BERAU POST– Wakil Bupati Berau, Gamalis prihatin terhadap masih sering terjadinya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah Kabupaten Berau.
Sekaligus mendesak seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait tidak tinggal diam dengan isu perlindungan anak dan perempuan.
“Saya tidak ingin kita hanya sekadar memberikan arahan dari balik meja. Permasalahan ini nyata, dan menyentuh langsung masyarakat kita,” jelasnya.
“Karena itu, OPD terkait harus hadir di tengah-tengah masyarakat, bukan hanya dalam bentuk instruksi, tetapi melalui aksi nyata di lapangan,” sambung Gamalis.
Menurutnya, penanganan kekerasan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi dan menyentuh akar persoalan.
Salah satu cara paling efektif, lanjut Gamalis, dengan melakukan edukasi langsung ke masyarakat, menggandeng seluruh elemen mulai dari aparatur kecamatan hingga kampung.
“Kita harus gandeng camat, kepala kampung, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Mereka punya peran penting untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan kekerasan. Jangan biarkan korban merasa sendiri atau takut berbicara,” ujarnya.
Gamalis juga menegaskan, keberadaan peraturan dan kebijakan tidak cukup tanpa penguatan pada tataran implementasi.
Apalagi masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh bentuk-bentuk kekerasan, termasuk kekerasan verbal, psikis, hingga kekerasan dalam rumah tangga yang kerap dianggap ‘biasa’.
“Banyak dari mereka yang bahkan tidak sadar kalau yang dialaminya termasuk kekerasan. Ini masalah serius. Kalau kita turun langsung dan memberikan pemahaman, pelaku pun akan berpikir dua kali sebelum melakukan kekerasan,” ungkapnya.
Wakil Bupati juga mengajak semua elemen untuk membangun lingkungan yang aman dan ramah bagi anak serta perempuan.
Serta mengingatkan upaya perlindungan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu dinas saja, melainkan harus melibatkan lintas sektor.
“Ini bukan tanggung jawab satu pihak. Ini tanggung jawab bersama. Sekolah, keluarga, lingkungan, dan pemerintah harus bersatu dalam melindungi anak-anak dan perempuan dari kekerasan,” katanya.
Gamalis menilai tindakan pencegahan jauh lebih baik daripada penindakan. Karena itu, edukasi dan kampanye kesadaran harus menjadi agenda rutin, terutama di daerah-daerah yang memiliki kasus kekerasan tinggi.
Tak hanya berhenti pada pencegahan, ia juga mendorong agar para korban diberikan ruang aman untuk melapor, mendapat perlindungan, dan pendampingan psikologis.
“Korban sering kali bungkam karena takut, malu, atau tidak tahu ke mana harus mengadu. Kita harus buka jalan selebar-lebarnya bagi mereka untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan. Jangan sampai mereka jadi korban dua kali, karena sistem kita gagal melindungi,” pungkasnya.(aky/adv/arp)
Editor : Nurismi