Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

PPU Minim SLB, Tantangan Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus.

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Jumat, 29 November 2024 | 12:28 WIB
Kepala Disdikpora, Andi Singkerru.
Kepala Disdikpora, Andi Singkerru.

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menghadapi tantangan besar dalam penyediaan pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.  Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Andi Singkerru, mengungkapkan, bahwa saat ini hanya ada satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di kabupaten tersebut. Minimnya fasilitas ini memaksa sebagian besar orangtua menyekolahkan anak-anak berkebutuhan khusus mereka di sekolah umum.

Kondisi ini menjadi tantangan besar karena anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan berbeda dalam proses belajar-mengajar. Mereka sering kesulitan mengikuti ritme pembelajaran yang dirancang untuk anak-anak lain. “Dampaknya ya memang proses belajarnya harus lambat untuk mengikuti temannya yang lain,” ujar Andi Singkerru, ditemui dalam suatu kesempatan, belum lama ini.

Andi menyoroti pentingnya peran guru dalam mendidik anak berkebutuhan khusus. Ia menekankan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga melatih dan mendidik, terutama dalam membangun moral dan kepribadian anak. Guru tidak boleh hanya melepas tanggung jawab kepada orangtua di rumah. Pendidikan itu harus terintegrasi, baik di sekolah maupun di rumah.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di PPU, pemerintah daerah melalui Disdikpora PPU telah bekerja sama dengan Yohanes Surya, seorang ahli pendidikan, dalam program peningkatan kemampuan matematika dan sains. Program ini diharapkan dapat melahirkan talenta yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional. Namun upaya tersebut menghadapi hambatan, terutama karena lambatnya adaptasi anak-anak berkebutuhan khusus dalam sistem pendidikan yang ada.

“Kami bahkan bermimpi anak-anak kita bisa mengikuti olimpiade matematika, seperti siswa berprestasi di Papua yang berhasil menjadi juara matematika sampai Finlandia,” ungkapnya.

Ia berharap para guru di PPU siap menghadapi kebutuhan khusus siswa. Ini menjadi tugas besar pemerintah daerah untuk memastikan guru memiliki kompetensi dan strategi yang tepat. Minimnya fasilitas pendidikan khusus di PPU, mencerminkan tantangan yang lebih besar dalam sistem pendidikan daerah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan pendidikan inklusif yang merata bagi semua anak. (adv/ppu/udi)

Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#Penajam Paser Utara (PPU)