Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tingkatkan Produktivitas Jagung, DTPHP Beri 44 Ribu Liter Pupuk Hayati

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Senin, 5 Februari 2024 | 08:00 WIB
BANTUAN PUPUK: Salah satu komoditas pangan yang mendapat bantuan pupuk hayati dari DTPHP Berau.
BANTUAN PUPUK: Salah satu komoditas pangan yang mendapat bantuan pupuk hayati dari DTPHP Berau.

TANJUNG REDEB - Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau memberikan bantuan pupuk hayati kepada para petani jagung.

Bantuan yang diberikan pun sebanyak 44.500 liter pupuk. Dengan harapan produktivitas para petani kembali meningkat.

Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman DTPHP Berau, Bambang Sujatmiko menyampaikan, sejak lama para petani di Kabupaten Berau telah memakai pupuk kimia. Sehingga menyebabkan tingkat kesuburan tanah menurun. Ditambah tingkat keasaman tanah di Berau cukup tinggi, sekitar 4-5 pH. 

Dijelaskannya, ada tiga kriteria kesuburan tanah, yakni fisik tanah harus gembur, kimia yang berupa pH tanah yang standar antara 6-7 dan terakhir geologi. Dengan menaikkan pH tanah penyerapan unsur hara akan lebih maksimal.

Jika pH tanah rendah artinya pupuk yang diberikan tidak akan maksimal diserap oleh tanaman. Sehingga, pihaknya akan mulai menggenjot petani untuk menggunakan pupuk hayati.

“Kita sudah puluhan tahun pakai pestisida kimia, jarang yang pakai pupuk alami. Sehingga tingkat kesuburan tanah menurun,” ucapnya. 

Arahan tersebut juga tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 bahwa diperlukan jenis pupuk lain untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

Dengan penggunaan pupuk hayati tersebut, pemakaian pupuk kimia bisa dipangkas hingga 50 persen. Meskipun disadarinya kuota atau alokasi pupuk subsidi rendah.

Tahun lalu pihaknya juga telah merealisasikan bantuan pupuk hayati sebanyak 88.367 liter untuk para petani. Yang diprioritaskan untuk tanaman pangan dan hortikultura bagi 10 kecamatan yang potensial pada sektor pertanian. Di antaranya 98 kelompok tani untuk pupuk cair dan 17 kelompok lainnya untuk pupuk padat. 

“Sedangkan, prioritas kami tahun ini tetap di tanaman pangan dan hortikultura, tapi akan lebih fokus pada komoditas jagung,” jelasnya. 

Diakuinya, produktivitas jagung di Berau semakin tahun semakin menurun. Yang dipengaruhi berbagai faktor. Makanya, DTPHP Berau akan kembali meningkatkan produksi termasuk luasannya. Tapi pihaknya tidak bisa bergerak sendiri dan butuh dukungan berbagai pihak. 

“Sesuai arahan bupati Berau untuk meningkatkan produksi jagung maka bantuan pupuk hayati akan banyak diberikan ke daerah pesisir sebagai sentranya,” ungkapnya. 

Adapun produksi pupuk hayati tersebut berasal dari Pulau Jawa. Serta sudah banyak testimoni yang bagus dari kabupaten/kota lain di Indonesia yang menggunakan pupuk tersebut. Bahkan, petani jagung di Talisayan juga sudah merasakan perubahan pada ladangnya. 

“Tapi bantuan ini hanya stimultan. Untuk memperbaiki kesuburan tanah harus dilakukan secara kontinyu. Tidak bisa hanya diberikan sekali saja,” tegasnya. 

Pihaknya akan terus memonitoring penggunaan pupuk hayati yang telah diberikan sejak tahun lalu. Terutama bagi peningkatan tanamannya. Sekaligus juga akan melakukan sinkronisasi program dengan provinsi yang akan memberikan bantuan benih jagung untuk 1.000 hektare (Ha). 

“Dengan bantuan bibit jagung hibrida dari provinsi dan disusul dengan pupuk hayati dinilai akan meningkatkan produksi jagung di Berau,” terangnya. 

Untuk saat ini diakui Bambang, belum ada distributor resmi di Kabupaten Berau yang menjual pupuk tersebut. Pihaknya juga telah meminta kepada pihak produsen untuk membuka distributor resmi di Berau. 

“Kami sudah minta agar di Berau ada distributor resminya. Karena itu jadi pertanyaan para petani juga di mana membelinya,” tutupnya. (*/aja/arp)

Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #bibit jagung #pupuk