Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bontang Perluas Cakupan Timbang Balita: Gunakan DDST dan Kumpulkan Data Usia Pernikahan Dini

Beraupost • Jumat, 7 November 2025 | 09:10 WIB
ZOOM MEETING: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat mengikuti rapat koordinasi tentang Operasi Timbang Serentak. (KMF-FIRMAN)
ZOOM MEETING: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat mengikuti rapat koordinasi tentang Operasi Timbang Serentak. (KMF-FIRMAN)

BERAU POST - Operasi Timbang Serentak Tahun 2025, yang akan berakhir pada Jumat (8/11) diawali dengan rapat koordinasi melalui zoom meeting di Ruang Command Center, Kantor Wali Kota Bontang Lestari, dan 15 Posyandu Kelurahan, Selasa (4/11) lalu.

Rapat tersebut diikuti Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, bersama jajaran Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (DSPM), serta Ketua TP PKK Nur Kalbi Agus Haris.

Dalam arahannya, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyampaikan kegiatan timbang serentak ini menargetkan 100 persen balita di Bontang terdata secara lengkap.

Ia menekankan pentingnya kegiatan tersebut dalam pemantauan tumbuh kembang anak sebagai langkah nyata mencegah stunting dan gizi buruk.

“Saya mengajak seluruh masyarakat, terutama para orang tua balita, untuk berpartisipasi aktif dalam operasi timbang serentak ini,” ungkapnya.

“Pemantauan pertumbuhan anak adalah tanggung jawab bersama demi memastikan setiap anak Bontang tumbuh sehat dan kuat,” tambah Neni.

Bunda Neni juga menegaskan, melalui Puskesmas dan Posyandu, pemerintah akan terus menggencarkan kampanye edukasi manfaat penimbangan balita serta pemantauan status gizi.

Selain fokus pada stunting, operasi timbang tahun ini juga meliputi penilaian efektivitas pemberian makanan tambahan (PMT) dan susu yang telah diberikan selama beberapa bulan terakhir.

“Kami tidak ingin ada kasus stunting baru. Stunting yang ada pun harus turun signifikan. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengukur efektivitas program intervensi gizi yang sudah berjalan,” katanya.

Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, operasi timbang serentak periode kedua ini dilengkapi dengan metode DDST (Denver Developmental Screening Test) untuk menilai perkembangan anak secara psikologis dan fisik.

Selain itu, petugas juga akan mengumpulkan data tambahan terkait usia ibu saat melahirkan pertama kali dan usia pernikahan, guna mengendalikan potensi pernikahan usia dini yang menjadi salah satu faktor risiko stunting.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Bontang, Bambang Sri Mulyono menjelaskan, operasi timbang serentak jilid dua ini akan berlangsung mulai 4 hingga 8 November, melibatkan 124 Posyandu yang tersebar di 15 kelurahan.

“Kegiatan ini tidak hanya sekadar mengukur berat dan tinggi badan balita, tetapi juga memperluas cakupan data kesehatan anak. Penimbangan dilakukan tidak hanya di Posyandu, melainkan juga melalui sweeping ke rumah warga,” terang Bambang.

Menurutnya, pelaksanaan operasi timbang melibatkan berbagai unsur pemerintah, mulai dari kecamatan, kelurahan, hingga organisasi perangkat daerah (OPD), guna memastikan seluruh balita di Kota Bontang terpantau kesehatannya.

Dengan sinergi lintas sektor tersebut, Pemkot Bontang berharap Operasi Timbang Serentak 2025 dapat menjadi langkah strategis dalam menurunkan angka stunting dan memperkuat komitmen terhadap pemenuhan hak anak untuk tumbuh sehat dan cerdas. (adv/arp)

Editor : Nurismi
#stunting #Operasi Timbang #pemkot bontang