan ini bisa “naik kelas” menjadi destinasi wisata yang lebih tertata, aman, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Adapun pembangunan pos jaga ditargetkan selesai pada 30 Desember mendatang. Pekerjaan dimulai sejak 20 November dan hingga kini progresnya dinilai sesuai rencana. “Kami optimistis bisa selesai tepat waktu, mudah-mudahan cuaca mendukung,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya juga akan menggelar rapat koordinasi lanjutan untuk membahas pihak yang akan bertugas menjaga pos tersebut agar fasilitas yang telah dibangun dapat difungsikan secara maksimal dan sesuai dengan perencanaan awal.
Salah seorang warga Tanjung Redeb, Eva mengatakan, keberadaan pos jaga tersebut diharapkan benar-benar memberikan manfaat bagi aktivitas di kawasan Tepian Ahmad Yani, khususnya bagi pelaku UMKM yang berjualan di lokasi tersebut.
Keberadaan pos jaga akan berdampak positif apabila difungsikan secara optimal, tidak hanya sebagai bangunan pelengkap kawasan wisata.
Ia berharap pos jaga tersebut tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi juga diiringi dengan kehadiran petugas yang rutin berjaga, terutama pada jam-jam ramai pengunjung di sore hingga malam hari.
“Kalau memang benar-benar dimanfaatkan, dan ada yang berjaga, tentu bermanfaat bagi pelaku UMKM,” ujarnya. Fasilitas yang dibangun dengan anggaran cukup besar itu dapat dijaga dan dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
“Semoga benar-benar dimanfaatkan, jangan hanya jadi bangunan saja. Kalau ada petugas dan pengawas, suasana lebih tertib dan pengunjung juga merasa lebih nyaman,” katanya.
Sementara itu, salah seorang pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Tepian Ahmad Yani menyambut baik pembangunan pos jaga tersebut. Diakuinya, keberadaan pos jaga sangat dibutuhkan untuk menunjang keamanan saat berjualan, terutama pada malam hari.
“Kami para pedagang merasa lebih tenang kalau ada pos jaga. Selama ini kalau malam memang agak rawan, apalagi kalau ramai pengunjung. Dengan adanya petugas berjaga, pembeli juga pasti lebih nyaman datang ke sini,” ujarnya.
Ia berharap, setelah pos jaga beroperasi, pengawasan bisa dilakukan secara rutin dan konsisten.
Menurutnya, peningkatan keamanan akan berdampak langsung pada peningkatan jumlah pengunjung dan pendapatan UMKM di kawasan wisata tersebut. Terlebih adanya CCTV tentu akan membuat tingkat kriminalitas menurun.
“Kalau aman dan tertib, pengunjung betah, otomatis jualan kami juga ikut ramai. Mudah-mudahan fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal,” tutupnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi