Minta Pemkab Tak Hanya Fokus Pembangunan Baru, Makmur HAPK Ingatkan Perawatan Aset

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:40 WIB
Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Makmur HAPK.  (BERAU POST)
Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Makmur HAPK.  (BERAU POST)

BERAU POST – Sejumlah fasilitas daerah yang dibangun melalui proses panjang dan melibatkan kontribusi para pemimpin terdahulu dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Perawatan terhadap aset tersebut tidak hanya menyangkut keberlangsungan fungsi fasilitas, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap sejarah pembangunan Kabupaten Berau.

Hal itu disampaikan Bupati Berau periode 2005–2015 yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD Kalimantan Timur, Makmur HAPK.

Ia menyoroti kondisi sejumlah fasilitas daerah, termasuk Bumi Perkemahan (Buper) Mayang Mangurai serta sejumlah sarana olahraga dan fasilitas lainnya yang dibangun pada masa kepemimpinan sebelumnya.

Menurut Makmur, fasilitas yang telah dibangun dengan anggaran besar seharusnya tidak dibiarkan mengalami penurunan kondisi. Pemerintah daerah perlu memastikan aset-aset tersebut dirawat dan dimanfaatkan secara optimal. 

“Fasilitas yang sudah dibangun itu harus dirawat. Jangan sampai setelah dibangun kemudian tidak diperhatikan. Karena itu merupakan aset daerah dan juga bagian dari sejarah pembangunan Berau,” ujarnya.

Salah satu yang menjadi perhatian Makmur adalah Buper Mayang Mangurai. Ia menjelaskan, pembangunan kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dan dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak.

Makmur menyebut pembangunan Buper Mayang Mangurai dilakukan bersama Bupati Berau, Masdjuni, serta sejumlah perusahaan swasta.

Kawasan tersebut, lanjutnya, dirancang sebagai bumi perkemahan permanen dan menjadi salah satu kebanggaan Berau karena memiliki kawasan perkemahan yang cukup representatif di Kalimantan Timur. 

“Waktu itu Pak Masdjuni melihat bahwa untuk kawasan perkemahan tidak bisa hanya menitip-nitip tempat. Karena itu dicetuskan kawasan Buper yang tetap,” jelasnya.

Yang menarik, pembangunan Buper Mayang Mangurai juga tidak sekadar berorientasi pada fungsi perkemahan. Kawasan tersebut turut menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman budaya yang ada di Berau.

Makmur mengungkapkan, terdapat kolaborasi tiga suku besar yang hidup di Berau, yakni Banua, Bajau, dan Dayak. Masing-masing diberikan ruang untuk menampilkan motif khas melalui seni ukir pada kayu yang disediakan oleh pihak Inhutani.

Menurutnya, perpaduan tersebut menjadi simbol kebersamaan masyarakat Berau yang terdiri dari beragam latar belakang budaya.

“Di sana ada perpaduan budaya Banua, Bajau dan Dayak. Mereka mengukir motif masing-masing. Itu menjadi bagian dari sejarah dan simbol kebersamaan masyarakat Berau,” katanya.

Tidak hanya Buper Mayang Mangurai, Makmur juga menyoroti sejumlah fasilitas olahraga. Salah satunya Stadion Mini yang berada di Kecamatan Teluk Bayur.

Menurutnya, fasilitas olahraga tersebut merupakan aset daerah yang dibangun menggunakan anggaran tidak sedikit. Karena itu, keberadaannya harus dijaga agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat. 

“Termasuk stadion mini di Teluk Bayur. Itu juga harus dijaga. Anggaran yang digunakan untuk membangun tentu tidak sedikit. Kalau tidak dirawat, lama-lama rusak dan akhirnya tidak bisa dimanfaatkan,” tegasnya.

Makmur mengaku beberapa waktu terakhir sempat mengunjungi sejumlah fasilitas daerah yang dibangun pada masa kepemimpinannya maupun pada periode kepemimpinan kepala daerah sebelumnya.

Dari kunjungan tersebut, ia melihat pentingnya perhatian berkelanjutan terhadap fasilitas yang sudah tersedia.

Menurut dia, pembangunan daerah tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak bangunan baru yang berhasil didirikan. Perawatan terhadap fasilitas yang sudah ada juga menjadi bagian penting dari pembangunan. 

“Jangan hanya berpikir membangun yang baru. Yang sudah ada juga harus diperhatikan dan dirawat. Itu bagian dari tanggung jawab kita,” katanya.

Bahkan Makmur juga menyebut bahwa dengan adanya stemen ini dirinya berharap bisa menjadi perhatian bagi kepala daerah saat ini.

Menurutnya, ini merupakan gambaran agar kepemimpinan bupati/wakil bupati saat ini bisa menghargai apa yang telah ditinggalkan para pemimpin dahulu.

“Saya bicara seperti ini karena saya masih ada, dan jika ada yang keberatan maka bisa datang dan berdiskusi nanti akan saya jabarkan semua secara rincih,” tutupnya. (aky/hmd)

Editor : Nurismi
Buper Mayang terbengkalai pemkab berau